Tampilkan postingan dengan label Cerita dan Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita dan Kisah. Tampilkan semua postingan

Kisah Horor Penjelajahan Luar Angkasa

Kisah "Horor" Penjelajahan Luar Angkasa


Berawal dari peluncuran satelit sebesar bola basket pada 4 Oktober 1957, Sputnik 1, Uni Soviet memulai apa yang disebut sebagai "Space Age" yang mengubah dunia.

Sejak saat itulah, penjelajahan luar angkasa dilakukan, termasuk mengirim manusia ke luar bumi.

Tak semua misi berhasil, beberapa di antaranya berujung tragedi. Lupakan soal campur tangan alien, meninggalkan atmosfer Bumi sendiri sudah berbahaya. Ada sejumlah episode mengerikan, aneh, dan tidak masuk akal yang terjadi.

Berikut sejumlah cerita mengerikan yang terjadi di luar angkasa seperti dilansir Discovery. Yang mungkin mampu membuat bulu kuduk merinding.

1. Bangkai mahluk hidup di luar angkasa

Sebelum akhirnya berhasil mengirimkan para kosmonot dan astronot, eksplorasi luar angkasa mengorbankan banyak nyawa binatang. Monyet, anjing, dan simpanse.

Sementara ide mengorbankan hewan di "altar" ilmu pengetahuan mungkin tidak tepat, namun fakta ada banyak hewan jenis simian dan canine  yang mati di luar angkasa menjadi cerita mengerikan. Ini menimbulkan banyak teori bahwa mungkin ada lusinan hewan yang menjadi mumi yang hingga saat ini masih membuat putaran orbit. Hal yang sama bisa jadi juga menimpa manusia.

2. Risiko jadi makanan serigala

Tak hanya ketika menembus atmosfer, para penjelajah luar angkasa juga menghadapi risiko saat mendarat ke bumi. Seperti yang dialami Alexei Leonov, kosmonot Uni Soviet.Pada 18 Maret 1965, ia berhasil menjadi manusia pertama yang berjalan kaki di luar angkasa atau extra-vehicular activity (EVA). Karena mengalami kebocoran udara dan sejumlah material yang kaku, ia buru-buru masuk kembali ke dalam kapsulnya.

Sebuah usaha yang susah payah, karena ia harus menurunkan tekanan pakaian luar angkasanya dan risiko berebut masuk dalam kapsul.

Saat pesawat berhasil kembali ke Bumi, ia mendarat di Pegunungan Ural, di mana Leonov dan komandannya dipaksa menunggu pasukan penyelamat di tengah lolongan serigala lapar.

3. Toilet mengerikan

Pada 5 Mei 1961, Alan Shepard memakai popok dewasa saat mengangkasa menggunakan Freedom 7. Namun, fasilitas kamar mandi di pesawat Apollo jauh lebih buruk, sebelum perbaikan signifikan dilakukan.

Dalam misi Mercury, Gemini, dan Apolo, para kru secara faktual mengenakan kapsul. Mereka hidup di tempat duduk mereka, melakukan segala sesuatu yang personal di sana, seperti makan, tidur, buang air kecil, apapun.

Urin dikumpulkan dalam wadah yang menempel pada tubuh, kantong mirip kondom yang punya tiga pilihan: kecil, sedang atau besar.

Untuk buang air besar, para astronot pertama menempelkan tas plastik pada bagian pantat. Saat selesai membuang hajat, ia akan menutup tas tersebut, meremas-remasnya, mencampur cairan pembunuh bakteri dengan kotoran di dalamnya. Meski dalam kacamata para insinyur ini cara efektif, untuk para astronot, sangat mengerikan.

4. Dekompresi

Ini adalah salah satu fakta mengerikan dalam perjalanan luar angkasa. Dekompresi.

Semua kru Soyuz 11 yang berjumlah tiga orang, Vladislav Volkov, Georgi Dobrovolski dan Viktor Patsayev, tewas akibat penurunan tekanan ketika mempersiapkan diri untuk kembali ke bumi. Ini adalah kematian pertama manusia yang terjadi di luar angkasa.

Sebelumnya, seorang teknisi Johnson Space Center, Houston menceritakan pengalamannya mengalami dekompresi ketika berada di ruangan hampa udara. Ingatan terakhirnya sebelum kesadaran adalah sensasi kelembaban dalam lidahnya mulai mendidih.

Hingga saat ini belum ada kesepakatan di kalangan ilmuwan tentang gejala dekompresi mendadak, namun ada di antara kemungkinan itu adalah daging yang membengkak, darah yang menguap, bola mata pecah, dan paru-paru meledak.

5. Seks di luar angkasa

Topik ini dianggap tabu, atau sebaliknya menarik bagi sejumlah orang. Namun seks dalam ruangan nyaris tanpa bobot menjadi masalah yang harus dipecahkan dalam misi penjelajahan luar angkasa jangka panjang. Termasuk bagi masa depan umat manusia yang di masa depan mungkin tinggal di luar bumi.

Baik Amerika Serikat maupun Uni Soviet mengeksplorasi topik ini dari sudut pandang kedokteran. Termasuk menciptakan baju yang memungkinkan pemenuhan kebutuhan biologis itu.

Mungkin berhubungan seksual di luar angkasa tak semenarik dalam benak penggemar sains fiksi, justru mungkin tampak aneh dan menyeramkan.


http://teknologi.news.viva.co.id/news/read/364173-kisah--horor--penjelajahan-luar-angkasa

Kisah Muammar Gaddafi

Kisah Muammar Gaddafi


Bagaimana Anda bisa menggambarkan seseorang seperti Muammar Gaddafi? Selama hidupnya 60 tahun lebih, pemimpin Libia ini muncul di panggung dunia dengan gaya yang begitu unik. Istilah "eksentrik" atau "maverick" atau "nyeleneh" tidak cukup bisa menggambarkan dia.

Selama kepemimpinannya, dia menjadi pahlawan revolusi hingga menjadi paria internasional, lalu akhirnya menjadi mitra strategis dan sekarang kembali menjadi paria.

Dia mengembangkan falsafah politiknya sendiri, menulis buku yang menurut penulisnya, begitu berpengaruh sampai-sampai mengalahkan apa pun yang diimpikan oleh Plato, Locke ataupun Marx.

Dia hadir dalam berbagai pertemuan internasional dan Arab, terlihat sangat menonjol, bukan hanya karena gaya berpakaiannya yang menyolok dan mewah tetapi juga pidatonya yang blak-blakan dan perilakunya yang tidak biasa.

Seorang pengamat Arab baru-baru ini menjuluki dia "Picassonya politik Timur Tengah".
Janji awal
Gaddafi dan Jamal Abdul Naser

Gaddafi mengagumi pendiri Mesir, Jamal Abdul Naser

Dalam zaman jayanya yaitu ketika mulai berkuasa lewat kudeta militer tak berdarah tahun 1969, Muammar Gaddafi adalah perwira militer yang muda, tampan dan berkharisma.

Pengikut Presiden Mesir pertama, Jamal Abdul Naser (dia bahkan ikut memakai pangkat militer yang sama, mempromosikan dirinya dari kapten menjadi kolonel setelah kudeta), Gaddafi pertama-tama menetapkan cara mengatasi warisan ketidakadilan ekonomi yang waktu itu sangat didominasi oleh pihak asing.

Bagi Nasser, ketidakadilan itu adalah Terusan Suez. Bagi Gaddafi, ketidakadilan itu adalah minyak.

Cadangan minyak ditemukan di Libia pada akhir tahun 50-an, tetapi pengeksploitasiannya dikuasai oleh perusahaan-perusahaan minyak asing. Mereka inilah yang menentukan harga sesuai dengan kebutuhan konsumen di dalam negeri mereka masing-masing. Selain itu mereka menikmati setengah dari pendapatan.

Kolonel Gaddafi menuntut perundingan ulang kontrak-kontrak itu dan mengancam akan menutup produksi jika perusahaan-perusahaan itu menolak.

Dia diingat karena mengancam para direktur perusahaan-perusahaan minyak asing dengan mengatakan bahwa "orang yang selama 5.000 tahun hidup tanpa minyak, masih bisa hidup tanpa minyak selama beberapa tahun lagi demi memperoleh hak mereka kembali".

Langkah itu berhasil dan Libia menjadi negara berkembang pertama yang mendapatkan bagian mayoritas dari pendapatan produksi minyak di negaranya. Negara-negara lain kemudian mengikuti preseden ini dan pada tahun 1970-an boom minyak Arab dimulai.

