Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Demoralisasi Pendidikan Indonesia

Demoralisasi Pendidikan Indonesia


Tanpa kita sadari bahwa pendidikan di Indonesia telah mengalami fase demoralisasi (kemerosotan akhlak). Berharap setiap out put yang dihasilkan dari sekolah/ perguruan tinggi mampu menjawab kemerosotan akhlak tersebut, justru malah menjadi korban baru dengan label modernisasi dan globalisasi.

Pendidikan sebagai proses kemanusiaan dan pemanusiaan sejati telah diterima sebagai sejarah umat manusia, apapun bentuk dan jenisnya. Yang paling sering kita dengar adalah bahwa pendidikan merupakan proses interaksi antara manusia dengan lingkungannya yang menghasilkan perubahan perilaku menuju kedewasaan dengan ciri utama munculnya sikap bertanggung jawab. Manusia dewasa adalah mereka yang berani berbuat dan berani bertanggung jawab, apakah bertanggung jawab untuk mempertahankan kebenaran bahkan bertanggung jawab ketika dia melakukan sebuah kesalahan.

Sekolah/ perguruan tinggi merupakan bagian dari organisasi pembelajaran (learning organization) yang harus mampu melahirkan manusia pembelajar. Manusia pembelajar merupakan orang yang menempatkan perbuatan belajar dalam totalitas kehidupannya, bukan sebatas sekolah atau belajar di perguruan tinggi, apalagi hanya untuk mengejar ujian semester dan ujian akhir. Dan bukan pula hanya peserta didik dan anggota komunitas sekolah, komunitas kampus atau komunitas lembaga-lembaga pendidikan lainnya, akan tetapi secara lebih luas masyarakat juga ikut andil dan harus berperan dalam organisasi pembelajaran untuk membentuk manusia pembelajar.

Menciptakan dan membentuk manusia pembelajar dalam makna luas tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan, melainkan harus melalui proses reformasi kesadaran. Keseriusan dan rentang waktu yang panjang sangat diperlukan untuk mencapainya. Disamping itu kita juga harus menghadapi tatanan sosial yang nyaris tidak dapat diubah seperti kemalasan, rasa cepat puas, iri dan dengki, tertutup mental, menerima apa adanya, pasrah kepada nasib, dorongan berprestasi yanga rendah, dan sebagainya. Inilah sejumlah perosoalan yang harus dihadapi oleh manusia pembelajar.

Manusia dalam bermasyarakat sangat membutuhkan pendidikan, karena pendidikan memegang peranan penting dalam mewujudkan pembangunan bangsa. Karena melalui pendidikan akan lahir manusia yang mampu memberikan sumbangan pada bangsa dan negara. “Agar terlahir manusia yang mampu memberikan sumbangan terhadap bangsa, maka proses pendidikan harus mendapat perhatian khusus”.

Dalam undang – undang sistem pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 3 menetapkan tujuan Pendidikan Nasional, yaitu :
“Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdasankan kehidupan bangsa bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.

Jika kita menelisik pada tujuan pendidikan Nasional di atas, sudah barang tentu seharusnya demoralisasi dalam dunia pendidikan tidak akan terjadi dan tidak pernah terjadi, karena tujuan pendidikan nasional tersebut tentu disusun berdasarkan perencanaan yang matang dan akurat agar setiap celah yang dapat merusak pendidikan Indonesia mampu diminimalisir. Namun fakta yang terjadi di lapangan sangatlah berbeda, jauh panggang daripada api. Pendidikan di Indonesia telah mengalami fase demoralisasi karena output yang dihasilkan dari Sekolah/ Perguruan Tinggi tidak dapat mengatasi keterpurukan moral yang terjadi di tengah-tengah masyarakat saat ini.

Penyebab Demoralisasi Pendidikan Indonesia

Demoralisasi bisa kita artikan dengan kerusakan moral/ akhlak. Jika kita kaitkan dengan pendidikan, ini berarti bahwa pendidikan yang berkembang di Indonesia telah kehilangan tujuan mulianya yakni pembentukan moral/ sikap mental peserta didik itu sendiri. Moral merupakan pengetahuan yang menyangkut budi pekerti manusia yang beradab. Moral juga berarti ajaran baik dan buruk perbuatan, dan kelakuan (akhlak). Moralisasi, berarti uraian (pandang, ajaran) tentang perbuatan dan kelakuan yang baik.

Demoralisasi dalam dunia pendidikan sesungguhnya ancaman yang sangat berbahaya terhadap perkembangan pendidikan di Indonesia. Jika dibiarkan, ia akan menyebabkan lumpuhnya tujuan pendidikan nasional yang kita idam-idamkan. Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dituntut peka untuk menyelesaikan persoalan ini. Pembangunan infrastruktur pendidikan seharusnya tidak hanya bertumpu pada pembangunan fisik semata, lebih dari itu perkembangan moral dan karakter peserta didik jauh lebih utama. Karena biar bagaimanapun, intelektualitas yang baik jika tidak dibarengi dengan moralitas yang baik pula, sesungguhnya kita hanya menghasilkan robot-robot manusia, yang hanya pandai melakukan pekerjaan namun tidak mampu menyelesaikan persoalannya sendiri. Sebagai contoh sederhana, coba lihat bagaimana cara peserta didik kita menyelesaikan persoalannya, narkoba dan minuman keras, seolah menjadi teman akrab mereka dan parahnya telah dikultuskan sebagai obat untuk menyelesaikan semua permasalahan.

Di mana ada asap tentu disana akan ada api. Begitu juga halnya dengan masalah Demoralisasi Pendidikan, bahwa persoalan ini muncul bukanlah datang begitu saja melainkan ada penyebabnya. Dalam hal ini, penulis mengungkapkan setidaknya ada 4 (empat) faktor yang menyebabkan munculnya demoralisasi dalam dunia pendidikan Indonesia antara lain : Pertama, Pelaku Pendidikan Tak Mampu Jadi Panutan. Ada ungkapan bijak bahwa Guru dalam kreta bahasa jawi berarti digugu lan ditiru (didengar dan ditaati). Namun seiring perjalanan waktu bahwa ungkapan itu seperti sudah kering akan makna. Guru seolah tak mampu lagi memberikan contoh teladan kepada anak didiknya. Bukan hanya Guru, semua pelaku pendidikan kita hari ini tak mampu lagi memberikan nilai-nilai keteledanan tersebut. Banyak persoalan yang menimpa pelaku pendidikan kita, dari mulai korupsi, asusila, kekerasan dan penyalah gunaan wewenang semuanya datang silih berganti tidak kunjung henti.
Sertifikasi Guru dan Dosen yang diharapkan mampu menjadi solusi dari sekian besar masalah yang dihadapi para Guru dan Dosen, kini menjadi masalah baru karena tidak diiringi dengan kualitas mengajar yang baik pula. Dalam hal ini pemerintah melalui Kemendikbud perlu melakukan penelitian, sebenarnya apa yang menjadi faktor penyebab utama munculnya kemerosotan moral dikalangan pelaku pendidikan tersebut. Jika hal ini mampu terjawab, setidaknya kita telah menyelesaikan sebagian kecil dari besarnya masalah yang menimpa institusi pendidikan di Indonesia.

Kedua, Kurikulum Yang Tidak Relevan dengan Kondisi ke-Daerahan. Persoalan kurikulum menurut hemat penulis juga memberikan sumbangsih besar terhadap munculnya demoralisasi dalam dunia pendidikan. Kurikulum merupakan seperangkat bahan ajar yang akan disuguhkan kepada para peserta didik. Kita bisa membayangkan, jika menu nyang disuguhkan itu tidak relevan dengan kebutuhan siswa tentu hanya sia-sia saja. Hal ini sama dengan kita memberikan sagu kepada masyarakat yang dalam kesehariannya makan nasi yang bersumber dari padi. Tentu sagu disuguhkan itu tidak akan memberikan efek apapun terhadap masyarakat tadi dan boleh jadi tidak akan menjadi sumber tenaga mereka karena memang sumber tenaga yang mereka dapat selama ini berasal dari beras yang diolah menjadi nasi. Pemerintah perlu mengkaji ulang kembali kurikulum yang telah disusun tersebut, apakah relevan dengan kebutuhan peserta didik. Kurikulum bagi peserta didik yang tinggal di daerah perkotaan tentu berbeda dengan peserta didik yang tinggal di pedesaan. Begitu juga halnya, kurikulum untuk peserta didik yang tinggal di wilayah pesisir tentu harus berbeda dengan kurikulum untuk peserta didik yang berada di wilayah pertanian. Jangan bicara keseragaman, karena manusia diciptakan oleh Allah swt memilki karakter dan sifat yang berbeda-beda pula. Pemerintah harus lebih bijak dalam menyusun kurikulum pendidikan, agar relevan dengan kebutuhan masing-masing daerah.

Ketiga, Proses Pendidikan Mengabaikan Karakter Peserta Didik. Pemahaman tentang karakteristik siswa bertujuan untuk mendeskripsikan bagian-bagian kepribadian siswa yang perlu diperhatikan untuk kepentingan rancangan pembelajaran. Karakteristik siswa menurut para ahli pendidikan adalah aspek-aspek atau kualitas perseorangan siswa yang telah dimilikinya. Menganalisis karakteristik siswa berarti ditujukan untuk mengetahui cirri-ciri perseorangan siswa. Dari tahapan ini kita akan melangkah untuk mengelompokkan siswa tersebut sesuai dengan karakternya sehingga kita dapat menentukan metode pembelajaran yang tepat untuk mencapai hasil belajar yang optimal. Yang salah dalam pembelajaran kita hari ini adalah bahwa kurikulum pendidikan yang disusun tidak memperhatikan karakteristik peserta didik yang ada di Indonesia, akan tetapi kita lebih condong kepada barat, sehingga sering menemui kegagalan. Mengetahui karakteristik peserta didik dimana mereka berada mutlak diperlukan agar kurikulum yang diajarkan tidak bertentangan dengan karakter dan budaya yang telah ada dan melekat pada diri peserta didik itu sendiri.

Keempat, Pendidikan Tak Mampu Menjawab Infiltrasi Budaya. Infiltrasi Budaya bisa kita artikan dengan serangan/ virus budaya luar untuk mengikis budaya yang ada di dalam sebuah tempat/ daerah tertentu. Perbedaan dalam meyakini nilai-nilai, cara berpikir, cara hidup dan cara bertindak pada dasarnya merupakan warisan para leluhur yang secara terus menerus menjiwai seluruh kepribadian seseorang dan masyarakatnya, dan akan tetap mewarnai kehidupan masyarakat tersebut.

Mengetahui budaya yang telah menjadi tradisi seseorang/ masyarakat harus dijadikan pedoman dalam menyusun rancangan pembelajaran yang akan diberikan kepada peserta didik. Sering kali para pendidik lupa, mengkaitkan budaya yang sudah ada dengan budaya luar yang mereka dapatkan melalui media cetak maupun elektronik. Benturan kebudayaan lokal dan luar (asing), perlu diperhatikan agar para pendidik dapat memilah-milah mana budaya yang patut ditiru dan mana yang tidak. Jika para pendidik membiarkan begitu saja benturan kebudayaan ini, maka dikhawatirkan akan menambah masalah baru dalam dunia pendidikan kita. Sepakat atau tidak, baangsa yang besar bukan hanya baangsa yang mampu menghargai jasa para pahlawannya akan tetapi adalah mereka yang mampu menghargai budaya nya sendiri. Dan perlu diingat, bahwa cara termudah untuk menghancurkan sebuah bangsa adalah menghilangkan atau merusak budaya yang melekat pada bangsa itu sendiri.

