Tampilkan postingan dengan label Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anak. Tampilkan semua postingan

Jumlah Anak Perempuan yang Disunat Menurun

Jumlah Anak Perempuan yang Disunat Menurun


Jumlah anak perempuan yang terancam praktik sunat perempuan yang mengancam jiwa, sudah menurun. Menurut data baru dari Perserikatan Bangsa-Bangsa yang diluncurkan pada tanggal 6 Februari dalam rangka Hari Internasional Tanpa Toleransi untuk Sunat Perempuan.

Data tersebut menunjukkan bahwa sunat perempuan secara umum semakin menurun dan generasi muda semakin kurang rentan terhadap praktik tersebut.

Di 29 negara di Afrika dan Timur Tengah, di mana praktik sunat perempuan berpusat, rata-rata 36 persen anak perempuan berusia 15-19 tahun telah disunat, dibandingkan dengan kira-kira 53 persen wanita berusia 45-49 tahun. Penurunan tajam terutama terjadi di beberapa Negara: di Kenya, misalnya, wanita berusia 45-49 tahun memiliki kemungkinan telah disunat sebanyak tiga kali lipat dibandingkan anak perempuan berusia 15-19 tahun.

“Kemajuan ini menunjukkan bahwa mengakhiri sunat perempuan adalah sesuatu yang mungkin,” kata Direktur Eksekutif UNICEF Anthony Lake dalam keterangan yang diterima Tribunnews.com, Kamis (7/2/2013).

“Sunat perempuan tidak hanya salah secara mendasar, kita mampu dan harus mengakhirinya untuk membantu jutaan anak perempuan dan wanita memiliki hidup yang lebih sehat,” tambahnya.

Data perkiraan terbaru dari UNICEF menunjukkan bahwa setidaknya 120 juta anak perempuan dan wanita telah mengalami sunat perempuan di 29 negara. Berdasarkan tren saat ini, sebanyak 30 juta anak perempuan di bawah 15 tahun masih memiliki resiko mengalami sunat perempuan. Program Gabungan antara Dana Kependudukan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNFPA) dan UNICEF tentang Sunat Perempuan kini tengah membuat kemajuan dalam mencegah anak-anak perempuan dan generasi masa depan mengalami sunat perempuan.

Data perkiraan terbaru selaras resolusi Majelis Umum PBB yang telah disahkan dengan suara bulat pada Desember 2012, dengan menghimbau Negara-negara Anggota untuk mengintensifkan upaya-upaya untuk menghilangkan praktik sunat perempuan secara menyeluruh.


http://www.tribunnews.com/2013/02/07/jumlah-anak-perempuan-disunat-menurun

Fatwa Wajib Jilbab untuk Bayi


Fatwa Wajib Jilbab untuk Bayi


Masih ingatkah Anda dengan peraturan Pemerintah Kota Lhokseumawe, Nanggreo Aceh Darussalam, yang melarang wanita membonceng motor dengan mengangkang? Nah, kali ini peraturan yang juga membuat kontroversi muncul di Arab Saudi.

Seorang ulama di daratan Arab, Sheikh Abdullah Daoud, menyerukan agar bayi perempuan diharuskan mengenakan jilbab, lengkap dengan cadar. Sheikh Daoud menyerukan aturan ini dalam sebuah wawancara di televisi lokal Al- Majd.

Menurut Daoud, kewajiban jilbab bagi bayi perempuan itu perlu agar terhindar dari pelecehan seksual dan penganiayaan.

Kantor berita Al Arabiya, Minggu 3 Februari 2013 melapotkan bahwa fatwa ini telah menimbulkan kecaman dari berbagai pihak, termasuk masyarakat luas melalui media sosial.

Para pengguna Twitter misalnya, menyerukan agar Sheikh Daoud mempertanggungjawabkan keputusan fatwanya itu. Hal ini karena dinilai mencemarkan nama baik Islam dan melanggar privasi.

Tidak hanya masyarakat biasa, seruan lain juga terlontar dari mantan hakim Saudi, Sheikh Mohammad Al-Jzlana. Menurutnya, pernyataan Sheik Daoud merendahkan Islam dan Syariah.

Al-Jzlana juga menyerukan agar masyarakat mengabaikan fatwa yang tidak diatur dalam peraturan pemerintah. Menurutnya, untuk mengelola maklumat keagamaan, pemerintah Saudi-lah yang lebih berhak mengatur.

Al-Jzlana mengaku kerap merasa sedih setiap kali melihat sebuah keluarga berjalan-jalan dengan bayi yang tertutup. Menurutnya, jilbab telah memberikan ketidakadilan terhadap anak-anak.


http://dunia.news.viva.co.id/news/read/387434-ulama-arab-keluarkan-fatwa-bayi-wajib-berjilbab

Gaya Hidup Sehat untuk Anak

Gaya Hidup Sehat untuk Anak


MEMILIKI anak yang cerdas dan sehat merupakan dambaan bagi semua orang tua. Ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan agar anak terhindar dari masalah kesehatan saat ia beranjak dewasa nanti. Seperti yang dikutip dari Eufic.org, berikut adalah beberapa tipsnya:

1. Nikmatilah makananmu. Buatlah agar anak Anda untuk menyukai makanan yang disediakan, jangan membiasakan menuruti makanan yang diminta si kecil. Meskipun hal tersebut merupakan bentuk kasi saying, namun Anda harus memiliki aturan tersendiri dalam soal makanan yang dikonsumsinya.

2. Bermain itu tidak harus dengan video game. Ada banyak kegiatan menyenangkan yang bisa Anda ajarkan kepada anak. Bukan hanya menyenangkan, namun juga membuat tubuh mereka tidak dimanjakan dengan hanya menonton video game seharian. Ajari anak untuk bersosialisasi dengan lingkungannya, dengan demikian selain sehat, anak juga bisa belajar untuk berbagi.

3. Sarapan merupakan hal penting. Jangan kalah dengan alasan mengantuk yang sering dilontarkan oleh anak. Sebisa mungkin bujuk anak untuk menikmati santap pagi mereka. Hal tersebut dimaksudkan agar anak tetap bugar hingga santap siang tiba.

4. Menu yang variatif itu menyenangkan. Anak memang cenderung mengonsumsi itu-itu saja jika makanan tersebut menjadi favoritnya. Sebaiknya, kenalkan makanan yang lebih bervariasi. Ciptakan suguhan yang menarik perhatian mereka.