Libia berada dalam posisi paling strategis untuk menikmati keuntungan. Ketika itu tingkat produksinya sudah menyamai negara-negara Teluk dan Libia saat itu adalah negara terkecil di Afrika (dengan tiga juta penduduk pada saat itu), Libia dengan cepat meraup emas hitam ini.
Teori politik

Gaddafi tidak mengikuti doktrin nasionalisme Arab atau menunjukkan konsumerisme berlebihan yang melanda kawasan Teluk.
Buku hijau berisi doktrin Gaddafi

Gaddafi melahirkan teori sendiri selama berkuaa

Karakternya yang lincah mengantarkan dia dan Libia ke jalan yang baru.

Terlahir dari orang tua Badawi yang nomaden pada tahun 1942, Muammar Gaddafi jelas seorang pria yang pintar, penuh akal tetapi dia tidak menjalani sistem pendidikan yang ketat, selain belajar membaca al-Quran dan latihan militer.

Walau begitu, awal tahun 70-an dia membuktikan diri sebagai filusuf politik terkenal, mengembangkan satu teori bernama teori universal ketiga yang dipaparkannya secara mendalam dalam buku terkenalnya Green Book, Buku Hijau.

Teori dia menyelesaikan kontradiksi yang ada secara melekat dalam kapitalisme dan komunisme, guna mengantarkan dunia ke revolusi politik, ekonomi dan revolusi sosial dan membebaskan kalangan tertindas di manapun.
Petualangan di luar negeri

Berkat nihilnya tentangan terhadap pemerintahannya di dalam negeri, Kolonel Gaddafi berhasil membawa kampanyenya menentang imperialisme ke seluruh dunia.

Dia mendanai dan mendukung kelompok-kelompok militan dan gerakan perlawanan di manapun yang dia temui.

Dia juga menjadikan warga Libia di pengasingan sebagai sasaran. Puluhan di antara mereka diyakini tewas ditangan jaringan intelijen global Libia.

Jika banyak pemerintah tidak memperdulikan catatan hak asasi manusia mereka di dalam negeri dan menghukum para pembangkang di luar negeri, tindakan mendukung kelompok-kelompok teroris adalah masalah lain.
Gaddafi

"Tidak ada negara demokrasi kecuali Libia di seluruh muka bumi." "Di Timur Tengah, oposisi berbeda dengan oposisi di negara-negara maju. Di negara kami, oposisi berbentuk ledakan, pembunuhan". Pidatonya di depan Akademia AS, Maret 2006.

Satu pemboman di sebuah klub malam yang digunakan oleh para tentara Amerika Serikat di Berlin tahun 1986, yang dianggap dilakukan oleh agen Libia, terbukti merupakan titik balik.

Presiden Amerika Serikat Ronald Reagan memerintahkan serangan udara ke Tripoli dan Benghazi sebagai balasan atas kematian dua tentara Amerika, walaupun tidak ada bukti pasti selain "obrolan" bahwa Libia memerintahkan serangan itu.

Pembalasan Amerika itu bertujuan untuk membunuh "anjing gila Timur Tengah", seperti Reagan menjuluki Gaddafi.

Walau kerusakan parah dan sejumlah orang tewas di Libia, termasuk seperti yang diklaim Gaddafi, putri angkatnya, Kolonel Gaddafi justru muncul semakin kuat.

Reputasi dia bahkan semakin bersinar di antara para penentang kebijakan luar negeri Amerika yang terlalu keras.

Pemboman penerbangan Amerika Pan-Am nomor 103 diatas kota Lockerbie, Skotlandia pada tahun 1988 mempertegas sikap Amerika terhadap Libia.

Pemboman ini menewaskan 270 orang penumpang dan orang-orang yang ada di Lockerbie, ini adalah aksi terorisme terbesar yang pernah terjadi di Inggris Raya.

Keputusan Gaddafi menolak menyerahkan dua tersangka Libia ke aparat hukum Skotlandia, melahirkan sanksi-sanksi PBB terhadap Libia dan proses perundingan yang panjang. Akhirnya berakhir tahun 1999 dengan penyerahan kedua tersangka tersebut dan pengadilan terhadap mereka.

Salah satunya, Abdelbaset Ali al-Megrahi dijatuhi hukuman penjara seumur hidup, tetapi seorang lagi dinyatakan tidak bersalah.
Pengenduran

Penyelesaian kasus Lockerbie bersama-sama pengakuan Gaddafi soal program senjata pemusnah massal dan senjata nuklirnya yang tersembunyi dan keputusan dia untuk menghentikannya, membuka jalan bagi perbaikan hubungan Libia dengan Barat.

Namun 'anjing gila' yang mulai jinak itu kembali marah melihat intervensi militer pimpinan Amerika semasa presiden George W Bush di Irak tahun 2003.
Tony Blair mengunjungi Gaddafi di tendanya

Walaupun mulai diterima kembali oleh Barat, Gaddafi tetap dianggap paria oleh dunia Arab

Menurut berita, Kolonel Gaddafi menonton nasib Saddam Hussein yang mati digantung oleh warga Irak dan dia memetik pelajaran penting dari kasus ini.

Mungkin pantas kalau kita beranggapan bahwa Gaddafi menggunakan kartu senjata pemusnah massal ketika dia melihat memang ada untungnya menjalin kerjasama strategis dengan Amerika dan Eropa.

Dengan dicabutnya sanksi-sanksi internasional, Tripoli kembali masuk dalam agenda politik internasional.

Mantan Perdana Menteri Tony Blair termasuk di antara banyak kepala negara yang datang menyinggahi tenda Badawi milik Gaddafi yang mewah yang dipasang di istananya di Tripoli.

Ironisnya, justru di dunia Arab statusnya sebagai pemimpin paria belum bergeming.

Sepanjang tahun 2000-an, konferensi tingkat tinggi Liga Arab pasti terganggu dengan keeksentrikan pemimpin Libia ini.

Misalnya menyalakan rokok dan menghembuskan ke wajah pemimpin Arab yang duduk disebelahnya, atau menghina pemimpin negara-negara Teluk dan pemimpin Palestina, atau menyebut dirinya sebagai "raja dari para raja Afrika".

PBB juga mengalami keekstrentrikan Kolonel Gaddafi. Dalam rapat majelis umum tahun 2010, dia berpidato selama satu seperempat jam, padahal cuma diberi waktu sepuluh menit.

Dia berpidato sambil menyobek-nyobek Piagam PBB.


Pemberontakan

Ketika angin revolusi berhembus ke dunia Arab dari Tunisia pada bulan Desember 2010, Libia bukan berada dalam urutan teratas daftar "negara mana berikutnya".

Kolonel Gaddafi memang penguasa otoriter yang berkuasa puluhan tahun, tetapi dia tidak dipandang sebagai boneka Barat seperti layaknya pemimpin negara-negara Arab lain yang dituduh mementingkan kepentingan Barat daripada rakyatnya sendiri.

Dia membagi-bagikan kekayaan - dia juga memperkaya keluarganya sendiri dari industri minyak dan lain-lain, tetapi sulit membantah bahwa dia membagi-bagikan kekayaan lebih demi membeli kesetiaan rakyatnya daripada untuk mendorong persamaan.

Dia mensponsori pekerjaan umum yang besar seperti proyek pengadaan air buatan manusia yang terkenal bernama Klik Great Man-Made River yang memasok air segar ke negara gurun Libia.

Bahkan ada juga Tripoli Spring yaitu memberikan pemahaman kepada warga Libia di pengasingan bahwa mereka bisa pulang ke tanah air tanpa diadili atau dipenjara.

Ketika seruan "hari kemarahan" beredar pertama kali, Kolonel Gaddafi berjanji untuk ikut berdemonstasi dengan rakyat, sesuai dengan mitos yang dia kembangkan bahwa dia adalah "saudara pemimpin dalam revolusi" yang sudah lama memberikan kekuasaan kepada rakyat.

Ternyata, bau kebebasan serta kemungkinan menggulingkan Gaddafi, seperti halnya menjatuhkan Husni Mubarak dan Ben Ali, merupakan godaan yang terlalu kuat untuk ditentang diantara rakyat Libia, terutama di Libia Timur.

Beberapa rekaman awal pemberontakan dari Benghazi memperlihatkan anak-anak muda Libia menghancurkan monolit-monolit Buku Hijau di luar gedung pemerintah yang menggambarkan doktrin pembebasan Gaddafi.