M. Abrar Parinduri, MA
Dosen UMJ
Wakil Sekretaris Majelis Pengurus Pusat Asosiasi Dosen Indonesia (MPP ADI)


http://suar.okezone.com/read/2013/02/11/58/759748/demoralisasi-pendidikan-indonesia

Pendidikan Paket C Harus Berkualitas Standar Nasional

Pendidikan Paket C Harus Berkualitas Standar Nasional


Kualitas pendidikan non formal berbasis paket C di Limboto Kabupaten Gorontalo diharapkan mampu berkualitas standar nasional.

Ditemui Kepala SKB Limboto, Widiyanto Taniu mengatakan, dalam upaya mencapai target program Kabupaten Gorontalo cerdas tahun 2015, kualitas pendidikan non formal khususnya Paket C diharapkan dapat memenuhi standar nasional.

"Satu bukti pelaksanaan ujian nasional paket C dilaksanakan bersamaan dengan ujian umum pendidikan formal yang mulai tahun 2013," katanya, Rabu (6/2/2013).

Untuk mencapai target tersebut, tuturnya, jajaran tersebut SKB Limboto menggelar in house training (IHT) yang meliputi pembelajaran dan penilaian paket C.

"Diorientasikan dalam pemenuhan standar isi dan standar proses paket C," urainya.

Diharapkan, katanya, pembelajaran dilaksanakan bertujuan untuk meningkatkan pemahaman tentang kebijakan penyelenggaraan Program Paket C dan peningkatan mutu pendidikan.

"Menyamakan persepsi dan pemahaman implementasi standar isi," ujarnya.

Karena itu ia sarankan, harus ada standar proses dalam pelaksanaan pembelajaran Program Paket C. "Ada menyamakan persepsi dalam penyusunan silabus dan RPP Paket C.” Urai Widi.

Ditambahkan, Kepala Dikbud Kabupaten Gorontalo Jhon Rahman,menjelaskan, sebelumnya sudah mensosialisasikan Permendikbu Nomor 3 tahun 2013 tentang kriteria kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan dan penyelanggaraan ujian sekolah madrasayah pendidikan kesetaraan dan ujian nasional.

"Pelaksaan ujian nasional diselenggarakan bersamaan," tegasnya.

Menurutnya, diperlukan langkah tersebut agar keharusan pendidik dan tenaga kependidikan lembaga penyelenggara paket C memenuhi standar nasional pendidikan.

“Materi yang dibahas meliputi pembelajaran dan penilaian untuk materi tentang pembelajaran meliputi standar proses paket C," ujarnya.


http://gorontalo.tribunnews.com/2013/02/06/pendidikan-paket-c-harus-berkualitas-standar-nasional

Listrik Dari Kulit Buah


Listrik Dari Kulit Buah


Kulit durian dan kulit pisang bisa dimanfaatkan sebagai sumber energi listrik. Kandungan natrium, kalium, dan magnesium kulit buah bisa digunakan sebagai sumber energi pada baterai bekas yang sudah dibuang isinya. 

Memanfaatkan kulit pisang dan kulit durian sebagai sumber energi listrik sangat mudah. Alat yang perlu disiapkan hanya tang, obeng, pisau, multimeter atau AVO (ampere, volt, ohm) meter, lampu LED, kabel, dan blender. Media yang disiapkan adalah kulit bagian dalam durian atau kulit pisang.

Kulit durian atau kulit pisang diblender, kemudian dimasukkan ke dalam wadah baterai kosong, lalu dipadatkan. Baterai ditutup rapat dan disegel. Baterai yang sudah diisi kulit pisang atau kulit durian diuji dengan AVO meter untuk mengetahui daya kuat arus dan beda potensial (tegangan) yang dihasilkan.

Tegangan harus minimal 1,3 volt untuk bisa dimanfaatkan. Baterai bisa pula diuji untuk menghidupkan radio, jam dinding, atau lampu senter.

Hasil penelitian siswa Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 1 Cerme, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, menunjukkan, kulit pisang bisa menghasilkan tegangan 1,3 volt, sedangkan kulit durian bisa menghasilkan 1,5 volt. Tegangan yang dihasilkan bergantung kadar air dan kandungan kalsium, natrium, dan magnesium kulit buah.

Menurut siswa Jurusan Kimia Industri yang melakukan penelitian, yakni Ahmad Ferianto, Andi Bagus, Aditya Dharma Putra, dan Arifin, tingkat kematangan durian menentukan besar tegangan yang dihasilkan. Durian yang terlalu matang ataupun yang masih muda hasilnya kurang bagus.

”Hanya durian yang betul-betul masaknya pas dan layak konsumsi yang bisa menghasilkan tegangan maksimal hingga 1,5 volt. Selain itu, jenis durian montong Tuban hasilnya lebih bagus dari varietas lain,” kata Aditya.

Kandungan mineral

Guru pembina SMK Negeri 1 Cerme, Imam Mukhlis, menuturkan, pemanfaatan kulit durian untuk sumber energi listrik bukan hal baru. Tujuannya memanfaatkan limbah baterai yang terbuang serta memanfaatkan kulit durian dan kulit pisang yang selama ini dianggap sampah.

”Selama bahan yang digunakan mengandung mineral natrium, kalium, dan magnesium bisa digunakan untuk sumber energi listrik. Kami berencana untuk mencoba kulit jeruk,” katanya.

Hasil riset siswanya diikutkan pada Gelar Karya dan Pameran SMK dan Perguruan Tinggi di Jatim Expo pada pertengahan September lalu. Sebelumnya, hasil karya tersebut diikutkan dalam pameran inovasi pendidikan dalam rangka Hari Pendidikan Nasional Mei lalu di Jakarta. Lalu, pada pertengahan Oktober dilombakan di ajang kreativitas Jawara SMK di Malang.

Baterai yang dibuat diberi label ”Nice Dry Cell”. Nice kependekan dari Negeri 1 Cerme. Tegangan yang dihasilkan sudah sama dengan baterai pabrikan, yakni 1,5 volt. Akan tetapi, perlu inovasi agar bisa bertahan lama seperti baterai pabrikan. Umumnya baterai dengan sumber energi dari kulit durian dan kulit pisang hanya bisa bertahan lima hari.

”Intinya ini bagaimana membuat energi ramah lingkungan,” kata Mukhlis.

Penelitian lain

Sebelumnya, siswa Sekolah Menengah Atas Negeri 2 Kudus, Jawa Tengah, Huwaidah Najla, juga meneliti kulit durian untuk sumber energi listrik. Caranya sama, isi baterai yang mengandung mangan, besi, karbon, dan tembaga diganti kulit durian bagian dalam yang mengandung kalium dan natrium. Tegangan atau daya yang dihasilkan mencapai 1,25 volt. Karya tersebut mengantarkan Huwaidah dalam APEC Future Scientist Conference, Taiwan, 10-16 April 2011.

Pada 10 April 2012, siswa SMA Negeri 2 Kudus, Wildan Sheila Audina, diikutsertakan dalam Konferensi Anak Asia Pasifik berbakat di Taiwan setelah meneliti hal yang sama. Tegangan yang dihasilkan mencapai 1,5 volt dan baterai bisa bertahan lima hari. Penelitian terhadap kulit durian juga dilakukan Ruka’iya, siswa SMA 3 Annuqayah Guluk-guluk Sumenep, Oktober 2011, dan siswa Madrasah Aliyah Negeri Kampar, Riau, Februari 2012. Hasilnya satu baterai dengan bahan dasar kulit durian bisa menghasilkan tegangan 1,25 volt, juga bertahan lima hari.


http://sains.kompas.com/read/2012/12/17/15501327/Kulit.Buah.Jadi.Sumber.Listrik?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Ktswp

E-Learning Sebagai Media Belajar

E-Learning Sebagai Media Belajar


Tidak semua elemen masyarakat yang tahu apa itu E-Learning. Istilah ini memang masih terdengar asing di beberapa kalangan termasuk dalam dunia pendidikan. E-learning atau Electronic Learning adalah sebuah metode untuk melakukan studi yang melingkupi semua bentuk dari belajar dan mengajar dengan menggunakan peralatan elektronik. Metode ini dinilai sebagai suatu terobosan baru di dunia pendidikan yang modern. Proses dari E-Learning sendiri telah menarik perhatian dan ketertarikan dari beberapa negara di seluruh dunia. Walaupun masih terdapat beberapa pro dan kontra terkait dengan efisiensi penggunaan metode E-Learning sebagian besar orang menganggap metode ini akan memberikan manfaat yang besar bagi dunia pendidikan.

Di Indonesia sendiri memang belum banyak orang maupun instansi pendidikan yang menggunakan E-Learning dalam kegiatan pembelajarannya. Namun beberapa analis dan kita sendiri tentunya cukup yakin bahwa E-Learning akan berkembang dengan pesat dan tidak menutup kemungkinan suatu saat semua kegiatan belajar mengajar akan berbasis pada E-Learning. Oleh karena itu, sudah sepantasnyalah E-Learning mulai diterapkan terutama untuk sekolah-sekolah yang sedang merintis taraf internasional atau bagi SSN (Sekolah Standar Nasional) sekalipun. Pemerintah telah menghimbau melalui beberapa media agar sekolah-sekolah menerapkan sistem E-Learning, mengingat sistem ini memiliki jangkauan yang lebih luas daripada cara manual. Siswa dan guru dapat saling berinteraksi meski dalam jarak yang berjauhan. Jangkauan kuantitas interaksi pun semakin banyak. Jika pada metode face to face guru hanya dapat berinteraksi dengan 20-35 siswa, E-Learning dapat membantu mempertemukannya dengan ratusan siswa di sekolah tersebut bahkan lintas sekolah se-nasional sekali pun. Alasan inilah yang menjadikan E-Learning dirasa begitu penting.

Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah, sudah siapkah para guru membuat produk pembelajaran berbasis E-Learning? Bagi para guru muda, mungkin ini bukan menjadi penghalang. Mereka yang rata-rata sedikit lebih hi-tech daripada guru senior, dan masih memiliki semangat besar dalam menekuni sesuatu, pasti merasa bahwa E-Learning memang bukan metode pembelajaran yang memusingkan. Bagaimana dengan guru senior yang latar belakang di usia mudanya jarang menyentuh teknologi informasi? Tidak dapat dipungkiri bahwa masih banyak guru-guru senior utamanya yang belum bisa mengakses internet, atau bahkan mengoperasikan komputer. Toh, E-Learning tidak hanya diperuntukkan untuk guru muda saja, tetapi untuk benar-benar menciptakan sistem pembelajaran ini seluruh guru wajib menggunakan E-Learning. Adanya pelatihan komputer di beberapa sekolah merupakan upaya yang sangat baik dalam menetaskan angka buta komputer di kalangan guru. Mengapa E-Learning begitu ditekankan kepada guru, bukan kepada siswanya? Sebenarnya, permasalahan utama saat ini memang ada pada guru, karena merekalah para pembuat produk E-Learning, sementara siswa hanya sebagai subjek yang menjalankan saja. Tetapi bukan berarti siswa tidak lepas dari tanggungjawab E-Learning ini. Namun, rata-rata siswa di zaman modern ini telah menguasai komputer, sehingga tidak terlalu masalah baginya ketika menjalani sistem pembelajaran berbasis teknologi informasi.

Jadi, bagaimana membuat produk E-Learning bagi para guru senior? Jika guru tersebut memang benar-benar tidak bisa mengoperasikan komputer sedikit pun, langkah pertama dari pihak sekolah atau pribadi adalah mengikuti kursus komputer. Minimal memahami akses internet serta menguasai Microsoft Word, Power Point, dan  Excel. Usahakan sampai guru tersebut setidaknya dapat membuat sebuah presentasi sederhana di Power Point yang layak untuk ditayangkan kepada siswa. Sampai pada tahap ini, metode E-Learning sesungguhnya sudah mulai tercipta, namun E-Learning ini masih sangat sederhana. Cara seperti ini awalnya mungkin akan menarik perhatian siswa, tetapi jika seperti ini saja tanpa ada modifikasi, siswa akan merasa jenuh karena tampilan serta gaya pembelajaran yang begitu-begitu saja. Lalu, apa langkahnya?