5. Karbohidrat juga perlu. Sekitar setengah kalori dalam diet Anda harus berasal dari makanan karbohidrat, seperti sereal, beras, pasta kentang dan roti. Penuhi asupan karbohidrat pada makanan anak Anda.

6. Makan buah dan sayur juga menyenangkan. Buatlah kreasi yang membuat anak untuk mau menyantap sayur serta buah. Diperlukan kreativitas sang ibu agar nutrisi buah dan sayur mereka tercukupi. Anda bisa mencampur sayuran dalam sepiring adonan omelet atau smoothie yang menyegarkan.

7. Terlalu banyak lemak itu tidak baik. Terlalu banyak lemak yang tidak baik untuk kesehatan anak Anda. Mengonsumsi makanan berlemak seperti kentang goreng, daging goreng, sosis, dan kue-kue terlalu banyak tidak dianjurkan. Untuk itu buatlah peraturan kapan mereka bisa mengonsumsinya.

8. Serangan Snack! Makanlah secara teratur dan memilih berbagai makanan ringan. Sebagai orang tua, Anda wajib memilah mana camilan yang menyehatkan dan yang tidak. Meskipun tidak harus berbahan baku sayur dan buah, usahakan camilan yang dipilih tidak mengandung banyak pemanis dan juga pengawet.

9. Pastikan agar anak tetap mencukupi konsumsi air putih yang cukup. Sajikan air putih di botol yang disukai anak.

10. Jangan malas untuk mengecek kesehatan gigi anak. Meskipun mereka malas untuk menggosok gigi, Anda harus tetap membujuknya agar kesehatan gigi dan mulut anak tetap terjaga.


http://www.metrotvnews.com/metrolife/news/2012/12/10/117122/-Inilah-Gaya-Hidup-Sehat-untuk-Anak-/11

Jangan Terpaku Tanggal Cantik untuk Melahirkan

Jangan Terpaku Tanggal Cantik untuk Melahirkan


Banyak orang tua yang ingin anaknya lahir pada 12 Desember 2012 (12.12.12) karena dianggap sebagai angka yang cantik, sehingga tidak jarang para ibu hamil memesan tanggal ini untuk kelahiran anak mereka.

"Ada ibu hamil yang memesan tanggal cantik untuk kelahiran anak mereka dan biasanya dilahirkan dengan proses sesar," ujar dokter spesialis anak dari Rumah Sakit Ibu dan Anak Tambak Dr. J. Mila Hardiani Sp.A.

Mila mengatakan dokter kandungan biasanya memberi ijin untuk memesan tanggal kelahiran anak, bila usia janin sudah mencapai 38 minggu.

Pada usia ini, janin dianggap sudah matang dan siap. Sehingga sebaiknya jangan terpaku pada tanggal 'cantik' saat ibu hamil akan melahirkan.

"Namun sebaiknya bayi lahir sesuai dengan waktunya sendiri secara alami. Kalaupun dalam keadaan darurat, bayi dengan aman dapat dilahirkan pada usia 37 minggu," kata Mila.

Sebelum 38 minggu, bayi dianggap belum matang karena beberapa organ dalam tubuhnya belum sempurna terbentuk.

"Meskipun jantung sudah siap, namun paru-paru bayi masih belum matang dan sangat lemah," ujar Mila.

Lebih lanjut Mila menjelaskan bahwa bayi yang lahir dengan paru-paru belum sempurna akan mengalami gangguan pernapasan.

Napas bayi cenderung menjadi cepat, sehingga bayi mengalami sesak napas. "Ini akan sangat membahayakan bayi," imbuh Mila. 


http://www.antaranews.com/berita/348196/jangan-terpaku-tanggal-cantik-untuk-melahirkan

Tablet Untuk Anak Dari LG

Tablet Untuk Anak Dari LG


LG memasuki pasar yang terbilang masih baru, yakni pasar tablet khusus untuk anak-anak. Vendor asal Korea Selatan ini membuat 'iPad' untuk pengguna cilik bernama Kids Pad.

Di Korea Selatan, tablet ini sudah tersedia. Namun belum diketahui apakah LG juga akan menjualnya untuk pasar di luar negaranya. Harganya 299,000 won atau sekitar Rp 2,6 jutaan.

Jika mau dibandingkan, dengan harga kurang lebih sama, konsumen bisa mendapatkan Nexus 7. Namun karena menyasar segmen anak-anak, tentu saja Kids Pad didesain secara khusus.

Seperti dikutip detikINET dari Into Mobile, Jumat (23/11/2012), selain tampilannya yang warna-warni, materialnya pun diklaim bebas racun sehingga aman bagi anak-anak. LG tahu, para orangtua mempertimbangkan hal ini.

Tablet berbasis Android dilengkapi segudang aplikasi anak-anak, termasuk game dan materi belajar. LG tidak menyebutkan detail spesifikasi tablet ini. Hanya disebutkan, terdapat kamera dan MP3 Player.


http://inet.detik.com/read/2012/11/23/072934/2098995/317/lg-buat-ipad-khusus-anak-anak?i991101105

5 Anak Tewas di Tong Sampah

5 Anak Tewas di Tong Sampah


Lima anak jalanan ditemukan tewas di tong sampah di kota Bijie, Provinsi Guizhou, di Cina barat daya.

Laporan media di Cina, hari Minggu (18/11), menyebutkan bahwa kelima mayat anak tersebut ditemukan oleh seorang pemulung hari Jumat sekitar pukul 10.00 pagi.

Menurut para pejabat Cina, anak-anak yang berusia 10 tahunan ini mungkin masuk ke tong sampah untuk menghindari cuaca yang dingin.

Namun mereka kemudian kehabisan oksigen.

Warga di sekitar lokasi kejadian mengatakan mereka sempat melihat anak-anak ini bermain dengan bola usang yang ditemukan di tempat sampah.

Suhu udara pada malam hari di kota Bijie, yang terletak di daerah pegunungan, mencapai 6 derajat Celcius.

Pemerintah setempat, seperti dikutip media di Beijing, mengatakan kelima anak ini telah dibawa ke kamar mayat dan penyeldikan untuk mengetahui kasus ini telah dimulai.

Polisi juga berusaha mencari tahu keluarga kelima anak tersebut.


http://www.bbc.co.uk/indonesia/majalah/2012/11/121118_anak_cina.shtml

Orang Tua Tidak Ingin Anaknya Jadi Anggota DPR

Orang Tua Tidak Ingin Anaknya Jadi Anggota DPR


Maraknya berbagai kasus korupsi yang melibatkan sejumlah anggota DPR, membuat popularitas anggota parlemen di Indonesia terus menurun. Bahkan saat ini, ternyata banyak masyarakat tak menginginkan keluarganya menjadi anggota DPR.