Sangat mungkin, Kolonel Gaddafi akan membalas dengan segala kemampuannya agar tetap berkuasa. Tidak ada catatan di masa lalu yang mengisyaratkan dia akan menyerahkan kekuasaan.


http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2011/03/110326_muammargaddafistory.shtml

Wanita Terseksi di Dunia Pernah Diperkosa

Wanita Terseksi di Dunia Pernah Diperkosa


Tulisa Contostavlos membeberkan pengalaman buruknya ketika masih remaja. Penyanyi yang baru dinobatkan sebagai wanita terseksi di dunia versi majalah dewasa ini mengaku pernah menjadi korban pemerkosaan saat masih berusia 16 tahun.

Hal itu dia ungkapkan dalam buku biografinya "Honest: My Story". Mantan personel grup N-Dubz ini masih ingat kenangan pahit ketika sedang nongkrong bersama teman-temannya. Kepala Tulisa tiba-tiba saja pusing akibat minuman yang ditenggaknya.

"Hal yang aku ingat adalah ketika aku bangun berbaring di belakang kendaraan dan melihat lampu-lampu jalanan menyilaukanku lewat jendela kamar," kenang Tulisa seperti dikutip Digitalspy, Senin (24/9/2012).

Karena dalam keadaan setengah sadar, Tulisa tak bisa berbuat banyak ketika mengalami pemerkosaan itu. Artis yang kini berusia 24 tahun ini merasa malu menceritakan peristiwa itu kepada orang lain. Bahkan, dia takut melaporkan peristiwa pembiusan dan pemerkosaan itu ke polisi.

"Aku bahkan tidak bisa bergerak. Ketika aku akhirnya terbangun di pagi hari dan mendapati diriku berasa di sebuah rumah yang tak ku kenal. Aku pergi ke kamar mandi dan menangis. Kemudian aku mengontrol emosi, mengenakan baju dan pergi tanpa sepatah kata pun. Aku menangis sepanjang perjalanan pulang," kenangnya.


http://celebrity.okezone.com/read/2012/09/24/532/694511/wanita-terseksi-di-dunia-pernah-diperkosa-saat-16-tahun

Liku-Liku Faber Castell Penuh Warna

Liku-Liku Faber Castell Penuh Warna


Menggambar menjadi salah satu kegiatan yang diajarkan kala kita duduk di bangku Taman Kanak-kanak (TK). Menggambar menjadi wadah untuk mengekspresikan keindahan alam, maupun menggambar apa saja yang ada di benak kita. Menggambar, mewarnai, juga menjadi hobi yang digunakan orang untuk melepas stres ataupun menyalurkan imajinasi mereka di atas kertas.

Salah satu perusahaan yang konsisten mewujudkan imajinasi melalui peralatan pensil adalah Faber Castel. Perusahaan yang awalnya bernama Faber ini, telah menciptakan pensil lebih dari 250 tahun, selama delapan generasi. Didirikan Kaspar Faber pada 1761, pada awal mulanya, perusahaan ini hanya memproduksi pensil. Pengrajin kabinet ini memproduksi pinsil pertamanya, yang disebut "Bleiweißstifte" di Stein dekat Nuremberg, Kaspar Faber dan dijual di pasar Nuremberg.

Perusahaan yang berdiri sebelum Revolusi Prancis dan berdirinya negara Amerika Serikat (AS) ini, bukan perusahaan karbitan yang dikenal sesaat, serta hanya sekadar memanfaatkan euforia pasar saham. Faber pun juga sempat dihantam gelombang badai hebat, kala generasi ketiga, Georg Leonhart Faber pada era 1810-1839, mengalami masa politik dan ekonomi yang sulit karena adanya Perang Dunia pertama.

Perang Dunia itu mau tak mau mengakibatkan produksi menurun dan kondisi perusahaan terancam bangkrut. Bahkan, Faber Castell harus rela kehilangan seluruh gunung grafit mereka di Siberia, yang menyebabkan semua properti dan rumah juga hilang. Perang dunia telah mengambil hampir semua aset perusahaan dan membuat mereka kehilangan bisnis di Amerika Utara, Amerika Selatan, dan Rusia.

Namun, ungkapkan semua akan indah pada waktunya akhirnya dialami keluarga ini. Badai tersebut mampu dilewati. Hasilnya, pada kepemimpinan Lothar von Faber pada periode 1839-1896, Faber Castel bisa kembali bangkit. Berbekal pengalamannya, serta produksi alat tulis di Prancis dan London, dia mempunyai visi mencapai posisi teratas dengan menghasilkan produk terbaik di dunia. Lothar von Faber juga yang pertama kali mencetak pensil hexagonal dan menerapkan standar produk, menemukan gradasi pensil (HB, 8B - 6H) yang sekarang dipakai oleh industri pensil.

Perubahan brand Faber terjadi pada generasi ke-6, pada 1898. Kala itu, putri tertua dari Wilhelm Von Faber sekaligus pemimpin sementara perusahaan, Baronnes Ottile Von Faber, menikah dengan Count Alexander zu Castell-Rüdenhausen yang merupakan keturunan dari salah satu keluarga bangsawan tertua di Jerman.

Menjelang ajal, Lothar Von Faber telah mempersiapkan surat wasiat, di dalamnya menegaskan bahwa generasi berikutnya tetap harus menyertakan nama 'Faber' ke dalam nama keluarga yang baru. Karena itu nama keluarga yang baru "Count and Countess von Faber-Castell" diangkat menjadi nama perusahaan yang baru "Faber-Castell".

Kuatnya pondasi ini, membuat Faber Castell dapat bertahan sampai saat ini. Kini Anton Wolfgang Graf von Faber-Castell, didaulat menjadi pemimpin generasi kedelapan perusahaan keluarga pada era 1978, dan pada 1992 Count Andreas Wilhelm Eberhard von Faber-Castell yang akrab disapa Andy mulai bergabung dengan Faber Castell.

Count Andy memulai bisnisnya di Australia pada 1971, dan sukses dengan karier penjualan di Xerox. Pada 1992 dia tercatat bergabung dengan Faber Castell untuk membenahi wilayah Australia. Andy memang bergabung pada 1992, namun membutuhkan waktu satu tahun untuk benar-benar menguasai seluk beluk perusahaan ini.

"Saat pertama bergabung dengan perusahaan ini, saya sedikit pendiam untuk 12 bulan awal. Sampai ada produk baru dari saingan lainnya, baru saya mulai menyerang," tuturnya kepada Okezone.

Hal ini dibuktikannya dengan membuat Connector Pen, terobosan yang dilakukannya di pasar Australia, telah menjadi awal aksinya di bisnis alat tulis ini. Akibatnya, dia dipercaya untuk mengawal kawasan Asia Pacifik dan mengawasi perusahaan di Indonesia, Malaysia, India, dan China.

Kecintaannya akan alat tulis ini, Andy yang mengelola berbagai industri seperti perusahaan printing di Australia, mulai tidak fokus. Dia juga menyerahkan pabrik pengolahan ikan di Jerman, untuk ditangani anaknya.

"Tapi fokus saya tetap di Faber Castell, karena saya mempunyai passion. Saya mencintai pensil, saya suka mempromosikan barang saya, saya senang meraih kesuksesan, dan itu memotivasi saya," jelas dia.

Bersaing dengan Zaman

Faber Castell memang menjadi brand pensil untuk menulis dan menggambar kelas dunia. Meski begitu, banyak produk saingan mulai bermunculan seperti produk dari China.

"Tetapi tetap terbukti produk kami yang paling baik, itu terlihat dari meningkatnya penjualan," tutur dia.

Kualitas pensil buatan Faber Castell memang tidak diragukan lagi. Hal ini sejalan dengan prinsip, Count Alexander pada 1905, range produk yang sangat terkenal sekarang yaitu "Castell" hijau atau Green "Castell". Produk baru ini diberi logo "Tournament of the jousting Pencil Knights" yang bertema ksatria yang menggunakan pinsil green castell sebagai tombak mengalahkan lawannya dalam turnamen.

Logo tersebut dimaksudkan untuk memberi gambaran bahwa produk baru ini memiliki kualitas tinggi yang mengalahkan semua pesaingnya. Logo Ksatria pinsil ini menjadi trademark perusahaan hingga saat ini.

Guna menjaga kualitas produk ini, maka pensil dari Faber Castell pun diolah berdasarkan pohon pinus terbaik. Di sisi lain, Andy mengatakan perusahaan juga tetap menjaga penghijauan. "Ayah saya mengajarkan saya untuk mencintai tumbuhan, dan itu yang saya terapakan. Setiap pemakaian, kita selalu melakukan penanaman kembali," kata dia.