Terdapat begitu banyak situs-situs di internet yang membahas mengenai E-Learning yang disertai dengan tutorial dalam mengaplikasikannya. Tinggal di download saja terus mengikuti petunjuknya. Namun, jika masih merasa bingung, tinggal bertanya saja kepada ahlinya, dalam hal ini adalah guru TIK. Jadi, sudah siapkah Anda memanfaatkan E-Learning sebagai media belajar?


http://citizennews.suaramerdeka.com/index.php?option=com_content&task=view&id=1672

Stop Edanisme dalam Pendidikan Kita

Stop Edanisme dalam Pendidikan Kita


Edanisme dapat dimaknai sebagai paham yang menempatkan manusia pada posisi tidak memiliki lagi apa yang dinamakan cipta, rasa, dan karsa. Seorang pujangga Jawa, R. Ronggowarsito menulis ramalannya sejak lama. Dijelaskan bahwa manusia akan mengalami suatu masa yang disebut jaman edan, dimana akal nurani tidak berjalan, karena senantiasa diselimuti hawa nafsu duniawi, dan sebaliknya jika tidak mengikuti jaman, akan “mati kelaparan” tergilas oleh manusia lainnya yang serakah. Kunci untuk mengatasi hal tersebut ialah selalu ingat dan tawakal kepada Tuhan, serta waspada menghadapi setiap tantangan. Jaman edan sudah merambah kemana-mana dan berusaha untuk mempengaruhi siapa saja. Maka suka atau tidak suka, mau tidak mau, dan rela tidak rela, masyarakat dunia dilanda edanisme. Opini ini terinspirasi dari liputan dan laporan VOA tanggal 4 Oktober 2012 berjudul Sekolah Virtual di AS Dapat Reaksi Negatif   dan tanggal 6 Oktober 2012 berjudul Kemampuan Mengajar Guru di AS Dinilai dari Hasil Ujian Murid dimana dari pengalaman selama ini, kedua judul ini memiliki makna yang berlawanan, yakni pengaruh dunia maya dengan prestasi siswa.

Keberadaan pemimpin kita, keberadaan kita, anak cucu kita, terlalu bersemangat menyambut globalisasi yang dimotori oleh pesatnya perkembangan komunikasi dan informasi. Dampaknya adalah, sebagian generasi kita mengalami “kebangkrutan”.

Ternyata bukan hanya pengusaha yang bangkrut, tetapi pemimpin, penghibur, pengawas, semua kita bangkrut. Lebih-lebih yang memahami globalisasi, komunikasi dan informasi sebagai keharusan, bukan alternatif. Yang menelan mentah-mentah semua pengaruh yang datang dari dalam dan dari luar. Dibaca, diterima, difahami dan dipraktikkan apa adanya, tanpa ada pertimbangan. Kalaupun ada saringan, bentuknya hanya berupa himbauan sementara, teguran ringan atau peringatan berhati-hati. Padahal semua itu tak sebanding dengan derasnya pengaruh asing yang menggerogoti moral dan akhlak tanpa pandang bulu. Kebangkrutan semakin menjadi-jadi.

Dalam kaca mata moral, bangkrut identik dengan jiwa yang kosong, hampa dan tidak bermakna sama sekali, tidak memperoleh apa-apa. Dari kaca mata jati diri, bangkrut berarti hilangnya kejujuran dan kesungguhan, sehingga apa yang dia perbuat bukan hanya tidak bermanfaat tetapi juga bisa merugikan banyak pihak.

Diakibatkan pemahaman dan penafsiran yang keliru terhadap kemajuan global, maka edanisme yang melanda generasi kita diwujudkan dan diimplementasikan dengan keliru juga. Sesungguhnya dia tahu apa yang dia gunakan, dia tahu keuntungan dan kerugian akibat dari perbuatannya, tetapi kebanyakan tidak mau menghindar dari perbuatan keliru itu dengan alasan ingin mencoba, takut dikatakan ketinggalan zaman dan aneka alasan lainnya. Maka disinilah edanisme itu mendominasi kehidupan, dalam segala sektor.

Selain itu, edanisme timbul karena masih dangkalnya pemahaman terhadap arti dan makna sebenarnya dari perubahan dan kemajuan. Benar kalau mau maju harus berubah, namun sayangnya perubahan banyak yang tidak mengarah kepada kemajuan. Kita yakin bahwa generasi kita akan berubah, generasi kita akan maju, tetapi tugas semua pihak untuk menempatkan mereka pada posisi perubahan dan kemajuan yang tepat. Yang membekali mereka dengan satu keyakinan bahwa bangsa, negara dan agama di masa depan adalah tanggung jawab mereka.

Edanisme bukan hanya perbuatan dan ulah, bukan pula sifat dan tradisi, tetapi edanisme merupakan dadakan dari sebuah desakan yang sarat dengan prestise dan kegombalan zaman. Mereka terbius oleh hiruk pikuk dan warna-warni kehidupan yang membuat mereka lupa eksistensinya, lupa diri. Mereka sebenarnya dapat membedakan antara minum air putih yang menyehatkan dengan minuman keras yang memabukkan, tetapi sebagian besar mereka meminum kedua-duanya. Mereka sebenarnya tahu perbedaan antara panggilan untuk beribadah dengan suara musik jaz yang menghibur dan bersuka ria, tetapi mereka justru keliru dalam memilih mana yang harus didahulukan. Mereka tahu perbedaan antara hubungan sosial dengan tawuran, tetapi ketika harus mempertahankan gengsi dan kesombongan, maka dengan alasan setia kawan merka menjatuhkan pilihan pada perbuatan yang menyakiti, menyusahkan dan merepotkan orang lain.

Kalaupun ada yang menganggap bahwa edanisme adalah sebuah kreatifitas dan mode, namun sebagian besar lainnya menganggap itu sebagai kekosongan hati yang membawa dampak pada perubahan prilaku. Selanjutnya, sebagian mereka memperagakannya dengan prilaku bego, prilaku menyimpang, prilaku asal-asalan, prilaku yang hampa tanpa makna.  Memang ada yang melakukannya sebagai ikut-ikutan dan bersifat sementara, tetapi bahaya yang ditimbulkan sangat fatal dan permanen, bukan hanya berupa kurangnya kontrol diri  dan menipisnya rasa menghargai orang lain, tetapi juga menipisnya rasa kekeluargaan yang tidak sedikit menimbulkan perpecahan, perkelahian massal dan bahkan kesewenang-wenangan.

Edanisme telah mencoreng dunia pendidikan. Menipisnya rasa kasih sayang dan berkurangnya rasa menghargai merupakan kristalisasi dari kehidupan yang tak terkontrol. Maka persiapan generasi sebagai pemimpin masa depan melalui pendidikan harus mendapatkan perhatian serius, sehingga generasi yang lahir berikutnya adalah generasi yang tangguh ilmu dan imannya. Bukan mencetak generasi beo, generasi tanpa arah, generasi pemabuk, generasi yang kejam, generasi materialistik dan bukan pula mencetak generasi yang mimpi di dunia maya, tanpa belajar, tanpa kreatifitas dan tanpa inisiatif.

Generasi pintar banyak, generasi kreatif lumayan, generasi yang bermoral juga tidak sedikit. Generasi membeo juga jumlahnya bejibun, tetapi generasi tangguh yang kokoh ilmunya dan kuat imannya inilah yang sangat kurang. Penyebabnya adalah sebagian masih mengukur kehidupan dengan materi sehingga runtuhlah rasa kasih sayang, ambruklah rasa saling menghargai dan hancurlah rasa kekeluargaan.

Keadaan generasi di dunia maya dewasa ini hampir semuanya diukur dengan materi. Bahkan seringkali di dunia pendidikan, kita sering mendidik generasi dengan uang dan materi. Kalau para pendahulu kita mendidik dengan akhlak, misalnya kalau malas maka diberi hukuman, kalau bodoh dihukum, melanggar peraturan dihukum, sehingga mereka mampu mencetak manusia-manusia yang bertanggung jawab. Generasi terdahulu berprinsip bahwa kehidupan adalah belajar, berbuat, berusaha, hidup sederhana, rendah hati, selalu bersyukur, bersabar, ulet dan tekun. Sifat mulia yang kini sudah menjadi langka akibat pengaruh globalisasi. Edanisme telah menyulap semua peradaban dan kebudayaan baik yang sesuai dengan moral maupun yang bertentangan dengan kemanusiaan menjadi dianggap layak dan bebas dikembangkan. Jadilah generasi bebas yang tidak lagi percaya kepada norma,  parahnya lagi kebebasan itu diaplikasikan dengan sebebas-bebasnya, nyaris tanpa batas.

Salah satu implementasi dari edanisme adalah berkembangnya “budaya” pendidikan yang tidak sesuai dengan keluhuran budaya, yakni nyontek. Kebiasaan yang satu ini munculnya memang sudah lama, tetapi menjadi trend bersamaan dengan dinaikkan standar nilai kelulusan siswa. Pada tahun-tahun awal penerapannya, banyak pihak sekolah yang benar-benar kebakaran jenggot karena banyaknya siswa yang tidak lulus, bahkan banyak diantaranya yang tidak lulus seratus persen. Ketika kelulusan masih dominan diukur “terpusat” yakni UN disamaratakan di semua daerah, padahal fasilitas penunjang pendidikan di tiap daerah tidak sama. Pihak sekolah tidak diberikan kekuasaan untuk distribusi nilai, terutama bagi pelajaran yang diujinasionalkan. Kelulusan tidak diukur berdasarkan kemampuan mengajar guru dan kemampuan berpikir siswa, yang semestinya disesuaikan dengan situasi dan kondisi setempat.

Belajar dari pengalaman itu, beberapa pola dan metode dirubah sesuai dengan strategi masing-masing sekolah. Ada yang memberikan remedial atau les selama 6 bulan penuh dan bahkan ada yang mengkarantina siswanya menjelang ujian. Nampaknya Ujian Nasional begitu disakralkan yang malah membuat kejiwaan siswa tertekan. Siswa terpaksa dipacu memenuhi standar yang telah ditentukan pemerintah. Hasilnya, pada tahun kedua ada sedikit peningkatan tingkat kelulusan siswa, namun jumlah yang tidak lulus tidak dapat dikatakan sedikit.

Ujian Nasional berpotensi menimbulkan dampak negatif seperti penonjolan sisi kognitif pembelajaran dan mengabaikan pembangunan karakter siswa, akibatnya siswa terdidik untuk menonjolkan nilai akademiknya saja sementara sisi kejiwaan tidak ikut terbangun. Dampak buruknya berikutnya adalah pendidikan hanya mencetak orang pintar tanpa nilai-nilai demokrasi, anti korupsi, saling menghormati dan berbagi dengan sesame.

Walaupun tahun-tahun terakhir ini, tingkat kelulusan siswa sungguh luar biasa, dimana UN tahun 2012, siswa SMP yang lulus mencapai 99,22 persen, SMA/MA 99,50 persen dan SMK mencapai 99,7 persen, namun sayangnya, bersamaan dengan itu, budaya edanisme merasuk dalam dunia pendidikan, sehingga kelulusan hanya merupakan kepuasan, bukan lagi sebuah kebanggan.  Berbagai isu negatif bertiup dari berbagai penjuru. Membaca berita di http://www.tempo.co/read/news/2012/05/09/079402804/Menteri-Agung-Jual-Beli-Jawaban-UN-Bohong tanggal 9 Mei 2012 misalnya, bahwa Indonesian Corruption Watch (ICW) mengatakan bahwa praktik jual beli kunci jawaban terjadi secara terstruktur dan massif. ICW mendapat kunci jawaban pelajaran Matematika dengan tingkat kebenaran yang tinggi. Demikian pula informasi yang dihimpun Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) menyatakan bahwa kasus peredaran kunci jawaban UN terjadi di berbagai tempat. Ada panitia yang membuka soal lalu membuat kunci jawaban dan membagikannya kepada siswa. Ada pula yang pagi-pagi ketika soal ujian tiba, salah seorang guru mengisi soal ujian di rumahnya, kemudian dibagi-bagikan kepada siswa. Dan bahkan ada sekolah yang siswa, pengawas, hingga kepala sekolah bekerjasama berbagi kunci jawaban ujian. Jika demikian halnya, apa yang harus dibanggakan dari kelulusan 100 persen sekalipun.