Penelitian Lingkar Survei Indonesia (LSI) yang dilakukan pada tanggal 12-15 November 2012, dengan jumlah responden 1.200 orang yang ditentukan melalui cara multistage random sampling itu, membuktikannya.

Dipaparkan, Peneliti LSI Rully Akbar, di Kantor LSI di Jakarta, Minggu (18/11/2012), menyatakan sebanyak 56,43 persen responden tidak menginginkan anaknya menjadi anggota Dewan di Pemilu 2014. Hanya 37,62 persen orangtua yang ingin anaknya duduk di parlemen dan 5,95 persen menjawab tidak tahu.

Angka tersebut pun hampir sama ketika ditanya apakah responden ingin menjadi anggota Dewan di Pemilu 2014. Sebanyak 54,92 persen responden tidak ingin menjadi anggota Dewan. Hanya 38,37 persen yang ingin menjadi anggota Dewan dan 6,71 persen menjawab tidak tahu.

Sementara, tingkat kesalahan pada survei tersebut, kurang lebih 2,9 persen.

Angka itu, kata Rully, berbeda dengan hasil survei tahun 2008.
Saat itu, justru mayoritas responden atau 59,22 persen ingin anaknya menjadi anggota Dewan. Hanya 31,32 persen yang menjawab tidak ingin dan 9,46 peren tidak menjawab.

"Jadi, meningkat 25 persen, publik tidak ingin keturunan mereka jadi anggota DPR. Anggota Dewan tidak lagi jadi primadona orangtua," kata Rully. 


http://www.tribunnews.com/2012/11/18/banyak-orang-tua-tidak-ingin-anaknya-jadi-anggota-dpr

Flu Saat Hamil Anak Bisa Lahir Autis

Flu Saat Hamil Anak Bisa Lahir Autis


Penyebab autisme hingga kini belum bisa dipastikan. Namun sebuah survei mengungkapkan ibu yang flu saat hamil, dua kali lebih mungkin memiliki anak autisme.

Demikian hasil survei baru dari sebuah studi Denmark seperti dikutip ABCNews, Selasa (13/11).

Penelitian memang tidak menunjukkan bahwa demam tinggi atau flu menjadi penyebab autisme. Tapi banyak ahli yang mengatakan korelasi ini bisa memperkuat rekomendasi agar semua wanita hamil divaksinasi flu.

Studi ini dilakukan para peneliti di Denmark dan .S. Centers for Disease Control and Prevention. Mereka melihat hampir 97.000 anak-anak usia 8 sampai 14 tahun yang lahir di Denmark antara 1997 dan 2003. Hasilnya, hanya 1 persen yang didiagnosa dengan gangguan spektrum autisme.

Para peneliti mewawancarai ibu selama kehamilan dan setelah melahirkan mengenai infeksi dan demam tinggi yang mereka alami saat hamil, serta apakah mereka telah menggunakan antibiotik.

Wawancara dengan ibu hamil itu meliputi lebih dari 200 pertanyaan untuk mencari informasi tentang berbagai jenis infeksi selama kehamilan.

Meskipun penelitian ini tidak dirancang tentang kasus flu, ibu yang melaporkan mengalami flu selama kehamilan mereka, dua kali lebih mungkin memiliki anak dengan autisme. Penelitian ini diterbitkan dalam jurnal Pediatrics.

Mereka yang demam berlangsung selama seminggu atau lebih, sebelum trimester ketiga cenderung tiga kali lebih mungkin untuk memiliki anak dengan spektrum autisme.

Meski vaksinasi flu dapat mencegah banyak kasus influenza, temuan ini tidak menunjukkan bahwa mendapat vaksinasi flu akan mencegah perkembangan autisme.

Studi ini juga menemukan sejumlah ibu yang minum satu jenis antibiotik yang disebut macrolides, lebih dikenal dengan nama-nama seperti azitromisin atau eritromisin, hanya sedikit peningkatan risiko.

Studi pada hewan telah menunjukkan bahwa otak bayi terpengaruhi ketika respon kekebalan tubuh wanita dipicu selama kehamilan, seperti memerangi infeksi.

Temuan awal menunjukkan sistem kekebalan tubuh ibu mungkin memainkan peran dalam perkembangan bayi, meskipun tidak hampir sama kuatnya dengan asosiasi yang ditemukan dalam studi hewan.

"Ini adalah sebuah artikel menarik, karena meningkatnya bukti dasar ilmiah kasus autisme yang mungkin berhubungan dengan faktor-faktor imunologi, yang mempengaruhi perkembangan otak janin pada anak-anak yang rentan," kata Dr Susan Hyman, ketua dari American Academy of Pediatrics pada subkomite autisme. Hyman tidak terlibat dalam penelitian ini.

Para peneliti tidak menemukan hubungan antara infeksi dalam saluran, kandung kemih, dan genital kemih, dan autisme.

Sementara itu, menurut Dr Shlomo Shinnar, profesor neurologi, pediatri dan epidemiologi dan kesehatan penduduk di Albert Einstein College of Medicine di New York, korelasi yang ditemukan tidak cukup menunjukkan faktor pada kondisi apapun selama kehamilan yang berkontribusi terhadap perkembangan anak autisme.

"Ini bisa sangat merusak ketika bagian keluarga, baik yang dekat atau jauh, menyalahkan penyakit ringan yang ibu derita berpengaruh dengan kondisi anak," kata Shinnar.

Menurut peneliti, selama studi banyak penyesuaian yang dibuat dan peneliti bergantung pada respon dari wanita, daripada catatan medis. Alhasil, penelitian ini tidak bisa memberikan hubungan yang definitif antara flu atau demam tinggi dengan autisme.

"Setiap episode demam mungkin keliru untuk influenza, dan tidak semua perempuan yang terinfeksi dengan virus influenza mungkin telah menyadari hal ini," tulis para peneliti.

"Hubungan antara antibiotik dan autisme adalah penemuan baru yang memerlukan konfirmasi".

Menurut Hyman, tidak semua demam tinggi memerlukan antibiotik. Dokter yang merawat ibu hamil juga harus bisa memberikan antibiotik dengan bijakasana jika mencurigai terkena penyakit dari bakteri.