Akan tetapi, penerapan cara ini bagai pedang bermata dua bagi produk Faber Castell. Bagaimana tidak? Di saat produksi pensil diharuskan menelan biaya karena pemilihan kualitas pohon dan serangkaian relokasi pohon, produk-produk serupa mulai membanjiri pasar dan menawarkan harga murah.

"Ini yang membuat produk kita lebih mahal ketimbang produk dari China, karena mereka hanya menggunakan dan tidak perduli akan penghijauan kembali," urai dia.

Selain itu, Faber Castell juga harus bersaing dengan teknologi yang terus berkembang. Saingan datang bukan hanya dari produk serupa, namun dari peralatan canggih yang digunakan untuk menggambar, seperti komputer, produk Apple dan tab. Meski begitu, dia meyakini produk yang mengandalkan teknologi tersebut tidak akan mampu menyaingi produk Faber Castell.

"Memang bisa dilakukan di iPad, tapi Anda tetap ingin melakukan kegiatan tersebut secara nyata, dan tidak ada bisa yang menggantikan ‘magic’ dari otak ke tangan Anda, yang tertuang di lembaran kertas, dan bagaimana anak Anda menikmati melakukan itu semua," tuturnya.

Menurut dia, penggunaan pensil sebagai alat untuk menggambar tidak akan tergantikan. Seperti kertas, contoh dia, meskipun banyak diserukan penghematan kertas dalam perkantoran, namun penggunaan kertas tetap tinggi.

"Sejauh ini, banyak negara yang mengunakan kertas lebih dan lebih lagi, karena kertas alat menulis yang biasa Anda pakai, Anda bisa meremasnya dan melemparnya, Anda bisa mencatat di sana, Anda bisa merobeknya dan saya rasa ini hal-hal yang tidak akan bisa digantikan oleh komputer. 80 persen lebih, orang akan mencatat di kertas daripada hanya mendengarkan atau mengetik di komputer," jelas dia.

Keyakinan itu tak akan tergantikan, karena pensil juga dilandasi dari belum berubahnya beberapa hal. Meskipun bisa dilakukan lewat game. "Anda bisa bermain tennis di game, tapi Anda tetap ingin melakukan hal ini secara nyata kan?" tanyanya. Keyakinan ini, juga ditopang atas pengalaman masa kecilnya.

Saat itu, Andy muda menapaki era musik elektronik. Pada eranya, Andy muda disuguhi akan kedatangan piano elektrik. Begitu tenarnya piano elektrik, sampai banyak orang mengatakan piano asli nantinya hanya akan ditemui di museum.

"Tapi apa yang dilakukan piano elektrik malah membuat orang tertarik untuk memainkan piano asli, cara cepat mempopulerkan piano, dan pada akhirnya mereka membeli keduanya. Karena mereka merasa perbedaan antara piano elektrik dengan piano asli ketika memainkanya," kisahnya.

Kepercayaan Andy juga bukan tanpa alasan. Di atas kertas, meskipun penjualan produk Apple kian meningkat, namun penjualan Faber Castell juga mengalami pertumbuhan.

"Ini terbukti ketika kita bicara produksi, setiap tahunnya produksi kita terus mengalami peningkatan, setiap tahunnya lebih dari 200 juta pensil diciptakan, jadi kita terus tumbuh," demikian disampaikannya.

Lebih Suka Buatan Tangan

Namun tidak bisa dipungkiri, dewasa ini teknologi telah mengantikan hampir setiap kegiatan komunikasi melalui teknologi. Misalkan saja, dulu orang suka menulis surat, kemudian berganti lewat SMS. Sekarang, mereka cukup berkomunikasi lewat jejaring sosial maupun surat elektronik. Kebiasaan ini yang disesalkan oleh Andy.

Menurutnya, ada beberapa hal yang memang tidak bisa digantikan oleh kemudahan teknologi tersebut. Dia bahkan pernah memarahi anaknya karena menggunakan email untuk mengirim ucapan selamat Natal. "Saya tidak suka email ucapan selamat Natal, karena saya pikir itu malas," jelas dia.

Andy pun lebih suka mendapat kartu ucapan buatan tangan. Mengapa? Karena, dengan demikian dia mengetahui jika saat itu, sang pengirim mengkhususkan pemberian itu untuk dia.

"Dan itu sangat menyenangkan. Tapi anak perempuan saya pernah mengirimkan kartu ucapan Natal ke saya dan untuk orang-orang lainnya, saya jadi kesal. Saya katakan 'ayolah, kamu sapi pemalas, gunakan kartu ucapan asli'. Meski dia beralasan itu akan menghabiskan kertas, tapi saya pikir itu malas," kata Andy.

Meski demikian, bukan berarti Andy antiteknologi. Menurutnya teknologi yang ada dapat bermanfaat ketika itu berhubungan dengan sebuah inovasi dan penciptaan. "Dan berhubungan dengan menggambar, mewarnai, dan melukis," tambah dia.

Andy juga memaksimalkan teknologi yang ada ini untuk memasarkan dan mengembangkan Faber Castell. Untuk itu, dia berinisiatif menggunakan iPhone sebagai sarana. Dia menjelaskan, dengan adanya aplikasi di iPhone, dapat menunjukkan pada orang bagaimana cara menggambar.

"Saya sudah meminta ke berbagai perusahaan untuk menerapkan hal ini, teknologi sudah memberikan banyak kemudahan pada kita untuk beriteraksi dengan konsumer, kita bisa menunjukkan keutungan memakai Faber Castell, keindahan dari melukis, dan kesenangan melakukan itu semua," jelas dia.

Aplikasi tersebut, nantinya akan menunjukkan pada masyarakat bagaimana mereka dapat bersenang-senang dengan menggunakan pensil warna. Bagaimana cara mengambar, bagaimana cara bersenang-senang dengan pensil warna. Intinya, aplikasi tersebut akan dikembangkan untuk memberikan gambaran bagaimana cara menciptakan sesuatu. "Menciptakan itu suatu teknik yang terus berkembang," singkatnya.

Oleh karena itu, tak jarang Faber Castell mengadakan kompetisi mewarnai, ini dilakukan untuk mengembangkan seni dan kreatifitas. "Kita hanya harus membebaskannya, dan menunjukan pada mereka bagaimana membebaskan ide dan kreatifitas itu, dan tugas kita untuk menunjukkan itu, dan bagaimana sukses yang dapat dicapai dari alat-alat itu," kata dia.

Menurutnya, melukis menggambar dan mewarnai, kini diminati orang-orang di usia senja. Andy mengatakan, di saat orang pensiun, mereka ingin melakukan sesuatu lagi yang menyenangkan bagi mereka, dan mengambar jadi salah satu kegiatan yang masuk dalam list mereka.

"Selain musik, seperti bermain piano dan belajar hal lain yang belum pernah dia lakukan, tetapi mengambar jadi pilihan di tengah banyaknya game yang berkembang dan kecangihan teknologi. Kita bisa tumbuh bersama dengan teknologi," tuturnya.


http://economy.okezone.com/read/2012/05/28/22/636876/liku-liku-faber-castell-penuh-warna

Dirut Askes, Si Anak Petani dan Mobil Sedan Putih

Dirut Askes, Si Anak Petani dan Mobil Sedan Putih


TIDAK pernah terlintas dipikiran seorang I Gede Subawa untuk dapat menempati posisi strategis sebagai direktur perusahaan asuransi kesehatan. Lahir di Tabanan, Bali, dari keluarga petani, I Gede mempunyai cita-cita untuk membela negara, dan masuk ke sekolah AKABRI. Namun, keinginannya masuk sekolah AKABRI mendapatkan hambatan dari orangtuanya.

"Orangtua saya kan petani, saya sadar betul kalau kuliah ke Fakultas Kedokteran itu pasti mahal. Jadi saya pilih masuk ke AKABRI, karena AKABRI dibiayai oleh negara, tapi tidak boleh sama orangtua," kata dia, kala berbincang dengan Okezone beberapa waktu lalu.

Anak pertama dari enam bersaudara ini akhirnya serius menjalani kuliahnya di Fakultas Kedokteran sesuai keinginan orangtuanya. Selain karena dorongan orangtua, pengalaman masa kecilnya juga memantapkan langkahnya di dunia kesehatan. Ini terjadi karena saat masih kecil, I Gede pernah menderita penyakit disentri akibat hobinya jajan makanan di pinggir jalan.