Edanisme yang diajarkan sejak dini dampaknya sangat besar saat ini. Siswa sepertinya tidak mau bersusah payah menekuni pelajaran. Pulang pergi sekolah – walaupun menjelang ujian – dijadikan sebagai rutinitas biasa. Bagi mereka toh pada akhirnya, kunci jawaban akan memuluskan semuanya. Apakah kita mesti berbangga dengan hasil terbaik yang diperoleh karena kunci jawaban yang dibagikan guru atau yang dibeli dari pihak ketiga? Apakah harus bangga dengan nilai yang seringkali berputar tiga ratus enam puluh derajat dari prestasi siswa yang sesungguhnya. Siswa yang track recordnya pemalas dan kurang pandai bisa saja meraih  ranking satu dalam ujian hanya karena sumbernya lebih terpercaya, dan sebaliknya siswa yang selama duduk di bangku kelas memiliki prestasi yang menonjol justru dalam ujian nilainya pas-pasan dan bahkan banyak yang tidak lulus karena tidak dapat “bocoran”?

Justru kita prihatin dengan keadaan seperti ini. Prihatin karena ranking bukan lagi diukur oleh prestasi dan kemampuan guru mengajar.  Prihatin karena betapa banyaknya kasus sekolah yang diwajibkan menyelenggarakan ujian ulang karena ketahuan melakukan kecurangan. Prihatin karena baik pengawas maupun yang diawasi sudah sama-sama membudayakan “harap maklum” dalam pelaksanaan penentu kelulusan.

Mampukah edanisme dihapuskan dari dunia pendidikan? Di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin, karena ketidakmungkingan itu sendiri sesungguhnya merupakan kemungkinan.


http://sekdessuntalangu.wordpress.com/2012/10/19/stop-edanisme-dalam-pendidikan-kita/

Blog dalam Dunia Akademik

Blog dalam Dunia Akademik


Betapa internet begitu substansial pada masa kini. Terlebih lagi pada media sosial. Artikel "Lebih Banyak Orang Perlu Menggunakan Media Sosial" yang dilansir VOA Indonesia memberitakan hasil survei konsultan komunikasi Maverick dan London School Public of Relations Jakarta menyatakan bahwa 91 persen wartawan (yang merupakan responden) dependen pada internet dalam menulis berita. Selain itu, tujuh dari sepuluh wartawan butuh internet untuk mendapatkan ide membuat berita.

Kalau wartawan dalam pekerjaannya saja sangat terikat dengan internet, bagaimana dengan aku, yang masih mahasiswa? Tentu saja dalam mengerjakan tugas, sangat butuh internet. Paper dan jurnal ilmiah tak perlu lagi punya dalam bentuk fisik namun tinggal saja unduh dari internet. Nah, tapi ada satu hal yang berbeda dari tugas yang aku dapatkan dari mata kuliah Kebanksentralan beberapa waktu lalu.

Kami diminta menyiapkan bahan diskusi mengenai peran bank sentral sebagai 'market maker of last resort'. Aku pun mencari bahan bacaan sebelum hari-H mata kuliah Kebanksentralan tiba. Yang aku temukan dengan relevansi kuat hanya sebuah postingan blog dan sebuah jurnal ilmiah yang ditulis oleh orang yang sama, Willem Buiter, seorang profesor ekonomi politik Eropa di London School of Economics. Uniknya Buiter menulis postingan di blognya pada tahun 2007, barulah jurnal ilmiahnya  ditulis pada tahun 2012.

Begitu hari matakuliahku tiba, dosenku menuturkan bahwa memang istilah market maker of last resort masihlah sebuah gagasan yang dikeluarkan oleh Buiter. Gagasan yang awalnya ditulis dalam blog pribadinya. Gagasan yang menjadi frontier pembahasan ilmiah kebanksentralan seluruh dunia, yang 'hanya' diutarakan lewat sebuah blog semata. Ini menunjukkan bahwa tulisan dari media sosial mampu menyumbang bahasan baru dalam dunia akademik.

Sering kita temukan topik obrolan pengguna Twitter Indonesia masuk ke dalam trending topics dunia. Ini berarti jumlah pengguna yang sangat banyak, 'kan? Belum lagi pengguna Facebook di Indonesia yang menduduki peringkat empat dunia. Masih dalam berita VoA, dituturkan Enda Nasution menyatakan bahwa pengguna media sosial Indonesia harus didorong untuk lebih menyebarkan informasi dan mengajak orang lebih peduli. Sementara itu, pemimpin redaksi detik.com Budiono Darsono menyarankan agar menggunakan media sosial lebih bermanfaat dan produktif.

Sementara itu, untuk blog di Indonesia, data tahun 2011 di Indonesia mencapai 4 juta blog. Dengan jumlah pengguna dan akun media sosial yang berlimpah di Indonesia, jika menggunakannya lebih produktif, tentu saja manfaat yang akan didapat akan lebih banyak. Tak hanya update status, tapi juga mengeluarkan ide dan cerita, berkampanye hal-hal yang positif, mengajak orang pada kepedulian, dan hal lain dalam microblogging atau blog. Bahkan bisa saja, ide yang dikeluarkan dalam media sosial itu menjadi frontier dalam pembahasan masyarakat.

Kupikir-pikir, pengen juga aku kayak Profesor Buiter, menulis idenya dan jadi bahan bahasan topik di kalangan penggiat ekonomi. Tapi, tahu apalah aku ini... Bisanya cuma cerita jurnal sehari-hari di blog, setidak-tidaknya bermanfaat untuk diri aku sendiri. Yang penting, isi media sosial dengan konten positif kan ya! *Eh emang isi blogku positif yak? Wkwkwk...*

Bagaimana dengan akun-akun media sosialmu?


http://www.sittirasuna.com/2012/10/blog-dalam-dunia-akademik.html

Hargai Pendidikan, Belajarlah dari Malala

Hargai Pendidikan, Belajarlah dari Malala

 
Malala Yousufzai
 
Kenalkah anda dengan nama di atas? Saya tidak akan heran jika anda belum mengenal nama tersebut. Saya pun mungkin tidak akan tahu siapa Malala dan bagaimana kisahnya jika tidak membaca twit dari seseorang yang saya follow di twitter beberapa waktu lalu. Saya lalu mencari tahu lebih banyak tentang Malala melalui mesin pencari di internet, dan menemukan banyak sekali informasi mengenai gadis ini.

Militan Pakistan Tembak Aktivis Remaja Putri Pakistan. Pada tanggal 9 Oktober kemarin, Malala ditembak oleh seseorang bertopeng pada saat pulang sekolah dengan menggunakan bus. Si penyerang menanyakan siapakah diantara para siswa yang bernama Malala dan mengancam akan menembak semua siswa jika tidak ada yang mengaku. Akhirnya Malala mendapat tembakan di kepala dan di leher, sementara dua siswa lain ikut terluka akibat penembakan tersebut. Mengapa Malala ditembak?

Ternyata Malala bukan gadis biasa. Sejak tahun 2009 ia telah memulai pergerakan untuk menuntut haknya yang paling dasar: pendidikan. Pada saat itu, milisi Taliban mengeluarkan peraturan yang melarang televisi, musik, pendidikan bagi anak perempuan, dan berbelanja bagi wanita. Akibat perintah tersebut, banyak sekolah khusus perempuan yang ditutup. Beberapa sekolah yang ditutup bahkan kemudian dihancurkan. Malala mempertanyakan hal ini. Dengan bantuan reporter BBC untuk Pakistan, Malala mulai menulis tentang hidup dibawah tekanan Taliban dengan menggunakan nama samaran "Gul Makai". Tulisan Malala inilah yang pertama kali membuatnya banyak dikenal.

Ia tidak berhenti hanya pada tulisan. Ia kemudian mulai muncul di televisi untuk memperjuangkan pendidikan bagi perempuan. Selain itu, ia juga aktif berpartisipasi pada kegiatan-kegiatan yang mendukung pendidikan di negaranya. Pada puncaknya, ia dinominasikan sebagai penerima International Children's Peace Prize pada Oktober 2011.

Taliban secara terbuka mengklaim serangan tersebut merupakan perbuatan mereka. Malala dicap sebagai pro-Barat, yang maka dari itu harus dibunuh.

Aktivis Remaja Putri Pakistan yang Terluka Dikirim ke Inggris. Saat ini Malala sedang memperoleh perawatan di Inggris, dan dikabarkan kondisinya semakin membaik. Sedangkan di Pakistan sendiri, dukungan bagi remaja pakistan terus mengalir, namun Taliban masih ditakuti. Masyarakat turun ke jalan memprotes penembakan Malala, tapi para politikus tidak berani mengambil langkah lebih jauh karena takut menjadi sasaran Taliban yang berikutnya.

Terlepas dari kondisi politik dan kebijakan nasional Pakistan yang menjadi negara tempat Malala tumbuh, kisah Malala seharusnya dapat mengingatkan kita pada satu hal: Pendidikan itu harganya "mahal".

Bagi sebagian kita yang dapat mengakses pendidikan dengan mudahnya tidak pernah menyadari bahwa pendidikan itu mahal. Dan "mahal" bukanlah semata-mata tentang angka. Mahal dapat berarti sulitnya mencapai sekolah jauh dari rumah. Mahal dapat berarti jembatan yang hampir putus yang harus diseberangi saat ke sekolah. Mahal dapat berarti seragam yang tidak dapat dibeli oleh orang tua. Mahal dapat berarti tidak ada guru datang ke sekolah. Mahal dapat berarti tidak ada pendidikan sama sekali untuk perempuan. Mahal dapat berarti hak mu untuk mendapatkan pendidikan tidak bisa kau miliki. Pendidikan itu mahal.

Maka bersyukurlah saat perjalananmu ke sekolah mudah dan tanpa hambatan. Bersyukurlah jika satu-satunya yang harus kau khawatirkan saat ke sekolah adalah mungkin kau akan akan terlambat. Bersyukurlah saat gurumu masih mau berbagi ilmunya walaupun ia galak. Bersyukurlah kau bisa ke sekolah tidak peduli gender mu apa. Karena di belahan bumi yang lain, ada yang benar-benar memperjuangkan hak mereka untuk memperoleh pendidikan. Malala Yousufzai memperjuangkan hak untuk memperoleh pendidikan dan ia ditembak karena perjuangannya tersebut.

Pendidikan adalah salah satu hak dasar yang wajib dijamin terpenuhinya oleh pemerintah. Rights to a Free Education adalah salah satu hak dasar yang merupakan turunan dari HAM generasi kedua yang diperkuat dengan International Covenant on Economic, Social, and Cultural Rights. Sudah sepantasnya lah negara menjamin hak untuk memperoleh pendidikan diperoleh oleh warganya.

Jika dibandingkan dengan Indonesia, sudah sewajarnya jika kita bersyukur bahwa negara membuka pintu bagi masyarakat untuk memperoleh pendidikan. Tapi bukan berarti kita tidak memiliki pekerjaan rumah di bidang pendidikan. Hal yang menjadi perhatian besar pada pendidikan Indonesia saat ini adalah tawuran antar pelajar. Sungguh memalukan jika pelajar kita masih melakukan tawuran yang pada akhirnya memakan korban.