"Antibiotik tidak diperlukan untuk demam pada umumnya dan virus yang tidak rumit," ujarnya.

Meskipun selama kehamilan banyak obat yang dibatasi, ibu hamil dengan demam tinggi atau flu harus berkonsultasi dengan dokter mereka tentang pengobatan yang tepat.

"Wanita hamil yang terkena penyakit virus ringan bisa dengan perawatan konvensional, "kata Hyman."

"Dosis tinggi dari beberapa suplemen dan produk tidak diatur mungkin memiliki efek lain pada janin. "

Dr Colleen Boyle, Direktur National Center on Birth Defects and Developmental Disabilities mengatakan, secara umum, wanita dapat membangun kekebalan mereka dengan hanya mendapatkan vaksinasi flu. Suntikan tidak hanya melindungi ibu terhadap strain tertentu dari flu, tetapi juga melindungi bayi sampai enam bulan setelah lahir.

"Ini adalah musim vaksin flu sehingga ibu hamil harus mendapatkan vaksin flu segera," kata Boyle.


http://health.liputan6.com/read/453140/ibu-hamil-flu-bisa-lahirkan-anak-autisme

Dokter Anak Kunci Sukses Imunisasi Nasional

Dokter Anak Kunci Sukses Imunisasi Nasional


Pakar vaksin dr. Novilia S. Bachtiar, Kepala Divisi Surveilans PT Bio Farma (Persero), mengharapkan para dokter anak paham soal vaksin karena mereka sangat diperlukan saat menyampaikan informasi secara benar soal vaksin dan vaksinasi kepada masyarakat.

Dr. Novalia Bachtiar menyampaikan harapannya itu saat mewakili Bio Farma sebagai narasumber seputar vaksinasi dalam kegiatan pertemuan dengan ahli (Meet The Expert) Pekan Tahunan Ilmiah Ikatan Dokter Anak Indonesia (PTI IDAI) 2012 di Bandung pekan lalu.

Para dokter anak sebagai pengguna produk vaksin, kata Novalia, merupakan garda terdepan Pemerintah yang berhubungan langsung dengan masyarakat dan merupakan kunci sukses program imunisasi nasional.

"Ada beberapa hal penting perlu diperhatikan bahwa anak-anak mengisi 30 persen dari jumlah populasi di dunia," katanya.

Menurut Novalia, walau populasi anak-anak hanya 30 persen, tetapi masa depan bangsa saat ini 100 persen berada di tangan mereka. Dengan demikian, semua pihak harus berusaha sebaik mungkin memberikan yang terbaik untuk mewujudkan masa depan yang lebih baik bagi mereka.

"Masyarakat tidak perlu ragu akan keamanan dan manfaat imunisasi. Saat ini, 194 negara di melaksanakan imunisasi. Bahkan, negara-negara dengan tingkat sosial ekonomi yang tinggi masih terus melaksanakan program imunisasi, termasuk negara-negara berpenduduk mayoritas Islam," kata Novilia.

Sementara itu, berbicara dalam forum yang sama pekan lalu, Dr. Soedjatmiko dalam kapasitas sebagai Wakil Ketua Satgas Imunisasi mengemukakan, selama ini terdapat informasi menyesatkan seputar vaksinasi di masyarakat. Beberapa kelompok masyarakat menggunakan isu vaksin dan vaksinasi untuk meningkatkan kepentingan bisnis pribadi.

Isu negatif penolakan vaksin ini menjadi kecenderungan topik di dunia maya, khususnya media sosial seperti Twitter, Facebook, milis, dan blog.

"Oleh karena itu perlu dijelaskan terhadap pemikiran yang keliru tersebut," kata Soedjatmoko, agar kejadian atau kematian penyakit infeksi berat dapat dicegah dan ditekan melalui imunisasi.

Berdasarkan data terakhir WHO, sampai saat ini angka kematian Balita akibat penyakit infeksi yang seharusnya dapat dicegah dengan imunisasi masih tinggi, terdapat kematian Balita 1,4 juta jiwa per tahun, misalnya batuk rejan 294.000 (20 persen), tetanus 198.000 (14 persen), campak 540.000 (38 persen).

Mengutip UNICEF, Soedjatmoko mengatakan, ada sekitar 30.000-40.000 anak setiap tahun menderita serangan campak. Imunisasi merupakan kewajiban guna memberikan kesejahteraan bagi anak-anak sesuai dengan hak anak yang tercantum dalam Konvensi Hak Anak yang telah diratifikasi oleh Pemerintah Indonesia tahun 1990, yaitu hak untuk dilindungi.

"Vaksin yang tersedia saat ini aman karena telah melalui tahapan uji klinik, dan mendapat ijin edar BPOM. Vaksin yang dipakai oleh program imunisasi juga telah memperoleh pengakuan dari Badan International WHO dan lolos PQ (prakualifikasi)," kata dr Soedjatmiko.

Ditambahkannya, ada beberapa pemikiran keliru mengenai imunisasi di masyarakat. Pemikiran yang sering muncul antara lain isu vaksin tidak halal karena menggunakan media yang tidak sesuai syariat, efek samping berbahaya, isu konspirasi negara Barat untuk meracuni penduduk negara berkembang serta adanya bisnis besar di balik program imunisasi.

Dari sisi pandangan agama, sebagaimana disampaikan Dr. Amirsyah dari MUI, vaksin-vaksin yang dipergunakan dalam program imunisasi nasional aman dan telah mendapat izin dari MUI. Vaksin tersebut buatan Bio Farma dan telah diekspor ke beberapa negara-Islam.

Masyarakat sebaiknya lebih waspada terhadap berbagai isu yang muncul dan jangan mudah mempercayai hal-hal yang tidak jelas dan tidak ilmiah. Untuk itu, perlu adanya jalinan kerjasama dengan berbagai sektor terkait guna mendidik masyarakat dalam hal imunisasi, demikian Amirsyah. 


http://www.antaranews.com/berita/340141/dokter-anak-kunci-sukses-imunisasi-nasional

Mengunyah Bisa Rangsang Pertumbuhan Gigi Anak

Mengunyah Bisa Rangsang Pertumbuhan Gigi Anak


Pertumbuhan gigi bayi mulai terjadi pada usia enam bulan. Di usia itu, kita dapat mengenalkannya dengan makanan pendamping air susu ibu (MP ASI). Pemberian MP ASI berupa buah-buahan, sayuran, atau bubur nasi.