Saat itu, orangtuanya kewalahan memeriksakan anaknya ke klinik terdekat karena disentri yang cukup hebat, mengingat dokter yang membuka praktek di daerah Tabanan sangat minim, hanya satu dokter yang membuka praktek.

I Gede masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) kelas 2 cukup takut saat diperiksa oleh doktor. Bahkan, karena terlalu takut dia sampai melarikan diri. Bukan karena ketakutannya akan dokter yang membuat dia lari, namun lebih kepada perlatan yang digunakan oleh si dokter. "waktu itu saya lari karena melihat suntikan sebesar itu ga kebayang sakitnya seperti apa," tutur I Gede sambil tertawa.

Namun, peristiwa tersebut malah membawa dampak positif. Sejak saat itu, karena takut akan dibawa ke dokter, dia enggan untuk jajan sembarangan di pinggir jalan lagi.

Kisah Mobil Putih

Selain kisah jajanan di pinggir jalan dan jarum suntik, I Gede mengungkapkan masih ada alasan lain yang mendorongnya menjadi seorang dokter. Bukan karena kejadian tidak menyenangkna, namun karena dia melihat mobil sedan putih yang terparkir di halaman seorang dokter, di daerah Tabanan. "waktu itu saya tihat mobil sedan putih milik dokter kok sepertinya keren sekali, saya ingin seperti dokter itu," kata dia.

Oleh karena itu, meskipun berasal dari keluarga seorang petani, yang memiliki kemampuan ekonomi pas-pasan, namun I Gede tetap masuk ke kedokteran. Hal tersebut, lantaran usaha keras kedua orangtua I Gede. Upaya ini, mampu mendorong I Gede masuk fakultas Kedokteran Universitas Udayana Bali.

"Dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan saya menjalani kuliah di Fakultas Kedokteran. Saya masuk 1971 dengan biaya seadanya, keinginan orangtua yang keras dan saya berusaha menjalaninya dengan sungguh-sungguh, karena kuliah di Fakultas Kedokteran itu tidak murah," jelas dia.

Untuk tetap menjaga agar pendidikannya berjalan, dia rela pulang-pergi menggunakan sepeda dari tempat kuliahnya di Udayana, Denpasar, ke tempat tinggalnya di Tabanan. Bukan jarak yang dekat, karena sehari dia harus menempuh perjalanan kurang lebih 60 kilometer, untuk sekedar membawa bekalnya seperti beras dan bahan pokok lainnya. "setiap hari jumat pasti saya pulang ke rumah untuk membawa bekal, bersama teman-teman yang bertempat tinggal di Tabanan beramai-ramai naik sepeda," kenang I Gede.

Untungnya, pihak unversitas tidak terlalu membebankan dia dengan biaya kuliah yang terlalu tinggi. Bahkan pihak Universitas tetap mengizinkannya mengikuti kegiatan kuliah, ketika dia belum membayar uang semester. Usahanya tidak sia-sia, setelah menjalai lima tahun perkuliahan, dia berhasil menyabet gelar predikat mahasiswa terbaik dari 24 orang teman satu angkatannya pada 1978.

"Sebenarnya saya lulus 1977, namun karena menunggu teman-teman untuk menjalani pelantikan yang berbarengan, sehingga saya dicatat lulus tahun 1978," tutur pria lulusan SMA Tabanan Bali tahun 1970 ini.

Awal Karir

Setelah lulus dari Udayana, penyuka lagu-lagu Broery Marantika tersebut langsung menjadi dokter, dan mengabdikan diri di puskesmas di Nusa Tenggara Timur, di salah satu kecamatan yang jauh dari pusat kota, berbatasan dengan Timor-timur, selama 2 tahun sejak 1978 hingga 1980.

Lalu tahun 1980 sampai tahun 1983 I Gede dipilih oleh Bupati Atambua menjadi Direktur rumah sakit di Atambua yang memiliki sekira sembilan tempat tidur pasien. Di rumah sakit itu, hanya dia yang menjadi dokter di poliklinik yang siaga selama 24 jam, dan itu dijalaninya selama tiga tahun. Setelah itu, dia dipindahkan ke Flores Timur di Dinas Kesehatan.

Di sana, I Gede menjabat sebagai kepala kantor perwakilan cabang di Ende NTT dan wilayah Manggarai selama lima tahun, kemudian pada 1988, I Gede dipromosikan sebagai Kepala kantor Cabang di Bali selama dua tahun hingga 1990.

Guna menunjang keperluan pekerjaannya, I Gede kembali mengambil kuliah di Universitas Gajahmada (UGM) pada 1996, dan mengambil jurusan Manajemen Rumah Sakit. Karena prestasinya tersebut, dia dipilih menjadi Kepala Kantor Cabang Jawa Tengah.

Bekerja menjadi kepala kantor cabang membuat I Gede harus meninggalkan statusnya sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) golongan 4B pada 1996. Baru pada tahun 2000 I Gede dipercaya sebagai Direktur Operasional PT Askes, "saya tidak menyangka perjalanan karir ini menjadi Kepala Kantor Cabang lalu diangkat sebagai Direktur Operasional," tutur I Gede.

Pindah ke salah satu perusahaan pelat merah tidak lantas membuat I Gede dapat santai. Menurutnya, Askes selalu di nomor duakan karena pelayanannya yang belum memadai, sehingga menjadi tantangan besar dirinya untuk mengubah citra Askes di mata masyarakat. "saat itu kami di lapangan selalu dihadapkan dengan situasi tidak nyaman," tutur I Gede.

Dia mengungkapkan, keraguan masyarakat untuk mengikuti Askes, juga didasar atas belum adanya kerjasama askes dengan rumah sakit swasta. Oleh karena itu, dia membuat perubahan dengan cara bekerjasama dengan rumah sakit swasta. Hingga kini, askes lebih bekerjasama dengan 250 rumah sakit swasta di seluruh Indonesia.

"Saya yakin kedepan akan sangat banyak sekali membutuhkan rumah sakit swasta dengan perlakuan yang sama terhadap peserta pengguna Askes," tutur I Gede.

I Gede memaparkan, melayani orang sakit memang harus lebih hati-hati karena lebih sulit ketimbang melayani orang-orang yang datang ke bank, maupun ke hotel. Karena, orang sakit memiliki ketidakstabilan mental psikologis antara bisa di sembuhkan atau tidak yang juga selalu terbentur dengan permasalahan biaya. Namun, semua itu terbayarkan, karena masyarakat yang tertolong banyak yang berterimakasih.

Dia menambahkan, PT Askes merupakan perusahaan yang utamanya bukan mencari untung, mengingat tugas pokoknya adalah memberikan pelayanan yang baik kepada pesertanya.  "saya akan mengerjakan pekerjaan sebaik mungkin, sesuai amanat dari kitab suci yang saya pegang. karir ini saya jalankan dengan cara yang terbaik," jelas dia.

Hingga kini, Askes telah memproduksi lebih dari 1.600 jenis obat yang telah di negosiasikan dengan pabrikan obat sehingga para peserta Askes bisa membeli obat dengan harga murah. Selain itu, Dia juga mengaku telah mencapai cita-citanya yakni memiliki mobil sedan berwarna putih yang di lihatnya semasa kecil di halaman rumah dokter yang tidak jauh dari rumahnya.


http://economy.okezone.com/read/2012/06/26/22/654099/kisah-dirut-askes-si-anak-petani-dan-mobil-sedan-putih

Kisah Beberapa Orang Yang beruntung

Kisah Beberapa Orang Yang beruntung


Di balik petaka atau kejadian, selalu ada kisah tersisa. Menurut satu blog, ada 10 orang di dunia yang dinyatakan paling beruntung karena bisa lolos atau selamat dari bermacam petaka; mulai dari serangan teroris sampai kecelakaan fatal pesawat terbang.

Ada juga yang beruntung karena menemukan beragam rupa harta karun.

Mereka adalah pertama, Vesna Vulonic, pramugari Yugoslavia Airlines yang terbang dalam pesawat terbang DC-9 di ketinggian 33.000 kaki dari permukaan laut, pada 26 Januari 1972.

Di ketinggian itulah satu bom dalam bagasi pesawat terbang itu meledak, pesawat hancur di udara, dan ajaib! Dia selamat, tetap hidup setelah reruntuhan pesawat terbang itu "mendarat" di pegunungan. Dia patah tulang di banyak tempat dan lumpuh setelah pulih. Dia tidak seharusnya ada dalam jadual awak kabin yang bertugas saat itu.