 Bukankah ini sebuah ironi? Di saat seorang Malala hampir saja terbunuh karena berani menyuarakan tuntutannya untuk memperoleh pendidikan, pelajar Indonesia malah menyerang sesamanya hanya karena berbeda sekolah. Mungkin sebaiknya kisah tentang Malala ini disebarluaskan di kalangan pelajar, agar menjadi pelajaran bahwa bagi sebagian orang, pendidikan itu tidak murah. Maka berhentilah memerangi sesama dan bersyukurlah kita tidak memperoleh dua butir peluru hanya karena ingin sekolah. 


http://kyosotoy.blogspot.com/2012/10/mensyukuri-pendidikan-belajarlah-dari.html

Indonesia Tempa Sekolah Hadapi Risiko Bencana

Indonesia Tempa Sekolah Hadapi Risiko Bencana


Beberapa dari bencana alam terburuk di dunia pada dekade terakhir terjadi di Asia, seperti gempa bumi di Indonesia dan Tiongkok, serta banjir di Thailand dan Kamboja. Sebuah konferensi regional mengenai pengurangan risiko bencana yang diselenggarakan minggu ini fokus pada sekolah dan bagaimana membuatnya lebih aman dan lebih tangguh.

Murid-murid Sekolah Dasar Negeri Jejeran di Yogyakarta sedang mengadakan simulasi latihan gempa bumi. Mereka berhamburan dari ruang kelas dengan memegang tas di atas kepala mereka. Beberapa murid mengambil tandu dan peralatan pertolongan pertama pada kecelakaan dan menolong teman sekelas yang ‘terluka’. Sesudah semua berkumpul di halaman depan, seorang pemimpin murid membaca laporan bencana: Empat meninggal, lima terluka, dan semua korban sudah dievakuasi.

Margiyanti, guru kelas empat di Jejeran, mengatakan bahwa gempa bumi 2006, yang mengakibatkan 2.900 gedung sekolah termasuk Jejeran rusak berat, mengajarkan masyarakat setempat mengenai pembangunan kembali dan pentingnya usaha pencegahan.

Indonesia sangat rentan bencana alam sehingga anak-anak harus bersiap, ujar Margiyanti. Jika mereka ada di sekolah atau di rumah, mereka harus tahu apa yang mesti dilakukan, ujarnya.

Pada 2010, Jejeran terlibat dalam kampanye global untuk membuat sekolah-sekolah lebih aman dari bencana alam. Dengan uang dari donor asing, program tersebut mencoba memperbaiki teknik konstruksi bangunan sekolah dan menciptakan kurikulum yang menyiapkan murid untuk bencana.

Sementara itu, pemerintah Indonesia juga telah meluncurkan program untuk merehabilitasi ribuan sekolah di seluruh negeri.


​​Musliar Kasim, Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, mengatakan hampir 200.000 sekolah memerlukan renovasi untuk dapat memenuhi standar keamanan global.

“Sekolah-sekolah yang ada sekarang sudah tua. Bangunannya tua karena didirikan lebih dari 30 tahun lalu,” ujar Kasim. “Jadi mereka memerlukan renovasi. Saat merehabilitasi gedung, kita harus menggunakan konsep sekolah aman.”

Para pejabat dan pekerja program bantuan mengatakan pemerintah-pemerintah di seluruh wilayah Asia telah membuat kemajuan dalam mengurangi risiko terkait bencana lingkungan. Kamboja, Laos, Filipina dan Burma telah meluncurkan proyek-proyek pilot yang fokus pada pembangunan sekolah yang lebih aman.

Namun masih banyak yang harus dilakukan.

Pada 2008, lebih dari 7.000 bangunan sekolah yang dibangun secara asal ambruk saat gempa berkekuatan 7,9 skala Richter di Provinsi Sichuan di Tiongkok, menewaskan ribuan murid.

Di Filipina, angin topan Durian menyebabkan kerusakan senilai US$20 juta di sekolah-sekolah di tiga provinsi pada 2006.

Meski konstruksi yang lebih baik adalah jantung dari inisiatif sekolah aman, banyak organisasi yang mendorong pendekatan yang lebih luas yang termasuk latihan dan pengetahuan situasi darurat yang mengintegrasikan pendidikan kebencanaan.

Di negara berkembang dengan populasi anak-anak yang tinggi, murid-murid seringkali terimbas ketika bencana alam menghancurkan sekolah, dan aktivitas belajar mengajar dihentikan selama beberapa bulan atau lebih lama lagi.

Antony Spalton, spesialis pengurangan risiko dari Dana PBB untuk Anak-Anak (UNICEF), mengatakan ada hubungan erat antara bahaya dan pembangunan, apakah itu pembangunan ekonomi atau pembangunan sosial.

“Anak-anak dipaksa keluar sekolah karena banjir dan gempa bumi,” ujarnya.

UNICEF sekarang bekerja sama dengan sejumlah organisasi internasional untuk menciptakan tempat dimana pemerintah bisa mendapatkan bantuan teknis mengenai keamanan sekolah dan berbagi pengetahuan.

Lebih dari selusin murid dari seluruh wilayah Asia menghadiri konferensi minggu ini untuk membagi pengalaman mereka. Di Jepang, sekelompok murid telah membentuk klub yang bertemu seminggu sekali untuk membahas cara-cara meningkatkan kesadaran mengenai bencana alam dan pembangunan kembali.

Di Kamboja, Sopaoeurn yang berusia 17 tahun juga membentuk komite manajemen bencana, memimpin inisiatif penanaman pohon dan mendorong sekolah untuk membuat lantai lebih tinggi untuk mencegah banjir bandang yang sering melanda provinsi tempat tinggalnya.

Bencana tidak hanya berdampak pada satu orang, namun banyak orang di seluruh dunia, ujar remaja putri tersebut. Lebih penting lagi, bencana berdampak pada murid-murid sekolah.

Para guru di SDN Jejeran mengatakan mereka siap jika bencana datang lagi. Sekolah tersebut mengadakan latihan secara rutin setiap beberapa bulan sekali untuk menyegarkan kemampuan siswa. Di ruang kelas sudah terpampang tanda-tanda jalur evakuasi.

Sekolah seperti ini masih jarang di negara berkembang, akibat kurangnya pendanaan dan koordinasi yang membuat replikasi program serupa sulit dilakukan. Namun kelompok donor mengatakan mereka membuat kemajuan dengan menyoroti kisah sukses.

Para pejabat lembaga manajemen bencana nasional Indonesia mengatakan membuat sekolah aman adalah prioritas mereka, karena bangunan yang kukuh dan tangguh sangat penting dalam mengajarkan murid, dan seluruh masyarakat, mengenai bagaimana bersiap dan berurusan dengan bencana di masa depan.


http://www.voaindonesia.com/content/indonesia-tempa-sekolah-hadapi-risiko-bencana/1532904.html

Hari Indonesia di Australian National University (ANU)

Hari Indonesia di Australian National University (ANU)


Universitas ternama Australia, the Australian National University (ANU) menggelar "Hari Indonesia (Indonesia Day)" dengan mengelar berbagai kegiatan intelektual dan kultural menjadi sajian utama perhelatan istimewa yang dijadwalkan, besok Jumat (26/10).

Acara `Hari Indonesia" yang diselenggarakan di kampus yang berlokasi di ibukota Australia ini menampilkan beberapa segmen kegiatan, dari seminar mengenai Islam Kontemporer dan Teater Wayang goes to Las Vegas sampai pagelaran "jajan pasar" ala Indonesia, kata Direktur Projecting Indonesia Yasmi Adriansyah, Kamis.

Dikatakannya `Hari Indonesia"ini diselenggarakan School of Culture, History and Languages, ANU, khususnya di bawah koordinasi Dr. Amrih Widodo, Pimpinan Sementara dari the Island Southeast Asia Centre, ANU.

Selain itu dalam acara Hari Indonesia diadakan pula berbagai jenis lokakarya, dari Tari Payung (Sumatera) sampai teknik memasak makanan khas nusantara. Bahkan diujung acara akan digelar aktivitas menari masal dengan tarian asal Maluku, Poco-poco, ujar Yasmi Adriansyah, mahasiswa PhD di ANU.

Kegiatan tersebut dibawakan para duta budaya maupun diaspora Indonesia, baik para individu yang sudah lama menetap di negeri Kangguru tersebut maupun yang berasal dari kalangan profesional dan mahasiswa.

Diperkirakan hadir ratusan orang yang mayoritas merupakan anak-anak usia sekolah. Diharapkan dengan kegiatan ini semakin tercipta ekpose serta pemahaman lebih jauh mengenai keanekaragaman dan potensi yang dimiliki Indonesia.


http://www.metrotvnews.com/read/news/2012/10/25/111318/Universitas-Ternama-Australia-Gelar-Hari-Indonesia/3

Bahasa Inggris, Perbatasan, dan Orang China

Bahasa inggris, perbatasan, dan orang china


“Luar biasa semangat belajarnya orang china itu” tutur kang Adrian pemilik lembaga kursus bahasa Inggris Bintan English Course dalam sebuah forum diskusi kecil yang kami hadiri pada minggu kemarin.

Dari 250 siswa yang terdapat di lembaga kursusnya, 60% adalah dari etnis china. Dan mereka punya semangat belajar yang tinggi dibandingkan orang kita.

Masih menurut kang Adrian, sekalipun turun hujan deras bahkan disertai petir, anak-anak yang mayoritas siswa kelas 5 hingga 10 ini tetap diantar oleh orang tuanya untuk tetap kursus. Beda sama orang kita, hujan sedikit saja, sudah tidak masuk. Selain itu mereka lebih aktif didalam kelas, lebih sering bertanya dan juga pintar-pintar.

Berbatasan dengan malaysia dan singapore tidak menjadikan masyarakat di Bintan Utara ini menguasai bahasa Inggris. Saya merasakan langsung bagaimana kurangnya pemahaman mereka dalam menuturkan bahasa asing ini.

Yang menjadi kendala paling utama adalah masalah mental, orang kita itu banyak yang pemalu untuk berbicara. Lebih senang mendengar dan mencatat. Padahala bahasa itu harus sering dipraktekkan supaya bisa lancar.

Selain itu letak geografis yang berdekatan dengan negara Singapura, sedikit banyak mengurangi minat warga belajar bahasa inggris standar. Karena bahasa inggris Singapore atau biasa dikenal dengan singlish lebih mudah untuk dituturkan. Misalnya “long time no see”, “little-little”, “you can lah”. Singlish merupakan bahasa inggris yang berasal dari campuran budaya di Singapore. Namun secara intensif pemerintah Singapura gencar mengkampanyekan masyrakatnya untuk menggunakan bahasa inggris standar.

Cara agar mereka cepat menyerap apa yang disampaikan, kang Adrian menyisipkan candaan-candaan dalam dia mengajarkan bahasa inggris di kelas, dan hebatnya setelah di tanyakan lagi mereka lebih mengingat kata yang di sampaikan dengan cara joke-joke itu. Misalnya untuk kata rooster (ayam jantan) bahasa inggrisnya father chicken, betul tidak? Salah, yang benar adalah rooster. Kalau hen (ayam betina) bahasa inggrisnya mother chicken, betul tidak? Salah yang benar hen. Sempot (semaput) bahasa inggris nya very tired.

Bergabung dalam forum English club yang dibentuk oleh kang Adrian ini bertujuan untuk mencari bibit yang mempunyai komitmen yang tinggi dalam mengajarkan bahasa inggris ke masyarakat, “kedepan kita akan undang lagi dinas-dinas terkait untuk mulai menyusun program dalam membiasakan menggunakan bahasa inggris di tengah-tengah masyarakat” intinya sedini mungkin kita kenalkan anak-anak dengan bahasa Inggris, sambung kang Adrian.