Untuk penyajian, sebaiknya jangan haluskan makanan, karena tekstur kasar makanan bagus untuk anak.

"Tekstur makanan kasar akan merangsang pertumbuhan gigi dan memengaruhi kemampuan linguistik anak," tutur dr Tatang Puspanjono SpA, dari RS MRCCC Siloam, Semanggi, Jakarta, Sabtu (20/10/2012).

Tapi, apa yang terjadi jika anak sudah berusia tiga tahun tidak mau mengonsumsi makanan bertekstur atau kasar?

"Kalau sampai tiga tahun enggak mau makan kasar, maka kemampuan linguistiknya kurang," jelas Tatang.

Di sisi lain, ketika gigi anak mau tumbuh, gusi akan mengeras. Ini menyebabkan mereka lebih suka mengemut waktu makan, atau menggigit-gigit benda di sekitarnya.

Mengemut makanan sebaiknya jangan dilakukan, karena akan memperbanyak proses pembentukan gula yang tidak baik bagi gigi.


http://www.tribunnews.com/2012/10/20/mengunyah-bisa-rangsang-pertumbuhan-gigi-anak

Aneka Mainan Anak di Pasar Gembrong

Aneka Mainan Anak di Pasar Gembrong


Ingin membeli mainan anak untuk berbagai keperluan seperti hadiah ulang tahun atau hadiah kenaikkan kelas?. Di Jakarta banyak pilihan tempatnya. Anda bisa jalan ke mal atau pusat pusat perbelanjaan lainnya.

Namun, jika Anda mau sedikit berdesak-desakkan pergilah ke Pasar Gembrong di jalan Basuki Rachmat, Jati Negara, Jakarta Timur. Pasar ini bagaikan surga mainan untuk anak-anak. Walau disini Anda akan berkeringat karena 'AC'-nya hanya dari kipas baling-baling atau hembusan angin dari lalu lalang kendaraan yang lewat. Tapi asyiknya, mainan di sini punya harga murah dan bisa ditawar dengan kualitasnya terlihat baik.

Maya (29) pengunjung asal Lubang Buaya, Jakarta Timur. ia dan anaknya sengaja datang untuk membeli sebuah skuter. "Saya beli skuter, lumayan irit gocap (Rp.50ribu) daripada di mal", ujarnya. Ia membeli sebuah skuter dengan harga Rp580 ribu.

Edy, seorang pedagang asal Garut, Jawa Barat mengatakan, "Kalau hari libur ramai mas. Kami juga layani pembeli grosiran", ujar Edy.

Hampir semua toko di pasar ini menjual mainan. Mulai dari bola-bola, pistol-pistolan, aneka boneka, sampai mainan untuk orang dewasa, seperti aeromodeling, mobil RC dan airsoft gun juga ada di sini. Kecuali itu, di sini juga banyak dijajakan suku cadang untuk mainan-mainan tersebut.

Untuk keperluan rumah tangga, cobalah beranjak sedikit menyusuri jalan ke arah Cipinang, akan ditemui banyaknya pedagang karpet dalam berbagai ukuran. Selain itu, di sini juga banyak dijajakan suku cadang untuk mainan-mainan tersebut.

Tentu, Anda bisa menawar harga setiap barang-barang dan memilih sesuai selera. Dan, di sekitar pasar juga banyak terdapat tukang servis mainan yang bisa menyulap mainan Anda menjadi seperti baru lagi. Pasar ini biasanya buka mulai pukul 09.00-18.00 WIB. Bagi Anda yang membawa kendaraan roda empat sebaiknya dipertimbangkan lagi. Karena disini lahan parkirnya sempit, apalagi sekarang ada pekerjaan pelebaran jalan yang belum selesai.


http://jaringnews.com/seleb/hangout/24439/aneka-mainan-anak-di-pasar-gembrong-jakarta-timur

Suramnya Kehidupan Anak Muda di Somalia

Suramnya Kehidupan Anak Muda di Somalia 


Laporan Pembangunan Manusia Somalia Tahun 2012 mengatakan angka pengangguran Somalia yang berusia 30 tahun dan di bawah 30 tahun mencapai 67 persen.

Sebuah laporan baru PBB menggambarkan kehidupan suram anak muda di Somalia – khususnya kaum perempuan – dan mengatakan sebuah “visi baru yang dramatis” dibutuhkan untuk mengubah negara itu.

Laporan Pembangunan Manusia Somalia Tahun 2012 mengatakan angka pengangguran Somalia yang berusia 30 tahun dan di bawah 30 tahun mencapai 67 persen. Ini merupakan salah satu yang tertinggi di dunia.

Laporan itu mengatakan lebih dari 60 persen kaum muda di Somalia berniat meninggalkan negara itu, dengan harapan bisa memperoleh kehidupan yang lebih baik.

Laporan itu menempatkan Somalia pada peringkat kedua – di bawah Afghanistan – sebagai negara terburuk di dunia bagi kaum perempuan. Laporan itu menambahkan kaum perempuan menghadapi aksi kekerasan berlatar jender dan ketidaksetaraan ekstrim, khususnya terkait perawatan kesehatan, pemberdayaan dan pekerjaan.

Laporan itu mencatat 70 persen jumlah penduduk Somalia berusia di bawah 30 tahun dan mendesak “pemberdayaan positif kaum muda” sebagai strategi pembangunan masa depan utama. 


http://www.voaindonesia.com/content/laporan-pbb-gambarkan-kehidupan-anak-muda-somalia-suram/1518545.html

Tontonan Televisi Pengaruhi Anak

Tontonan Televisi Pengaruhi Anak


MASA anak-anak adalah masa pembelajaran. Mereka akan mengikuti apa yang biasa mereka lihat atau dengar. Pembentukan karakter anak ini tentu akan berpengaruh terhadap kararkter mereka kelak. 
Pada umumnya, anak akan meniru apa yang mereka lihat dan dengar, baik secara langsung ataupun tidak langsung. Dan tontonan televisi menjadi salah satu sumber contoh perilaku yang dapat mempengaruhi perangai anak.

Apa yang kita lihat sekarang adalah tontonan televisi yang menyiarkan kekerasan, baik secara fisik ataupun perkataan (bullying). Hal ini tentu menjadi perhatian bagi semua orang karena saat anak menyaksikan, mereka tidak tahu apakah yang mereka lihat itu nyata atau pura-pura.