Selanjutnya, Frane Selak, yang lolos dari kecelakaan kereta, pesawat dengan pintu terlepas, tabrakan bus, mobil terbakar, dan kecelakaan mobil-mobil lain. Guru musik warga negara Kroasia ini telah beberapa kali alami kecelakaan. Pertama kali dalam kecelakaan kereta api pada 1962, lolos dan hanya memar biasa.

Setahun kemudian, Selak terbang, dari Zagreb ke Rijeka, ketika pintu tiba-tiba meniup dari kokpit pesawat di ketinggian 33.000 kaki dari permukaan laut (11.000 meter!), dan ia tertiup jatuh dari pesawat. Kecelakaan menewaskan 19 orang.

Bagaimanapun, Selak cukup beruntung untuk mendarat di tumpukan jerami, dan bangun beberapa hari kemudian di rumah sakit, dengan luka ringan. Pada 1995, di Zagreb, dia dihantam bus, lagi-lagi hanya meninggalkan beberapa luka-luka.

Tahun berikutnya, saat berkendara melalui jalan gunung, Selak loncat ke pagar pembatas untuk menghindari sebuah truk mendekat dan mendarat di atas pohon dan melihat mobilnya meledak dari jarak 300 kaki.

Namun pada 2003, ia mendapatkan keberuntungan yang sangat besar. Selak memenangkan lotre bernilai jutaan dollar!

Selanjutnya perempuan tua yang menemukan kartu bisbol berusia 140 tahun di ruang bawah tanah. Dia adalah Bernice Gallego (72) yang menetap di Kalifornia, Amerika Serikat.

Jika bukan karena intervensi dari teman, dia mungkin akan menjual kartu Cincinnati Red Stockings tersebut di eBay seharga 10 dolar Amerika Serikat saja.

Kartu itu sungguh spesial? Jelas, karena tim itu adalah tim profesional bisbol pertama di negaranya. Dia beroleh banyak sekali uang, karena pada awal abad ke-19, kartu bisbol dari tim sama laku dilelang 75.282 dolar Amerika Serikat.

Masih disambung seorang kontraktor yang menemukan 182.000 dolar Amerika Serikat di kamar mandi. Bob Kitts dari Cleveland, Ohio, yang menemukan uang itu, yang ternyata berasal dari masa Depresi Besar 1930-an.

Penemuan uang sejumlah itu tidak sengaja, karena Kitss menemukan dua kotak besi hitam tergantung di dalam dinding di dalam lemari obat. Uang itu punya pemilik rumah dari masa Depresi Besar itu dan kemudian rumah itu beralih ke pemilik saat Kitss menemukan uang.

Terakhir adalah Roy Sullivan. Bukan main-main, dia boleh dijuluki sebagai The Lightening Man karena tetap selamat walau telah tujuh kali disambar petir!

Dia adalah polisi hutan selama 36 tahun dalam hidupnya. Selama masa dinas itu, dia sudah tujuh kali disambar petir di hutan. Guinness Book of World Records bahkan menganugerahkan rekor khusus untuk dia.

Berikut tahun-tahun saat dia selamat disambar petir itu: 1942, yang pertama tersambar petir, Sullivan mengalami sakit di kaki dan kukunya terlepas. 1969, serangan kedua, alisnya terbakar dan membuat dia pingsan. 1970, serangan ketiga, membuat bahunya (cuma) terkoyak.

1972, serangan keempat, rambutnya terbakar. 7 Agustus 1973, serangan kelima, petir merobek topi dan membuat rambutnya terbakar lagi, melemparkan dia keluar dari truk dan membuat sepatu kirinya lepas.

Pada 5 Juni 1976, serangan keenam menyebabkan cedera pergelangan kaki. Pada 25 Juni 1977, petir terakhir menyambar Sullivan, yang memaksa dia diselamatkan ke rumah sakit dengan dada dan perut luka bakar.

Dia justru kemudian menghembuskan nafasnya pada usia 71 tahun; karena… tertembak.


http://www.antaranews.com/berita/296915/lima-orang-paling-beruntung

Aku mulai mengerti cinta ketika maut menjemput Suamiku

Aku Mulai Mengerti Cinta Ketika Maut Menjemput Suamiku


Cerita berikut ini sudah sangat banyak di sharing. Walaupun Demikian Tak salah jika Kita merenunginya lagi. Semoga peristiwa di bawah ini membuat kita belajar bersyukur untuk apa yang kita miliki :

Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.

Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.

Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.

Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.
Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.
Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.

Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkimpoianku, aku juga membenci kedua orangtuaku.

Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.

Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.
“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.

Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”

“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.

Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.

Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi,* ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.

Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.

Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.

Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.

Saat* pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.

Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.

Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya* dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.

Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.

Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.

Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.

Istriku Liliana tersayang,
Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.

Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.

Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.

Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!

Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.

Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.

Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.

Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”

Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”

Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”

Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”

Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.

Sa'id bin Zaid, Berkah Sebuah Doa

Sa'id bin Zaid, Berkah Sebuah Doa


Ketika Rasulullah SAW menyeru orang-orang untuk memeluk Islam, Sa’id bin Zaid segera memenuhi panggilan beliau, menjadi pelopor orang-orang yang beriman kepada Allah dan membenarkan kerasulan Nabi Muhammad SAW.

Tidak mengherankan kalau Sa’id secepat itu menerima seruan Muhammad SAW. Ia lahir dan dibesarkan dalam rumah tangga yang mencela dan mengingkari kepercayaan dan adat istiadat orang-orang Quraisy yang sesat.

Sa’id dididik dalam kamar seorang ayah yang sepanjang hidupnya giat mencari agama yang hak. Bahkan dia mati ketika sedang berlari kepayahan mengejar agama yang hak.

Sebelum menghembuskan nafasnya, ayah Sa'id—Zaid bin Amr bin Nufail—menengadah ke langit seraya berdoa, "Ya Allah, jika Engkau mengharamkanku dari agama lurus ini, maka janganlah anakku, Sa'id, diharamkan pula darinya."

Sa’id masuk Islam tidak seorang diri. Dia bersyahadat bersama istrinya, Fatimah binti Khathab, adik perempuan Umar bin Khathab. Karena pemuda Quraisy ini masuk Islam, dia disakiti dan dianiaya, dipaksa oleh kaumnya supaya kembali kepada agama mereka.

Tetapi jangankan mengembalikan Sa’id kepada kepercayaan nenek moyang mereka, sebaliknya Sa’id dan istrinya sanggup menarik seorang laki-laki Quraisy yang paling berbobot baik fisik maupun intelektualnya masuk Islam, Umar bin Khathab.

Mereka berdualah yang telah menyebabkan Umar bin Khathab masuk Islam. Sa’id bin Zaid bin Amr bin Nufail membaktikan segenap daya dan tenaganya yang muda untuk berkhidmat kepada Islam.

Ketika dia masuk Islam, umurnya belum lebih dari 20 tahun. Selain Perang Badar, dia turut berperang bersama-sama Rasulullah dalam setiap peperangan. Ketika itu dia sedang melaksanakan suatu tugas penting lainnya yang ditugaskan Rasulullah kepadanya. Dia turut mengambil bagian bersama-sama kaum Muslimin mencabut singgasana Kisra Persia dan menggulingkan Kekaisaran Romawi. Dalam setiap peperangan yang dihadapi kaum Muslimin, dia selalu memperlihatkan penampilan dengan reputasi terpuji.

Di antara prestasinya yang paling menakjubkan ialah apa yang tercatat dalam Perang Yarmuk. Sejenak kita dengarkan Sa'id mengisahkan pengalamannya. “Ketika terjadi Perang Yarmuk, pasukan kami semuanya berjumlah 24.000 orang tentara. Sedangkan tentara Romawi yang kami hadapi berjumlah 120.000 tentara. Musuh bergerak ke arah kami dengan langkah-langkah yang mantap bagaikan sebuah bukit yang digerakkan tangan-tangan tersembunyi," tutur Sa'id.

Sa'id melanjutkan, di depan berbaris pendeta-pendeta, perwira-perwira tinggi, panglima-panglima, dan paderi-paderi yang membawa kayu salib sambil mengeraskan suara membaca doa. "Doa itu diulang-ulang oleh tentara yang berbaris di belakang mereka dengan suara mengguntur," ujarnya.