Dalam forum kemarin juga tak lupa, kang Adrian menyampaikan kekhawatirannya terkait akan dihapuskannya pelajaran bahasa inggris untuk anak Sekolah Dasar. Padahal menurutnya seharusnya pemerintah tidak perlu menghapuskannya cukup dengan mengganti kurikulumnya saja, misalnya untuk tingkat SD itu cukup pengenalan vocabulary dan percakapan standar saja.


http://bahasa.kompasiana.com/2012/10/23/bahasa-inggris-perbatasan-dan-orang-china/503498/?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kanawp

Membatik untuk Pecahkan Rekor MURI dan Rekor Dunia

Membatik untuk Pecahkan Rekor MURI dan Rekor Dunia


Ratusan siswa, guru, dan staf SMP Stella Duce 1 (Stece) Yogyakarta bersorak di ruang aula sekolah tersebut, Selasa  (2/10/2012) pagi. Beberapa di antara mereka juga melakukan tos, saling berjabat tangan, bahkan ada pula yang matanya berkaca-kaca.

APA yang mereka lakukan  bukan tanpa alasan. Seluruh siswa, guru dan staf sekolah yang berlokasi di Jalan Dagen No 32,  Kota Yogyakarta, tersebut sangat gembira karena sekolah mereka resmi mencatatkan diri pada Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai Sekolah Pelopor Pengguna Batik Karya Sendiri, saat peringatan Hari Batik Nasional, Selasa (2/10).

Lebih dari itu, prestasi yang ditorehkan SMP Stece juga sekaligus tercatat sebagai rekor dunia. Hal itu lantaran apa yang dilakukan para siswa dan segenap warga sekolah itu terbilang unik, dan tak pernah ada kegiatan sejenis sebelumnya.

"Prestasi ini terbilang unik dan beda, di mana para siswa membatik dan karyanya dipakai sendiri menjadi seragam sekolah. Jadi memang layak dicatat sebagai rekor, dan kami di MURI menyampaikan bahwa ini tercatat sebagai rekor dunia," puji Manajer MURI, Sri Widayati.

Tradisi membatik di sekolah itu dimulai sejak 1985, dan kini menjadi bagian pendidikan di sekolah tersebut.  Kepala Sekolah SMP Stella Duce 1, Listyawati Sri Nugrahaningsih, menjelaskan, pelestarian tradisi membatik merupakan bagian dari pendidikan karakter para murid, yang dilatih agar menghargai sebuah proses serta menghargai budaya Indonesia.

Para murid pun menjalani setiap proses dalam membatik. Biasanya mereka menyelesaikan setiap helai kain batik berukuran 1,5 hingga dua meter dalam waktu sekitar dua bulan. Kain yang mereka hasilkan pun dijahit menjadi seragam, yang kemudian mereka pakai setiap hari Jumat.

Widayati secara pribadi menyampaikan kekagumannya dengan kegiatan yang dilakukan siswa-siswi SMP Stece. Menurutnya, kreativitas yang ditorehkan para siswa itu memang layak mendapat apresiasi yang tinggi.

"Yang lebih luar biasa, kegiatan membatik ini dilakukan oleh anak-anak yang memang sebagai calon penerus bangsa. Jadi, mereka bisa sekaligus melestarikan warisan budaya asli Indonesia ini," tambah Widayati.

Pujian serupa dilontarkan Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Provinsi DIY, Baskara Aji, yang hadir di sekolah tersebut. Bahkan, ia pun berencana untuk menyosialisasikan kegiatan itu ke seluruh sekolah yang ada di wilayah DIY.

Menurut Aji, prestasi SMP Stece bisa menjadi inspirasi sekolah-sekolah lain. Sebagai salah satu sentra batik di Indonesia, sudah selayaknya semua kalangan di Yogyakarta, khususnya pendidikan, peduli dalam upaya pelestarian batik "Saya akan sampaikan dan meminta seluruh sekolah di DIY untuk melaksanakan kegiatan serupa, karena (batik) ini adalah budaya asli kita yang harus dilestarikan," tegasnya.

Baskara Aji pun mewacanakan agar seluruh siswa di DIY mampu dan memiliki kemampuan membatik. Kalau perlu, lanjut dia, sekolah diminta mengeluarkan sertifikat kemampuan membatik bagi semua lulusannya.

"Ini bisa menjadi inspirasi bagi seluruh kalangan pendidik untuk menyebarkan semangat membatik pada para siswa," sambungnya.   

Sedangkan Ketua Komite SMP Stece Yogyakarta, GBPH Prabukusumo, menuturkan, gagasan membatik para siswa dan menjadikan batik karya mereka ebagai seragam sekolah merupakan satu cara untuk melestarikan budaya. Dengan kegiatan tersebut, menurutnya, siswa akan memiliki kecintaan lebih karena karya mereka dihargai.

"Inilah yang terus kami kembangkan, agar anak-anak kita bisa lebih menghargai dan melestarikan batik yang memang budaya asli bangsa ini," kata Prabukusumo, yang juga adik Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengkubuwono X.

Adapun MURI memberikan tiga penghargaan sekaligus.  Pertama, kepada GBPH Prabukusumo sebagai pemrakarsa kegiatan membatik; kedua, untuk Yayasan Tarakanita sebagai pendukung kegiatan; dan ketiga, bagi  SMP Stella Duce 1 sebagai pelaksana kegiatan. 


http://jogja.tribunnews.com/2012/10/03/smp-stella-duce-1-membatik-untuk-pecahkan-rekor-muri-dan-rekor-dunia

Pelajaran IPA dan IPS Akan Dihapus

Pelajaran IPA dan IPS Akan Dihapus


Pemerintah akan menghapus pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPA IPS) di SD dan menggantinya dengan pelajaran sikap. Revisi ini nantinya berlanjut ke SMP dan SMA.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Kabalitbang) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Khairil Anwar mengatakan, dari hasil diskusi yang berkembang di kementerian maka pelajaran di sekolah tingkat dasar akan lebih ditekankan kepada bagaimana membentuk anak yang disiplin, jujur dan bersih.

Sehingga mata pelajaran yang akan diajarkan nantinya di SD ialah pelajaran Agama, Pendidikan Kewarganegaraan (Pkn), Pancasila, Bahasa Indonesia dan Matematika dasar saja. Namun meski disederhanakan mata pelajaran ini akan disesuaikan dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar (SKKD). “Jadi misalkan penilaian di pelajaran Agama. Tidak hanya praktek salat saja yang dinilai, namun dinilai juga apakah dia suka menjahili teman atau apakah dia suka mencuri?” katanya di Gedung Kemendikbud, Jakarta, Kamis (27/9/2012).

Dia mengatakan, perubahan ini terkait dengan revisi kurikulum pendidikan nasional yang sudah tidak mengikuti perkembangan zaman. Dia menjelaskan, kurikulum pembentukan sikap ini akan memakan korban penghapusan pelajaran IPA IPS di SD. Penghapusan kedua mata pelajaran ini juga sebagai akibat pengurangan jam belajar karena pelajaran pembentukan sikap ini tidak lagi terkait dengan transfer ilmu Sains.

Untuk SMP pelajaran yang akan diberikan akan terfokus kepada pelajaran keterampilan melihat dan melakukan sesuatu yang dapat dilihat dengan mata. Kemungkinan IPA dan IPS masih tetap ada meskipun jam belajarnya tidak terlalu tinggi. Sementara pelajaran di SMA mulai mentransformasi keterampilan tersebut dengan ilmu pengetahuan yang lebih tinggi.

“Kurikulum ke depan itu harus lebih banyak ke proses obsurvei atau bagaimana mengamati, mempertanyakan dan bagaiaman meniru dan bagaimana melaporkan. Saat ini kita menilai anak-anak lemah dalam melaporkan. Orientasi lain dalam penyederhanaan kurikulum ini juga supaya kita lebih fokus (dalam memberikan mata pelajaran) dan tidak menganggap semua (mata pelajaran) seolah-olah itu penting. Lihat saja sekarang, anak SD banyak punggungnya memar karena terlalu banyak bawa buku,” tukasnya.

Guru Besar Ilmu Statistik Institut Pertanian Bogor (IPB) ini menambahkan, ujian akhir nantinya tidak hanya berbentuk pilihan ganda, namun bagaimana siswa itu mengimplementasikan pelajaran agama ke masyarakat.


http://kampus.okezone.com/read/2012/09/27/373/696092/pelajaran-ipa-dan-ips-akan-dihapus

Hindarkan Pelajar dari Tawuran

Hindarkan Pelajar dari Tawuran


Kalangan pengamat atau lembaga terkait dengan pendidikan seperti terlecut suara petir ketika lagi-lagi mendengar seorang siswa tewas akibat tawuran antarpelajar di Jakarta, Senin, 24 September 2012. Mereka saling tuding siapa yang semestinya bertanggung jawab atas insiden mematikan itu.

Alwi Yusianto Putra, siswa kelas X SMA Negeri 6, telah menjadi korban tawuran dengan para pelajar di SMA Negeri 70. Kedua sekolah ini bertetangga di Bulungan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Aksi tawuran pelajar sesungguhnya telah menjadi perhatian Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono setelah kasus kekerasan di SMA Don Bosco, Pondok Indah, Jakarta Selatan.

“Kekerasan di Don Bosco diminta Presiden agar tak terulang lagi,” ujar Badriah Fayuni, Koordinator Bidang Pendidikan di Komisi Perlindunagan anak Indonesia, mengutip pernyataan presiden beberapa waktu lalu.

Namun, aksi saling keroyok dengan senjata tajam terulang kembali di ibu kota negara, bahkan meminta korban jiwa. Berdasarkan data dari Komisi Perlindungan Anak, sedikitnya 16 siswa telah meregang nyawa akibat kasus serupa sepanjang tahun ini. Mereka berasal dari 86 kasus tawuran antarpelajar yang terjadi di Jakarta dan sekitarnya. “Ada puluhan lainnya yang menderita luka berat dan ringan akibat perkelahiran itu,” ujar Ketua Komisi, Arist Merdeka Sirait.

Arist menjelaskan, tawuran antarpelajar bukan peristiwa baru, terutama di Jakarta dan sekitarnya. Tren kejadiannya bahkan meningkat dari tahun ke tahun. “Pada 2011 misalnya, terjadi 139 kasus tawuran dengan jumlah korban jiwa 39 anak,” ujarnya.

Menurut Badriah, jika tawuran yang menyebabkan kematian siswa, semestinya hal itu menjadi tamparan keras bagi dunia pendidikan. “Sekolah yang terlibat, Dinas Pendidikan, dan Kementerian yang tertampar,” ujarnya.

Pengamat pendidikan Arif Rahman Hakim kepada Radio El Shinta, Rabu pagi, 26 September 2012, mengatakan untuk menghindari aksi tawuran pelajar yang kian marak perlu diadakan kegiatan bersama antarpelajar. Kegiatan itu, misalnya melakukan olah raga bersama, naik gunung, atau kegiatan lainnya.

Arif memberikan tanggapannya terhadap kematian Alwi yang menjadi korban tewas akibat disabet senjata tajam oleh sejumlah siswa SMA Negeri 70 dalam tawuran antarpelajar, Senin lalu.

Mengenai usul penggabungan sekolah agar terhindar dari tawuran antarpelajar ditolak keras oleh M. Ihsan dari Satuan Tugas Perlindungan Anak. “Penggabungan sekolah yang kerap tawuran bukan solusi terbaik. Wacana ini semestinya tak diterima,” kata M. Ihsan.

Menurut dia, tawuran merupakan ekspresi kekerasan yang ditampilkan oleh pelajar. Ekspresi ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor, seperti lemahnya pengasuhan dan ketahanan keluarga, pendidikan yang tidak ramah anak, lingkungan yang anarkis, serta mempertontonkan kekerasan. "Premanisme elit dan jalanan, sinetron, serta game online," katanya.