Peran orangtua untuk melakukan kontrol terhadap apa yang anak mereka lihat sangatlah penting. Sayangnya, sebagian besar orangtua tidak menyadari bahwa beberapa program televisi bisa mengajar anak-anak untuk menjadi kejam terhadap orang lain, demikian yang dilansir Everydayhealth.

“Hanya karena acara tersebut tidak mengandung unsur kekerasan fisik, tidak berarti itu tidak berbahaya,” tutur penulis studi Nicole Martins, asisten profesor di departemen telekomunikasi di Indiana University.

Perhatian dari orangtua untuk lebih peduli terhadap tontonan anak di televisi menjadi salah satu cara untuk mengurangi risiko anak meniru apa yang mereka lihat.


http://health.okezone.com/read/2012/09/28/483/696635/waspada-tontonan-televisi-pengaruhi-anak

Hindarkan Pelajar dari Tawuran

Hindarkan Pelajar dari Tawuran


Kalangan pengamat atau lembaga terkait dengan pendidikan seperti terlecut suara petir ketika lagi-lagi mendengar seorang siswa tewas akibat tawuran antarpelajar di Jakarta, Senin, 24 September 2012. Mereka saling tuding siapa yang semestinya bertanggung jawab atas insiden mematikan itu.

Alwi Yusianto Putra, siswa kelas X SMA Negeri 6, telah menjadi korban tawuran dengan para pelajar di SMA Negeri 70. Kedua sekolah ini bertetangga di Bulungan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Aksi tawuran pelajar sesungguhnya telah menjadi perhatian Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono setelah kasus kekerasan di SMA Don Bosco, Pondok Indah, Jakarta Selatan.

“Kekerasan di Don Bosco diminta Presiden agar tak terulang lagi,” ujar Badriah Fayuni, Koordinator Bidang Pendidikan di Komisi Perlindunagan anak Indonesia, mengutip pernyataan presiden beberapa waktu lalu.

Namun, aksi saling keroyok dengan senjata tajam terulang kembali di ibu kota negara, bahkan meminta korban jiwa. Berdasarkan data dari Komisi Perlindungan Anak, sedikitnya 16 siswa telah meregang nyawa akibat kasus serupa sepanjang tahun ini. Mereka berasal dari 86 kasus tawuran antarpelajar yang terjadi di Jakarta dan sekitarnya. “Ada puluhan lainnya yang menderita luka berat dan ringan akibat perkelahiran itu,” ujar Ketua Komisi, Arist Merdeka Sirait.

Arist menjelaskan, tawuran antarpelajar bukan peristiwa baru, terutama di Jakarta dan sekitarnya. Tren kejadiannya bahkan meningkat dari tahun ke tahun. “Pada 2011 misalnya, terjadi 139 kasus tawuran dengan jumlah korban jiwa 39 anak,” ujarnya.

Menurut Badriah, jika tawuran yang menyebabkan kematian siswa, semestinya hal itu menjadi tamparan keras bagi dunia pendidikan. “Sekolah yang terlibat, Dinas Pendidikan, dan Kementerian yang tertampar,” ujarnya.

Pengamat pendidikan Arif Rahman Hakim kepada Radio El Shinta, Rabu pagi, 26 September 2012, mengatakan untuk menghindari aksi tawuran pelajar yang kian marak perlu diadakan kegiatan bersama antarpelajar. Kegiatan itu, misalnya melakukan olah raga bersama, naik gunung, atau kegiatan lainnya.

Arif memberikan tanggapannya terhadap kematian Alwi yang menjadi korban tewas akibat disabet senjata tajam oleh sejumlah siswa SMA Negeri 70 dalam tawuran antarpelajar, Senin lalu.

Mengenai usul penggabungan sekolah agar terhindar dari tawuran antarpelajar ditolak keras oleh M. Ihsan dari Satuan Tugas Perlindungan Anak. “Penggabungan sekolah yang kerap tawuran bukan solusi terbaik. Wacana ini semestinya tak diterima,” kata M. Ihsan.

Menurut dia, tawuran merupakan ekspresi kekerasan yang ditampilkan oleh pelajar. Ekspresi ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor, seperti lemahnya pengasuhan dan ketahanan keluarga, pendidikan yang tidak ramah anak, lingkungan yang anarkis, serta mempertontonkan kekerasan. "Premanisme elit dan jalanan, sinetron, serta game online," katanya.

Tawuran juga dapat dipicu oleh ketidakmampuan orang dewasa memahami dunia anak, energi yang tidak tersalurkan dengan baik, dan fasilitas yang terbatas. Kemudian, tekanan sistem pendidikan yang membuat anak stres, pengaruh kelompok atau pergaulan, pendapat dan suara anak yang tidak didengarkan.

"Kurangnya penghargaan terhadap anak dan pemanfaatan waktu luang juga menjadi pemicu," ujar dia. Untuk mengurangi ekspresi kekerasan ini, menurut Ihsan, pemerintah dan masyarakat seharusnya segera berbenah dengan melibatkan anak. "Libatkan anak dalam semua proses, bukan menggabungkan sekolah," ujarnya


http://www.tempo.co/read/fokus/2012/09/26/2588/Hindarkan-Pelajar-dari-Tawuran

Ajari Anak Menabung Dari Uang Sakunya

Ajari Anak Menabung Dari Uang Sakunya


Memberikan uang saku bisa diawali sejak anak berusia 4-5 tahun. Ttentu dengan pengawasan dan pengarahan dari orangtua.

Uang saku bisa dipegang oleh anak atau oleh orangtua, ditempatkan di dalam dompet atau kotak uang, bisa untuk dibelanjakan atau ditabung. Jumlah uang saku tak perlu besar asalkan pemberiannya teratur.

Salah satu manfaat uang saku adalah membuat anak memiliki  kesempatan untuk mengelola keuangannya. Untuk itulah konsistensi orangtua dalam menetapkan pemberian uang saku amat penting di sini.

Pertimbangkan urgensi kala si kecil meminta jumlah uang lebih besar dari uang saku yang biasa diberikan agar tak menjadi kebiasaan. Ingat, tujuan kita memberi uang saku agar ia dapat belajar  mengontrol penggunaan uangnya  secara baik.

Pemberian uang saku sekaligus bisa dimanfaatkan untuk melatih anak menabung. Berikan uang kecil (logam ratusan) dengan frekuensi diatur menurut kebutuhan (bisa setiap hari, beberapa hari sekali, atau seminggu sekali) untuk dimasukkan ke celengan kecil yang transparan.  Dengan melihat kemajuan pertambahan uangnya dan penjelasan bahwa uang tersebut kelak dapat dibelikan benda kesukaannya, anak akan makin memahami nilai uang.