Tatkala tentara kaum Muslimin melihat musuh mereka seperti itu, kebanyakan mereka terkejut, lalu timbul takut di hati mereka. Abu Ubaidah bin Jarrah bangkit mengobarkan semangat jihad kepada mereka. “Wahai hamba-hamba Allah, Menangkan agama Allah! Pasti Allah akan menolong kamu, dan memberikan kekuatan kepada kamu!"

"Wahai hamba-hamba Allah, tabahkan hati kalian! Karena ketabahan adalah jalan lepas dari kekafiran, jalan mencapai keridhaan Allah, dan menolak kehinaan. Siapkan lembing dan perisai! Tetaplah tenang dan diam! Kecuali dzikrullah (mengingat Allah) dalam hati kalian masing-masing. Tunggu perintah saya selanjutnya, Insya Allah!” teriak Abu Ubaidah lagi.

Tiba-tiba seorang prajurit Muslim keluar dari barisan dan berkata kepada Abu Ubaidah, “Saya ingin syahid sekarang. Adakah pesan-pesan Anda kepada Rasulullah?”

Abu Ubaidah menjawab, “Ya, ada! Sampaikan salam saya dan salam kaum Muslimin kepada beliau. Katakan kepada beliau, sesungguhnya kami telah mendapatkan apa yang dijanjikan Tuhan kami benar-benar terbukti!”

Sesudah dia mengucapkan kata-katanya itu, Sa'id melihat sang prajurit menghunus pedang dan terus maju menyerang musuh-musuh Allah. Sa'id pun demikian, ia membanting diri ke tanah, dan berdiri di atas lututnya. Lalu membidikkan lembingnya dan menikam seorang musuh. "Tanpa terasa, perasaan takut lenyap dengan sendirinya di hati saya. Tentara Muslimin bangkit menyerbu tentara Romawi. Perang berkecamuk dan berkobar dengan hebat. Akhirnya, Allah memenangkan kaum Muslimin," tutur Said.

Sesudah itu, Sa’id bin Zaid turut berperang menaklukkan Damaskus. Setelah menaklukkan Damaskus, kaum Muslimin memperlihatkan kepatuhan, Abu Ubaidah bin Jarrah mengangkat Sa’id menjadi walikota di sana. Dialah walikota pertama dari kaum Muslimin setelah kota itu dikuasai.

Di masa pemerintahan Bani Umayyah, merebak suatu isu dalam waktu yang lama di kalangan penduduk Madinah terkait Sa’id bin Zaid. Seorang wanita bernama Arwa binti Umais menuduh Sa'id merampas tanahnya dan menggabungkannya dengan tanah Said. Wanita itu menyebarkan tuduhannya ke seantero kaum Muslimin, dan mengadukan perkaranya kepada Marwan bin Hakam, Walikota Madinah saat itu.

Marwan mengirim beberapa petugas menanyakan kepada Sa’id tentang tuduhan wanita tersebut. Sahabat Rasulullah ini merasa prihatin atas tuduhan yang dituduhkan kepadanya. “Dia menuduhku menzaliminya (merampas tanahnya yang berbatas dengan tanah saya). Bagaimana mungkin aku menzaliminya, padahal aku telah mendengar Rasulullah bersabda, ‘Siapa yang mengambil tanah orang lain walaupun sejengkal, nanti di hari kiamat Allah akan memikulkan tujuh lapis bumi kepadanya.’ Ya Allah, dia menuduhku menzaliminya. Seandainya tuduhannya itu palsu, butakanlah matanya dan ceburkan dia ke sumur yang dipersengketakannya denganku. Buktikanlah kepada kaum Muslimin sejelas-jelasnya bahwa tanah itu adalah hak hamba dan bahwa hamba tidak pernah menzaliminya,” kata Sa'id.

Tidak berapa lama kemudian, terjadi banjir besar yang belum pernah terjadi sebelumnya. Maka terbukalah tanda batas tanah Sa’id dan tanah Arwa yang mereka perselisihkan. Kaum Muslimin memperoleh bukti, Sa’id-lah yang benar, sedangkan tuduhan wanita itu palsu.

Hanya sebulan sesudah itu, wanita tersebut menjadi buta. Ketika dia berjalan meraba-raba di tanah yang dipersengketakannya, dia pun jatuh ke dalam sumur. Abdullah bin Umar berkata, “Memang, ketika kami masih kanak-kanak, kami mendengar orang berkata bila mengutuk orang lain, ‘Dibutakan Allah kamu seperti Arwa.”

Peristiwa itu sesungguhnya tidak begitu mengherankan. Karena Rasulullah SAW pernah bersabda, “Takutilah doa orang teraniaya. Karena antara dia dengan Allah tidak ada hijab (batas).” Apa lagi kalau yang teraniaya itu adalah salah seorang dari 10 sahabat Rasulullah yang telah dijamin beliau masuk surga, Sa’id bin Zaid.


http://id.berita.yahoo.com/kisah-sahabat-nabi-said-bin-zaid-berkah-sebuah-090245093.html

Kisah Bijak Para Sufi: Anak-anak yang Serakah

Kisah Bijak Para Sufi: Anak-anak yang Serakah


Pada zaman dahulu, ada seorang petani yang suka bekerja keras dan murah hati, yang memiliki beberapa anak laki-laki yang malas dan serakah. 

Menjelang ajalnya, petani itu mengatakan kepada anak-anaknya bahwa mereka akan menemukan harta karun kalau mereka mau menggali di suatu ladang tertentu. 

Segera setelah orang tua itu meninggal, anak-anaknya bergegas ke ladang tersebut, menggalinya dari satu sisi ke sisi lain, dengan keputusasaan dan konsentrasi yang semakin meningkat. Namun, tak kunjung mereka temukan emas di tempat yang ayahnya sebut itu.

Mereka sama sekali tidak menemukan emas. Menyadari bahwa karena kemurahan hatinya, ayah mereka pasti telah membagi-bagkan emasnya semasa hidupnya, mereka pun berhenti mencari. 

Akhirnya, terpikir oleh mereka bahwa karena ladang itu sudah terlanjur digarap, tak ada salahnya bila ditanami benih. Mereka pun menanam gandum, yang menghasilkan panen berlimpah-limpah. Mereka menjualnya, dan pada tahun itu juga hidup mereka makmur.

Setelah musim panen lewat, mereka berpikir-pikir kembali tentang kemungkinan bahwa harta karun itu terluput dari penggalian mereka. Mereka pun menggali lagi ladang mereka, tetapi hasilnya sama saja.

Setelah bertahun-tahun lamanya, mereka menjadi terbiasa bekerja keras dan mengenali musim, sesuatu yang belum pernah mereka pahami sebelumnya. Sekarang, mereka mengerti cara sang ayah melatih mereka, dan mereka pun menjadi petani yang jujur dan bahagia. Pada akhirnya, mereka memiliki cukup kekayaan sehingga tak lagi risau perihal harta terpendam itu.

Demikianlah ajaran tentang pemahaman terhadap nasib manusia dan takdir kehidupan. Guru yang menghadapi ketidaksabaran, kebingungan, dan keserakahan murid-murid, harus mengarahkan mereka kepada suatu kegiatan yang diketahuinya bisa bermanfaat dan konstruktif bagi mereka, tetapi yang kegunaan dan tujuannya seringkali tersembunyi dari mereka, karena sifat kekanak-kanakan mereka sendiri.


http://id.berita.yahoo.com/kisah-bijak-para-sufi-anak-anak-yang-serakah-133723365.html

Cerita Haru Di Tahun Baru

 Cerita Haru Di Tahun Baru
 
 
Malam begitu indah, jalanan ramai dipenuhi para pecinta, para pemuda, dengan berbagai pernak pernik indah di pakaiannya, dandanan istimewa diperlihatkannya, serta berbagai tampilan yang terindah disajikan ditengah-tengah kota.

Diberbagai jalan, sangat ramai orang-orang berbondong ketengah-tengah alun-alun kota, menyaksikkan perayaan meriah yang indah bersama kekasih tercintanya, bersama keluarga, ataupun bersama sahabat-sahabat tercinta. Sungguh ada kebahagiaan tersendiri bagi penikmat perayaan tahun baru kali ini.

Ada rasa bahagia, suka dan canda bahkan tertawa, seakan menyelimuti kegelapan malam dengan terangnya wajah-wajah bahagia orang-orang. Namun nampak cahaya yang lebih terang lagi ditengah-tengah keramaian itu, seseorang ibu yang berpenampilan sederhana, dengan kerudung putih, muka berdebu. Ia menggendong anaknya yang kecil seakan berpura-pura ikut merayakan perayaan tahun baru ini. Tetapi sebenarnya tidak, ia adalah seorang pemulung, yang mengais rezeki ditengah-tengah hamparan manusia.