Tawuran juga dapat dipicu oleh ketidakmampuan orang dewasa memahami dunia anak, energi yang tidak tersalurkan dengan baik, dan fasilitas yang terbatas. Kemudian, tekanan sistem pendidikan yang membuat anak stres, pengaruh kelompok atau pergaulan, pendapat dan suara anak yang tidak didengarkan.

"Kurangnya penghargaan terhadap anak dan pemanfaatan waktu luang juga menjadi pemicu," ujar dia. Untuk mengurangi ekspresi kekerasan ini, menurut Ihsan, pemerintah dan masyarakat seharusnya segera berbenah dengan melibatkan anak. "Libatkan anak dalam semua proses, bukan menggabungkan sekolah," ujarnya


http://www.tempo.co/read/fokus/2012/09/26/2588/Hindarkan-Pelajar-dari-Tawuran

Siswa SMP di Yogya Rancang Seragam Sendiri

Siswa SMP di Yogya Rancang Seragam Sendiri


Anak muda tentu punya banyak ide mendesain batik, termasuk model batik yang bakal mereka kenakan sebagai seragam sekolah. Itulah yang dilakukan SMP Stella Duce 1 di Yogyakarta.

Di sana, para siswa diizinkan mendesain seragam batik karya mereka sendiri. "Kami menyediakan semua peralatannya dan siswa tak perlu mengeluarkan uang sepeserpun untuk membuat batiknya," kata Listyawati Sri Nugrahaningsih, Kepala SMP Stella Duce 1, Rabu 19 Setember 2012.

Di sini, membatik menjadi kegiatan ekstra wajib bagi sekolah swasta yang banyak diisi siswa keturunan Tionghoa. Meski didominasi murid keturunan, kata Listy, tradisi membatik justru sangat kental dan telah dimulai sejak awal tahun 80-an. Mulai dari sekadar membatik di sapu tangan, kaus, hingga kain katun yang dapat dipakai sebagai seragam sekolah.

Keseriusan menekui tradisi batik ini semakin kental setahun belakangan sejak kerabat Keraton Yogyakarta dan perhimpunan pecinta batik Sekar Jagad Yogyakarta mulai ikut memperhatikan kegiatan tersebut.

Supaya siswa dapat mengembangkan berbagai motif yang segar dan muda, sekolah menggandeng seniman kawakan yang juga pegiat mural Yogyakarta, Samuel Indratma. "Membatik bukanlah proses sepele bagi para siswa dari kelas VII- IX di sekolah ini. Bukan asal coret pola," ujar Dhrmayanti, guru membatik di sekolah itu.

Dalam membatik, menurut Dharmayanti, ada delapan proses yang harus dilalui. Mulai dari membuat pola, melapisi dengan malam, mengunci (dengan cairan asam) sampai pengeringan hingga menjadi kain yang siap dijahit.

Saat kain batik sudah jadi dan tinggal dijahit, siswa bisa menikmati jeripayahnya dengan menjadikan kain itu sebagai seragam dan dipamerkan kepada sesama teman dan guru di hari Jumat.

Proses membatik yang jadi tradisi sekolah ini rupanya menjadi apresiasi tersendiri bagi Museum Rekor Indonesia (Muri). Pada tanggal 2 Oktober 2012 mendatang, saat peringatan hari batik dunia, Muri akan menyambangi sekolah ini untuk memberikan catatan rekor sebagai ''Sekolah Pelopor Pengguna Batik Karya Sendiri''.


http://www.tempo.co/read/news/2012/09/20/058430652/p-Siswa-SMP-di-Yogya-Ini-Rancang-Seragam-Sendiri

Jiwa Wirausaha Perlu Disiapkan sejak Mahasiswa

Jiwa Wirausaha Perlu Disiapkan sejak Mahasiswa 


Jiwa wirausaha (entrepreneur) harus disiapkan sejak berada di bangku kuliah. Sebab jika sudah lulus baru berfikir wirausaha, akan kesulitan baik mental, modal, dan ide kreatif untuk menciptakan peluang.

Hal itu disampaikan Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UKSW Dr Lieli Suharti saat berbicara dalam seminar Manajemen di STIE AMA Salatiga, Kamis (28/6). Lieli menjadi pembicara tunggal dalam seminar yang diikuti para mahasiswa itu.

Menurut  Lieli, kecenderungan masyarakat Indonesia usai kuliah adalah mencari pekerjaan. Doktrin-doktrin semacam itu selalu terpatri kuat terutama para orang tua mahasiswa yang menginginkan anaknya  mendapatkan pekerjaan yang mapan dengan bekal ijazah.

"Karena doktrin semacam ini para mahasiswa cenderung takut untuk memulai wirausaha. Seharusmya mereka tidak usah takut karena mencari pekerjaan yang diinginkan saat ini susah sehingga perlu terobosan usaha sendiri," katanya.

Lieli menyebut, fakta menunjukkan bahwa penganguran semakin bertambah dari tahun ke tahun. Negara maju memiliki minimal 2 % penduduk yang berwirausaha  seperti China 5 %, Singapura (7 %), USA (12 %). Sedangkan Indonesia baru 0,18 % penduduk yang berwirausaha.

"Berwirausaha pemula tidak harus muluk-muluk. Terpenting memiliki sikap kerja keras, kerja cerdas, dan kerja ikhlas. Sedangkan kunci sukses wirausaha yaitu  kepribadian dan sikap mental, kemampuan manajerial, memahami lingkungan," katanya.

Dikatakan, kewirausahaan tidak dilahirkan tetapi dibentuk dan dapat dipelajari. Para wirausahawan yang paling berhasil sekalipun pada dasarnya adalah manusia dan banyak yang mulai dari nol.

Ketua STIE AMA Pandi Afandi menambahkan, pihaknya sudah mulai mendidik mahasiswa yang memiliki jiwa wirausaha. Mereka disiapkan dengan berbagai materi tambahan perkulihan yang mengarah kepada menciptakan peluang usaha.

"Mahasiswa yang berminta wirausaha akan kami fasilitasi dan akan dibantu. Meski begitu mereka yang kurang berminat, kami tidak memaksa dan fasilitas akademik seperti biasa," katanya


http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2012/06/28/122664/Jiwa-Wirausaha-Perlu-Disiapkan-sejak-Mahasiswa-

Formalin Diganti Kulit Pohon Manggis

Formalin Diganti Kulit Pohon Manggis


Jumat (20/8/10).Mengejutkan, memang kata yang paling tepat selain kata hebat buat ibu guru dari SMAN 112, Kembangan, Jakarta Barat bernama Triyem (42) ini. Karena berkat riset ilmiahnya, dia dapat menemukan fakta bahwa kulit buah manggis dapat menggantikan formalin.

Awesome, hal tersebut dilakukan oleh Triyem selama 15 tahun untuk mengukir prestasi yang digunakan untuk mengawetkan makanan tersebut ternyata berasal dari pohon kulit manggis.

SMA N 112 Kembangan memiliki 20 guru diantaranya yaitu Triyem yang memperoleh S-2 dari Dinas Pendidikan DKI. Perempuan asal Yogyakarta itu berhasil menyelesaikan jenjang pendidikan pascasarjana UI Jurusan Kimia dengan nilai memuaskan. Lebih membanggakan lagi, Triyem juga berhasil menemukan zat pengawet makanan pengganti formalin. Zat tersebut ditemukan Triyem setelah meneliti kulit batang pohon manggis (garcinia ef bancana).

"Saya mengambil penelitian kulit batang pohon manggis sebagai tesis saya. Dari penelitian itu, kulit pohon manggis memiliki zat antioksidan. Zat antioksidan yang terkandung dalam kulit pohon manggis itu salah satunya bisa jadi bahan pengawet makanan yang alami dan tidak berbahaya," kata Triyem kepada beritajakarta.com, Kamis (19/8/2010).

Namun untuk memuluskan penelitiannya bukanlah perkara mudah. Bahkan, Triyem yang telah dikaruniai satu anak ini harus pergi ke Palangkaraya, Kalimantan Tengah untuk mencari sampel kulit batang pohon manggis sebagai bahan penelitiannya. Sebab, asal sampel berada akan memengaruhi hasil penelitian.

"Belum tentu pohon manggis di Jakarta memiliki kandungan yang sama dengan pohon manggis di Kalimantan," katanya.

Perempuan yang beralamat di Perumahan Medang Larang, Tangerang ini berharap hasil penelitiannya bisa berguna di masa mendatang. "Saya prihatin selama ini masih ada makanan yang menggunakan formalin sebagai pengawet makanan," katanya.

Saat ini, hasil penelitian Triyem telah tercatat di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Serpong, Tangerang. Triyem mengaku tidak menyangka dirinya bisa meraih gelar master sekaligus meneliti zat antioksidan dari kulit manggis. "Kalau bukan karena beasiswa dari Gubernur DKI, saya belum sanggup membiayai kuliah sendiri," ungkapnya.

Triyem berjanji pencapaiannya saat ini, akan dia dedikasikan kembali kepada para pelajar yang menjadi muridnya. Sebelumnya, Triyem bisa mendapatkan beasiswa setelah mengikuti program peningkatan kualifikasi tenaga pendidik di DKI. Dia terpilih dengan menyisihkan puluhan pendidik lain yang turut serta dalam program itu. "Seluruh peserta ada 60 orang. Kemudian disaring jadi 30. Dari 30 hanya 20 yang bisa mendapatkan beasiswa. Dari 20 hanya sepuluh yang bisa lulus tepat waktu. Triyem salah satunya," tambah Luthfi, Kepala SMAN 112 Kembangan, Jakarta Barat.


http://apindonesia.com/new/index.php?option=com_content&task=view&id=3227&Itemid=48

Peranan Pajak Memajukan Pendidikan

Peranan Pajak Memajukan Pendidikan


Di tengah keraguan masyarakat akan peranan pajak dalam memajukan pendidikan di Indonesia, sebenarnya pemerintah telah memberikan keringanan pajak terhadap institusi pendidikan. Hal ini mengingat pentingnya pendidikan bagi kemajuan bangsa dan masih terbatasnya anggaran negara untuk bidang pendidikan.

Dalam peranannya tersebut, pemerintah memberikan insentif bagi organisasi nirlaba yang menginvestasikan penghasilan yang diperolehnya pada pengembangan dunia pendidikan. Terhadap laba yang diperoleh oleh organisasi pendidikan tersebut yang diinvestasikan kembali dalam bentuk sarana dan prasarana pendidikan, tidak dikenakan Pajak Penghasilan (PPh).

Artinya, apabila organisasi pendidikan tersebut mendapatkan laba, laba yang seharusnya dikenakan pajak (PPh) tidak akan dikenakan PPh jika laba tersebut ditanamkan kembali dalam bentuk sarana dan prasarana. Pemerintah memberikan jangka waktu selama empat tahun sejak laba tersebut diperoleh, untuk ditanamkan kembali.

Akan tetapi, setelah lewat dari empat tahun, laba tersebut tidak digunakan untuk membangun sarana dan prasarana pendidikan maka akan dikenakan pajak penghasilan pada tahun pajak berikutnya setelah lewat jangka waktu empat tahun tersebut.

Hal ini sebagaimana diatur dalam Pasal 4 ayat (3) huruf m Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 (UU PPh).

Selanjutnya dasar pelaksanaannya diatur melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 80/PMK.03/2009 tentang Sisa Lebih yang Diterima atau Diperoleh Badan Lembaga atau Nirlaba yang Bergerak dalam Bidang Pendidikan dan/atau Bidang Penelitian dan Pengembangan yang Dikecualikan dari Objek Pajak Penghasilan.