Di usia 5 tahunan ajak anak menabung di bank dari uang jajan yang berhasil dikumpulkannya di celengan. Jelaskan bahwa bank adalah tempat orang menyimpan uang yang aman. Dengan menabung, anak akan belajar mengenai nilai nominal secara sederhana. Ia juga akan tahu fungsi uang.

Uang yang masih sedikit tak bisa untuk membeli barang-barang mahal. Sebaliknya, bila uangnya sudah terkumpul banyak, keinginannya untuk membeli sepeda baru atau mainan mahal, bisa terwujud. Dari menabung pun, anak belajar tentang usaha yang harus dilakukan ketika ia ingin membeli sesuatu, yakni mengumpulkan uang jajannya sedikit demi sedikit hingga mencapai jumlah yang mencukupi untuknya mewujudkan barang impiannya.


http://www.tribunnews.com/2012/09/26/bu-yuk-ajari-anak-menabung-dari-uang-sakunya

Internet Kalahkan Nasihat Orangtua

Internet Kalahkan Nasihat Orangtua


Benarkah tidak ada yang bisa menggantikan nasihat seorang ibu? Nah ternyata internet telah melakukannya. Temuan itu berdasarkan penelitian yang dilakukan Cathy Owen. Penelitian menemukan delapan dari 10 ibu muda lebih cenderung lari ke internet dibandingkan ke ibu mereka untuk mendapatkan nasihat tentang pola asuh anak (parenting).

Penelitian yang dilakukan Growingupmilkinfo.com, menemukan bahwa semakin banyak ibu yang beralih ke situs-situs seperti Netmums, Mumsnet, Google, dan Facebook ketika mereka memiliki pertanyaan atau kekhawatiran tentang membesarkan bayi.

Dan bukan hanya ibu muda yang mengandalkan internet untuk saran keluarga, survei juga menemukan ibu di atas 35 tahun paling mungkin (71 persen) mencari nasihat orangtua secara online. Sebanyak 25 persen pengguna jejaring sosial terbesar seperti Facebook menginginkan saran parenting, Rabu (19/9).

Contohnya ibu dari dua anak, Alicia Robert, dari Sully. Ia mengaku banyak menggunakan internet sejak memiliki dua anak Evey dan Ezra. "Saya dibesarkan oleh nenek saya dan tidak menyusui. Jadi saya mencari nasihat dari internet sebanyaknya ketika saya mengalami masalah dalam menyusui," ujar Alicia mengakui.

"Ibu mertua tidak menyusui dan dia memberi saya banyak dukungan, tapi ada hal-hal yang membuat saya benar-benar tidak merasa nyaman ketika berbicara tentang itu dan internet sungguh sangat berharga".

Menurutnya, di internet kita bisa berbicara dengan ibu lain yang sama-sama akan mengalaminya atau telah melalui apa yang kita rasakan. "Itu benar-benar nasihat berharga yang banyak membantu saya. Dokter saya sendiri tidak benar-benar tahu bagaimana untuk membantu, jadi sungguh nyaman menemukan orang-orang yang mengerti apa yang saya bicarakan".

Menurut Alicia, saat berbagi pengalaman di internet, teman-teman di dunia maya bisa memberikan kepercayaan diri agar kita menjadi orangtua sesuai cara kita. Namun wanita berusia 26 tahun itu mengaku saran kuno dari ibu mertua dan neneknya juga penting.

"Saya beruntung karena mereka tinggal di dekat kita dan internet tidak akan pernah menggantikan seseorang yang bisa menggendong bayi Anda atau meyakinkan Anda bahwa ruam anak Anda tidak lebih jahat dari cacar air," kata Alicia.

"Saya cenderung melihat di internet untuk informasi tapi saya selalu ingin berbagi juga dengan merekaa. Mereka memiliki akal sehat untuk menempatkan pikiran saya saat istirahat.

Ibu mertua Alicia, Elizabeth, dari Penarth, mengakui banyak yang telah berubah sejak ia punya dua anaknya pada 40 tahun lalu.

"Internet membawa perbedaan terbesar," katanya.

"Ketika saya punya anak, saya berada jauh dari kedua kakek-nenek untuk tiga tahun pertama dan saya mendapat banyak bantuandan saran dari tetangga yang anaknya sedikit lebih tua".

"Jadi saya kira belum berubah banyak. Ibu masih benar-benar tahu yang terbaik dan Anda bisa menemukan dari keduanya, baik dari orang dan di internet".


http://tekno.liputan6.com/read/438528/soal-anak-internet-kalahkan-nasihat-orangtua

Anak Alami Trauma Psikis Jika Sering Dipukul Waktu Kecil

Anak Alami Trauma Psikis Jika Sering Dipukul Waktu Kecil


Kalau anak Anda atau anak kecil lain di sekitar Anda berbuat cukup nakal, janganlah terburu untuk memberinya hukuman fisik. Karena, hukuman tersebut tidaklah mendidik. Apalagi jika orang tua menjadikan fisik menjadi sasaran kekesalan saat anak nakal, itu bisa memengaruhi kesehatan mentalnya saat dewasa kelak.

Sebuah studi dari dari University of Manitoba, Kanada, mengatakan, anak-anak yang kerap mendapatkan hukuman fisik cenderung punya psikis yang sakit dan bersifat traumatis. Kenangan buruk itu memengaruhi mood dan tindakan yang bersifat negatif. Tracie Afifi, pemimpin penelitian, mengatakan, anak bisa mengalami penurunan mood dalam jangka panjang, gangguan anxiety, memakai narkoba, menjadi alkoholik, dan sebagainya.

Afifi mengamati 35 ribu orang dewasa dalam studinya ini. Ada 1.300 orang yang ternyata mengalami masa kecil yang cukup pahit. Mereka kerap dipukul, didorong, sampai ditampar. Dan, efeknya, sekitar tujuh persen responden yang mendapatkan perlakuan seperti itu, cenderung punya masalah dengan gangguan mental.

    “Hukuman fisik sebaiknya tidak diterapkan kepada anak, di usia berapa pun,” kata Afifi seperti dikutip MSN dari USA Today.