Dengan perlengkapan sebuah wadah dan sebuah pengait untuk mengambil sampah dijalanan, berjuang tiada lelah demi memberikan sesuap nasi bagi anaknya yang mungkin bapaknya telah tiada. Ia bukan sekedar pemulung, tetapi ia ikut serta mengurangi sedikit kotoran dijalanan.

Ia sebenarnya menahan iri pada orang-orang sekitar, yang menampakkan rasa bahagianya, memperlihatkan tawanya yang lebar. Namun ia tetap berjalan balik sana dan balik sini mencari plastik-plastik bekas yang dikumpulkannya.

Saat kembang api mulai menyala, terlihat senyum anaknya memandang ke arah langit, menyaksikkan nyala kembang api yang indah, diatas punggung ibunya yang kesusahan mencari nafkah, anak itu senyum dan tertawa melihat keangkasa karena mengartikan sebuah kembang api sebagai semangat yang yang menyala.

Mungkin dalam senyum anak kecil itu ia berdoa: " Ya Tuhan, kuatkan ibuku, suatu saat nanti aku akan membalas kebaikannya, aku ingin suatu saat nanti, aku menggendong ibuku menyaksikkan kembang api yang indah yang tak sempat ibu lihat, karena ibuku selalu memandang kearah bawah, mencari sampah buat makan esok pagi .. Ya Tuhan, terimakasih Engkau telah memperlihatkan makna yang indah dalam nyala kembang api tersebut, itu mengingatkan kepadaku, bahwa kita harus saling berbagi cahaya kepada yang lain, menyebarkan cahaya bagi yang lain, seperti kembang api, ia berasal dari satu tubuh dan ketika dinyalakan cahanya menyebar menerangi kegelapan .... Tuhan, jika suatu saat Engkau anugerahkan kepadaku kekayaan, pakaian yang bagus, dan benda mewah, jangan ijinkan aku berfoya-foya ... ingatkan aku kepada pemulung-pemulung atau pengemis-pengemis jika berada di tempat keramaian untuk berbagi kebaikan yang telah Engkau anugerahkan ... Tuhan, Semoga yang merayakan tahun baru ini enggan melupakan kebaikan untuk dibagi kepada yang lain" ...


" Tahun baru, yang harus di-BARU-kan adalah sikap kita, ahlak kita, sifat kita, menjadi lebih baik lagi kebaikannya ... "
 
 
http://dycko-novanda.blogspot.com/2011/12/cerita-haru-di-tahun-baru.html

Kisah Bijak Para Sufi: Bendungan

Kisah Bijak Para Sufi: Bendungan

Konon, seorang janda dan lima anak lelakinya hidup di atas sepetak tanah yang diairi. Mereka hidup sederhana dari hasil panen tanah pertanian itu. Tetapi, hak mereka untuk memperoleh air dirampas oleh seorang tuan lalim yang memalang dan menutup bendungan itu.
Si Sulung beberapa kali berusaha memindahkan palang itu, tetapi ia tak cukup kuat, sedangkan adik-adiknya masih kecil. Lagipula, ia tahu bahwa tuan lalim itu selalu bisa menutup kembali bendungannya sehingga upayanya akan sia-sia belaka.
Suatu hari, Si Sulung bertemu ayahnya dalam mimpi. Oleh ayahnya, ia diberi petunjuk tertentu yang menimbulkan harapan. Tak lama kemudian, tuan lalim yang marah atas perilaku pemuda itu menyebarkan berita ke seluruh negeri bahwa ia seorang pembuat onar sehingga membuat masyarakat benci kepadanya.
Pemuda ini menyingkir ke sebuah kota yang jauh. Di sana, selama bertahun-tahun, ia bekerja sebagai pembantu seorang pedagang. Dan waktu ke waktu dikirimnya sejumlah uang kepada ibunya lewat perantaraan para pedagang yang sedang dalam perjalanan. Sebab, ia tak ingin keluarganya merasa berhutang budi kepada orang asing dan agar para pedagang itu tidak dicurigai, ia meminta mereka memberikan uang itu kepada adik-adiknya sebagai upah untuk pekerjaan tertentu.
Setelah berpuluh-puluh tahun lewat, Si Sulung pun memutuskan untuk kembali ke rumah ibunya. Ketika ia tiba di rumah, hanya seorang adiknya yang dengan ragu mengenalinya, sebab ia kini tampak jauh lebih tua.
"Kakak tertuaku berambut hitam," kata adiknya.
"Tetapi aku lebih tua sekarang," kata Si Sulung.
"Kami bukan pedagang," kata adiknya yang lain. "Bagaimana mungkin orang ini, dengan pakaian dan cara bicaranya, mengaku saudara kita?"
Si Sulung menjelaskan alasannya, tetapi adiknya itu tidak sepenuhnya yakin. "Aku masih ingat bagaimana kalian berempat kujagai, dan betapa kalian merindukan air yang muncrat dari lekukan yang melewati bendungan," kata Si Sulung.
"Kami tidak ingat itu," kata mereka. Sebab, waktu itu mereka masih kecil dan waktu telah menghapuskan banyak hal dari ingatan mereka.
"Namun, aku mengirimi kalian uang, yang mempertahankan hidup kalian sejak bendungan itu ditutup," kata Si Sulung.
"Kami tak pernah menerima uangmu; uang yang kami peroleh merupakan upah atas pekerjaan kami sendiri membantu para pengelana pedagang," jawab mereka serempak.
"Apa kau bisa menggambarkan tentang ibu kami?" tanya seorang adiknya yang masih mencari bukti.
Tetapi, ibu mereka sudah lama meninggal, dan ingatan mereka pun telah kabur sehingga mereka meragukan semua ingatan Si Sulung tentang sang ibu. "Kalaupun kau ini benar-benar kakak kami, apa maksud kedatanganmu?" tanya mereka.
"Aku ingin mengatakan pada kalian bahwa tuan lalim itu sudah tewas. Bahwa para prajuritnya telah membelot mengabdi kepada orang lain. Bahwa inilah saatnya bagi kita untuk mengembalikan kehijauan dan kebahagian di tanah ini."
"Aku tak ingat ada tuan lalim," kata adiknya yang pertama. "Tanah di sini selalu seperti ini," kata yang kedua. "Untuk apa kami harus menuruti kata-katamu?" tanya yang ketiga. "Aku ingin menolongmu, tetapi aku belum mengerti sepenuhnya apa yang kau katakan," kata yang keempat.
"Mari kita mulai bekerja," kata Si Sulung.
"Lebih baik kita menunggu apakah para pedagang datang," kata yang lainnya.
"Tentu saja mereka tidak akan datang," kata Si Sulung, "Sebab akulah yang menyuruh mereka." Tetapi, mereka berdebat, berdebat, dan berdebat.
Musim itu para pedagang tidak melewati jalan ke tanah bersaudara itu, sebab salju telah menghalangi jalan.
Sebelum datang musim salju, para kafilah melintasi sepanjang Jalur Sutra, tuan lalim yang kedua, yang lebih jahat dari yang pertama, muncul. Pada awal kemunculannya, tuan lalim itu hanya mengambil tanah yang ditinggalkan oleh pemiliknya. Ia melihat bendungan tak bertuan itu dan bangkitlah ketamakannya.
Ia bukan saja mengambil bendungan itu, tetapi juga memperbudak kelima orang bersaudara itu, sebab mereka masih sehat untuk bekerja berat, bahkan yang tertua sekalipun. Dan kelima orang bersaudara itu tetap saja adu mulut. Tampaknya tak ada lagi yang bisa menghentikan raja lalim itu kini.
Berasal dari Abu-Ali Muhammad bin Al-Qasim Al-Rudbari, kisah ini merupakan cerita terkenal dari Jalan Guru, tarekat Khwajagan.
Cerita ini menggambarkan asal-usul pelik dari ajaran-ajaran sufi, yang datang dari suatu tempat, tetapi tampaknya datang dari tempat lain, sebab pikiran manusia tak dapat merasakan (seperti kelima bersaudara dalam Fabel tadi) 'Sumber yang sejati'.
Rudbari memperoleh 'Rantai Peralihan' ajarannya dari semua sufi terdahulu, terutama dari Shibli, Bayazid, dan Harudan Qassar.


http://id.berita.yahoo.com/kisah-bijak-para-sufi-bendungan-110905315.html