Petunjuk teknisnya diatur dalam Peraturan Dirjen Pajak Nomor PER-44/PJ./2009 tentang Pelaksanaan Pengakuan Sisa Lebih yang Diterima atau Diperoleh Badan atau Lembaga Nirlaba yang Bergerak dalam Bidang Pendidikan dan/atau Bidang Penelitian danPengembangan yang Dikecualikan dari Objek Pajak Penghasilan.

Sementara itu, sarana dan prasarana pendidikan tersebut meliputi sebagai berikut:
1. Pembelian atau pembangunan gedung dan prasarana pendidikan, penelitian dan pengembangan termasuk pembelian tanah sebagai lokasi pembangunan gedung dan prasarana tersebut;     
2. Pengadaan sarana dan prasarana kantor, laboratorium dan perpustakaan;     
3. Pembelian/pembangunan asrama mahasiswa, rumah dinas guru, dosen atau karyawan, dan
4. Sarana prasarana olahraga, sepanjang berada di lingkungan/lokasi lembaga pendidikan formal.

Sebagai ilustrasi, jika sebuah organisasi nirlaba yang menyelenggarakan pendidikan tersebut mencatatkan laba sebesar Rp10 miliar pada 2011, organisasi tersebut dapat menggunakan fasilitas pajak yaitu yang seharusnya pada tahun 2011 dikenakan PPh sebesar Rp2,5 miliar (25% x Rp10 miliar) tetapi tidak akan dikenakan PPh jika organisasi tersebut menggunakan laba sebesar Rp10 miliar tersebut dalam jangka waktu empat tahun untuk menambah bangunan kelas atau menambah buku perpustakaan.

Artinya, organisasi nirlaba yang menyelenggarakan pendidikan tersebut terbebas dari tagihan PPh. Namun, jika sampai dengan 2015 (empat tahun setelah 2011) laba tersebut tidak digunakan semuanya, maka laba tersebut akan dikenakan PPh.

Adapun badan nirlaba yang menyelenggarakan pendidikan tersebut wajib menyampaikan pemberitahuan mengenai rencana fisik sederhana dan rencana biaya pembangunan dan pengadaan sarana dan prasarana kegiatan pendidikan dan/atau penelitian dan pengembangan kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak tempat badan nirlaba tersebut terdaftar dengan tindasan kepada instansi yang membidanginya.

Selain insentif tersebut, pemerintah memiliki peranan lain dalam pengembangan dunia pendidikan, terhadap sumbangan dari pihak ketiga yang langsung digunakan untuk investasi di bidang pendidikan sebagaimana diatur dalam Pasal 6 ayat (1) huruf j dan huruf l UU PPh.

Dalam UU PPh diatur bahwa terhadap Wajib Pajak yang memberikan sumbangan dalam rangka penelitian dan pengembangan yang dilakukan di Indonesia serta sumbangan fasilitas pendidikan maka sumbangan tersebut menjadi biaya yang dapat mengurangi penghasilan kena pajak Wajib Pajak tersebut sesuai dengan persyaratan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 93 Tahun 2010 tentang Sumbangan Penanggulangan Bencana Nasional, Sumbangan Penelitian dan Pengembangan, Sumbangan Fasilitas Pendidikan, Sumbangan Pembinaan Olahraga, dan Biaya Pembangunan Infrastruktur Sosial yang Dapat Dikurangkan dari Penghasilan Bruto.

Insentif pemerintah yang lain di bidang pendidikan adalah dalam rangka pemberian beasiswa. Penerima beasiswa yang mengikuti pendidikan formal dan/atau pendidikan nonformal di dalam negeri dan/atau di luar negeri dikecualikan dari objek PPh. Hal ini diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 246/PMK.03/2008 tentang Beasiswa yang Dikecualikan dari Objek Pajak Penghasilan sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 154/PMK.03/2009.

Adapun lebih lanjut diatur bahwa komponen beasiswa tersebut terdiri dari biaya pendidikan yang dibayarkan ke sekolah (tuition fee), biaya ujian dan biaya penelitian yang berkaitan dengan bidang studi yang diambil. Selain itu, komponen tersebut juga dapat berupa biaya untuk pembelian buku dan/atau biaya hidup yang wajar sesuai dengan daerah lokasi tempat belajar.

Sementara itu, bagi perusahaan pemberi beasiswa, biaya pemberian beasiswa sesuai Pasal 6 ayat (1) huruf g UU PPh, dapat dibebankan sebagai biaya dengan memperhatikan kewajarannya. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa dengan adanya insentif atau keringanan pajak yang diberikan oleh pemerintah, diharapkan dapat memberikan payung hukum untuk menguatkan kerja sama badan nirlaba di bidang pendidikan dengan pihak lain.

Ketentuan tersebut sekaligus untuk menghindari pengelolaan pendidikan sebagai investasi dan komersialisasi, sehingga penambahan dana pendidikan tidak lagi mengandalkan iuran dari siswa atau mahasiswa.


http://economy.okezone.com/read/2012/06/15/426/648154/peranan-pajak-memajukan-pendidikan

Anak Obesitas Lebih Susah Belajar Matematika

Anak Obesitas Lebih Susah Belajar Matematika


Selain punya risiko mengidap masalah kesehatan lain seperti asma dan diabetes, ternyata masalah lain juga mengintai anak yang menderita obesitas atau kegemukan.

Sebuah studi baru yang dipublikasikan dalam Jurnal Child Development di Amerika Serikat menemukan bahwa anak obesitas bakal punya masalah belajar. Mereka harus berjuang dan belajar lebih keras terutama untuk mata pelajaran matematika.

Peneliti dari tiga universitas di Amerika Serikat menemukan bahwa anak yang kelebihan berat badan dari usia 3-9 tahun memiliki hasil tes buruk pada pelajaran matematika dibanding teman mereka yang bertubuh langsing. Penemuan itu menunjukan bahwa obesitas juga terkait dengan prestasi akademis anak.

“obesitas pada tahun pertama sekolah, terutama dari tingkat sekolah dasar, bisa membahayakan kinerja sosial dan emosional anak-anak termasuk dalam hal akademis mereka.” Ungkap ketua peneliti Sara Gable dari the University of Missouri, Columbia

Para peneliti mengatakan dalam hal belajar matematika, anak laki-laki dan perempuan obesitas lebih susah karena mereka cenderung lebih mudah merasa sedih, kesepian dan lebih cemas.


http://www.sehatnews.com/2012/06/21/anak-obes-lebih-susah-belajar-matematika/

Biarkan Anak Bermain Karena Dari Sanalah Sang Juara Lahir

Biarkan Anak Bermain Karena Dari Sanalah Sang Juara Lahir


Banyak orangtua melarang anaknya bermain saat menghadapi ujian. Padahal kegiatan ini sangat menyenangkan bagi anak-anak. Bahkan dari bermain anak bisa jadi juara karena kegiatan ini.

Menurut Psikolog dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia (LPT UI), Mira D. Amir, anak bisa menjadi juara karena berawal dari bermain dan menjadi juara dibutuhkan keterampilan, yaitu soft skill (akademis, seni budaya) dan hard skill (olahraga).

"Seorang juara yaitu orang yang telah teruji secara fisik, mental, dan/atau spiritual yang terbaik di bidangnya. Bermain merupakan "bahasa" yang paling dipahami anak-anak, didalamnya terdapat aktivitas yang melibatkan fisik, mental, dan spiritual, termasuk kegiatan olahraga yang prinsipnya bermain," ujar Mira, Kamis (21/6/2012), di Jakarta.

Mira menyatakan jika anak gemar berolahraga dukung mereka untuk menjadi yang terbaik. Lalu bagaimana jika anak ingin main terus-terusan?

Menurut pengalaman Mira, jika anak kita suka berolahraga, tetapi mengeluh kalau latihan olahraganya berkurang, dikarenakan lapangan di sekolah ditutup, dengan alasan mendekati ujian sekolah atau harus belajar oleh orangtuanya, lalu semua kegiatan olahraga ditiadakan, anak akan menjadi malas.

"Ketika anak-anak dibiarkan tetap olahraga, ternyata dia bersemangat belajar. Asal dikomunikasikan porsi bermain atau olahraga dan belajar," tambah Mira.

Dan ternyata, bermain memiliki efek psikologi. Dengan bermain, pertama pertumbuhan anak dirangsang melalui kegiatan yang melibatkan fisik, intelektual, emosional, sosial yang berguna untuk kehidupan mereka selanjutnya. Kedua, meningkatkan daya serap dan kemampuan belajar.

Ketiga, menumbuhkan kemampuan emosi-sosial saat berinteraksi kelompok, dan keempat, menumbuhkan kemampuan memecahkan masalah secara individu atau kelompok.


http://www.tribunnews.com/2012/06/21/biarkan-anak-bermain-karena-dari-sanalah-sang-juara-lahir

Pendidikan Gratis Harus Didukung Semua Pihak

Pendidikan Gratis Harus Didukung Semua Pihak


Untuk mewujudkan kebijakan pendidikan gratis harus didukung oleh semua pihak. Harus disadari, pendanaan pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara Pemerintah, pemerintah daerah dan masyarakat.

Biaya Operasional Sekolah (BOS) tahun 2009, kata Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Prof. Suyanto dialokasikan untuk Sekolah Dasar (SD) sebanyak 27.130.968 siswa dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) sebanyak 9.465.836 siswa dengan alokasi anggaran sebesar Rp. 16,193 trilyun. Pemerintah daerah diwajibkan menambah kekurangan biaya operasional dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) bila bantuan BOS  belum mencukupi.

"BOS juga tidak menghalangi peserta didik, orang tua, atau walinya untuk memberikan sumbangan sukarela yang tidak mengikat kepada sekolah," kata Suyanto di Jakarta Kamis (15/7).

Disamping itu, pemerintah daerah juga harus mengawasi pungutan biaya operasional di SD dan Sekolah SMP swasta sehingga siswa yang tidak mampu benar-benar terbebas dari pungutan yang memberatkan mereka. Sanksi yang tegas juga harus diberikan bagi pihak yang ketahuan melanggar aturan dan penyalahgunaan dana BOS tersebut.

Peran Orang Tua
Wacana pendidikan gratis juga sering disalah artikan oleh sebagian orang tua murid. Hendaknya pemerintah harus lebih aktif memberikan sosialisasi yang meluas sehingga tidak ada kesalahpahaman dimasyarakat menyangkut pendidikan gratis ini. Karena banyak  yang menganggap pendidikan gratis hanya sebuah wacana belaka.

Sering timbul asumsi adanya kecurangan ketika tiba-tiba pihak sekolah khususnya swasta meminta biaya-biaya tambahan dari para orangtua murid. Bahkan tidak sedikit orang tua murid yang jengkel dan berasumsi sempit biaya pendidikan sudah digratiskan oleh pemerintah namun kebanyakan para orang murid ini tidak mau mengikuti prosedur harus membuat keterangan tidak mampu dari kelurahan.

Padahal kalau disadari, pendidikan disamping pemerintah orang tua juga memiliki tanggungjawab juga. Jelas tercantum dalam PP Nomor 48 tahun 2008 pasal 2 yang mengatakan pendanaan pendidikan menjadi tanggungjawab bersama antara Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat.

Masyarakat sebagaimana yang dimaksud meliputi penyelenggara atau satuan pendidikan yang didirikan masyarakat; peserta didik, orang tua atau wali peserta didik; dan pihak lain yang mempunyai perhatian dan peranan dalam bidang pendidikan.

Adapun yang menjadi tanggung jawab orang tua terhadap pendanaan pendidikan meliputi biaya pribadi peserta didik seperti uang saku, buku tulis dan alat-alat tulis. Juga pendanaan sebagian biaya investasi pendidikan atau sebagian biaya operasional pendidikan tambahan yang diperlukan untuk pengembangan sekolah menjadi bertaraf internasional dan berbasis keunggulan lokal.


http://apindonesia.com/new/index.php?option=com_content&task=view&id=2962&Itemid=51