Oleh karena itu, seberapa pun nakalnya anak-anak sebaiknya tidak ditangani dengan perbuatan “ringan tangan”. Masa anak-anak lebih efektif diberikan pemahaman tentang yang benar dan salah dibandingan harus menghadiahinya hukuman fisik. Apa pun bentuknya, efek traumatis tidak akan mudah hilang sampai jangka waktu cukup lama.


http://sidomi.com/109157/anak-alami-trauma-psikis-jika-sering-dipukul-waktu-kecil/

Jajanan Anak Mengkhawatirkan Perlu Pengawasan Serius

Jajanan Anak Mengkhawatirkan Perlu Pengawasan Serius 


Berdasarkan hasil pengawasan Badan POM pada lima tahun terakhir (2006-2010), jajanan anak sekolah yang menggunakan bahan kimia berbahaya atau  tidak memenuhi syarat kesehatan berkisar antara 40 persen – 44 persen. Bahan kimia berbahaya tersebut meliputi bahan pengawet seperti formalin dan boraks, serta bahan pewarna seperti rhodamin B dan methanil yellow.

Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), Kustantinah, mengatakan sekitar 40-45 persen pangan jajanan anak sekolah (PJAS) mengandung bahan berbahaya. “Jumlah ini sudah mengkhawatirkan,'' tegasnya usai menandatangani nota kesepakatan dengan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak tentang Pengarusutamaan Gender dan Pemenuhan Hak Anak di bidang Obat dan Makanan di Jakarta, Rabu (2/3/2011).

Ia mengatakan dampak mengonsumsi PJAS tersebut tidak akan langsung. ''Bahan berbahaya akan tertumpuk secara akumulasi dalam organ tubuh mungkin baru puluhan tahun berikutnya terasa yang timbul dalam bentuk penyakit,'' tutur Kustantinah.

Bahan kimia berbahaya terus digunakan dalam PJAS karena bahan tersebut dijual bebas di toko bahan kimia. Ia mengatakan pengawasan terhadap toko bahan kimia bukan wewenang BPOM, namun berada di bawah pengawasan Kementrian Perdagangan.

Meneg PP & PA, Linda Amalia Sari berharap, MOU ini bisa meningkatkan koordinasi pengawasan terhadap jajanan anak. ”Kami punya badan PP dan PA di daerah yang akan bekerja sama dengan Balai POM di daerah untuk bersama mengawasi jajanan anak,” tutur dia.

Kalau Kementerian PP dan PA di pusat, hanya sebatas advokasi atau pendampingan sosial. ”Tapi kami juga memperjuangkan hak anak untuk mendapatkan informasi tentang kesehatan makanan. ‘Karena jika makanan yang dikonsumsi tidak sesusai dengan kandungan gizi maka akan berdampak pada kesehatan anak tersebut,” ujar Linda.

Linda pun mengatakan cukup prihatin dengan peredaran obat dan makanan ilegal di Indonesia yang menunjukkan kecenderungan meningkat. Dimana peredaran ini berpotensi menimbulkan resiko terhadap kesehatan masyarakat khususnya perempuan dan anak.


http://apindonesia.com/new/index.php?option=com_content&task=view&id=3444&Itemid=48

Bayi Kembar Risiko Lebih Tinggi Meninggal di Tahun Pertama

Bayi Kembar Risiko Lebih Tinggi Meninggal di Tahun Pertama


KELAHIRAN kembar ternyata menyimpan ancaman tertentu pada bayi yang bersangkutan. Pasalnya, bayi tersebut memiliki risiko lima kali lebih untuk meninggal di tahun pertama.

Menurut Office for National Statistics (Badan Statistik Nasional) di Inggris, bayi kembar dua dan kembar tiga memiliki lima kali lebih risiko meninggal dalam tahun pertama kehidupan mereka dibandingkan dengan bayi yang tak kembar.

Data pada 2009 mengungkapkan bahwa dari 706.248 bayi yang lahir, sebanyak 3.180 bayi meninggal sebelum ulang tahun pertama mereka (rata-rata 4,5 kematian per 1.000 kelahiran). Angka kematian bayi kembar ialah 20,4 kematian per 1.000 kelahiran, sedangkan angka kematian bayi tak kembar ialah 4,0 kematian per 1.000 kelahiran.

Tingkat mortalitas yang tinggi pada bayi kembar kemungkinan disebabkan berat badan bayi kembar lebih sedikit jika dibandingkan dengan bayi tunggal. Kehamilan kembar dapat menyebabkan komplikasi termasuk keguguran, kelahiran prematur, berat badan bayi yang rendah, cerebral palsy, dan kematian.

Sebuah penelitian terbaru dari Birmingham University juga menemukan bahwa orangtua dari bayi kembar lebih mungkin untuk bercerai. Mereka menemukan hampir sepertiga pasangan dengan anak kembar bercerai, sedangkan kurang dari seperempat pasangan dengan bayi tunggal bercerai.

Biaya tambahan untuk menyokong kehidupan kelahiran kembar sering menyebabkan kesulitan keuangan pada pernikahan dan diklaim sebagai penyebab perceraian.


http://health.okezone.com/read/2012/06/22/482/652188/bayi-kembar-risiko-lebih-tinggi-meninggal-di-tahun-pertama

Anak Obesitas Lebih Susah Belajar Matematika

Anak Obesitas Lebih Susah Belajar Matematika


Selain punya risiko mengidap masalah kesehatan lain seperti asma dan diabetes, ternyata masalah lain juga mengintai anak yang menderita obesitas atau kegemukan.

Sebuah studi baru yang dipublikasikan dalam Jurnal Child Development di Amerika Serikat menemukan bahwa anak obesitas bakal punya masalah belajar. Mereka harus berjuang dan belajar lebih keras terutama untuk mata pelajaran matematika.

Peneliti dari tiga universitas di Amerika Serikat menemukan bahwa anak yang kelebihan berat badan dari usia 3-9 tahun memiliki hasil tes buruk pada pelajaran matematika dibanding teman mereka yang bertubuh langsing. Penemuan itu menunjukan bahwa obesitas juga terkait dengan prestasi akademis anak.

“obesitas pada tahun pertama sekolah, terutama dari tingkat sekolah dasar, bisa membahayakan kinerja sosial dan emosional anak-anak termasuk dalam hal akademis mereka.” Ungkap ketua peneliti Sara Gable dari the University of Missouri, Columbia

Para peneliti mengatakan dalam hal belajar matematika, anak laki-laki dan perempuan obesitas lebih susah karena mereka cenderung lebih mudah merasa sedih, kesepian dan lebih cemas.


http://www.sehatnews.com/2012/06/21/anak-obes-lebih-susah-belajar-matematika/