Tampilkan postingan dengan label Trend. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Trend. Tampilkan semua postingan

Sepatu Dari Emas

Sepatu Dari Emas


Sebuah sepatu yang terbuat dari emas dan berlian berikut ini pasti akan membuat Anda geleng-geleng kepala karena heran. Bagaimana mungkin ada sepatu yang hampir seluruh bagiannya dibuat dari logam mulia tersebut.

Sepatu tersebut dipasarkan dalam rangka hari valentine, untuk memenuhi kebutuhan kaum jetset dalam memberikan kado valentine tak terlupakan untuk orang yang mereka sayangi.

Dibandrol dengan harga 140.000 poundsterling atau sekitar Rp. 2,4 miliar, sepatu ini benar-benar bisa menendang dompet pembelinya. Bahkan bisa dikatakan bahwa sepatu ini adalah sepatu paling mahal di dunia.

Stileto ini adalah hasil rancangan dari desainer Inggris Christopher Michael Shellis yang menghabiskan 3 tahun bekerja untuk merancang sepatu tersebut. Dengan bantuan seorang tukang emas yang trampil, potongan-potongan emas diukir dan dipahat menjadi karya seni mahal yang kini telah dipasarkan.

Sekitar 2000 berlian berjajar menghiasi seluruh permukaan stiletto yang hanya satu-satunya di dunia tersebut.

Untuk melelehkan emas yang menjadi bahan bakunya, dilansir oleh Dailymail, mereka harus menggunakan api bersuhu 1000 derajat selsius.

Tak mudah memang, namun harga yang harus dibayar pembelinya memang sepadan dengan nilai kerja keras sang pembuat.


http://sidomi.com/161052/astaga-sepatu-ini-terbuat-dari-emas-dan-berlian/

Proyek Rahasia PSY dan Youtube


Proyek Rahasia PSY dan Youtube


Youtube dan PSY saat ini sedang menggarap sebuah proyek rahasia. Proyek baru apakah kira-kira yang sedang mereka kerjakan?

Sayangnya PSY enggan membeberkan lebih lanjut. Sensasi global tarian invisible horse ini hanya menuliskan sekilas rencananya itu.

Lewat Twitter ia mengabarkan berita ini ke 1,6 juta follower-nya. Rasa antusias fans yang besar membuat tweet tersebut di retweet hingga seribu kali serta difavoritkan oleh 844 pengguna.

Jika melihat dari tweet foto yang diunggah PSY, terlihat jika ia bersama beberapa orang berpose dengan style fashion Gangnam Style. Apakah proyek rahasia ini masih terkait dengan video terpopuler sejagad tersebut?

Bisa jadi demikian. Popularitas PSY kian meledak seiring dengan booming-nya Gangnam Style. Bahkan kini video tersebut telah menyentuh 967 juta view.

Tinggal selangkah lagi Gangnam Style bisa meraih 1 miliar view seperti yang diramalkan sebelumnya. Rekor demi rekor terus tercipta di Youtube meski video ini baru diunggah 5 bulan yang lalu atau tepatnya 15 Juli 2012.

Sementara itu pundi-pundi keuangan PSY ikut membludak seiring jumlah view videonya yang membengkak. Diperkirakan pemilik nama asli Park Jae-sang menerima sekitar 5 juta poundsterling atau setara dengan Rp 77 miliar.

Uniknya PSY mengaku bosan dengan Gangnam Style. Padahal tarian ‘kuda jingkrak’ ini yang membuat namanya melambung seperti sekarang.


http://sidomi.com/149271/youtube-dan-psy-garap-proyek-rahasia/

Tren Jam Analog 2013

Tren Jam Analog 2013


Jam digital pada 2013 tampaknya akan mulai ditinggalkan pecinta mode karena nuansa klasik jam analog akan menjadi tren 2013, demikian Marketing Director PT. Kasindo Graha Kencana, Muliadi Toh di Jakarta, Rabu.

"Melihat tren di pasar kali ini, jam tangan analog akan lebih hits pada 2013 dibandingkan dengan digital," ujar Muliadi.

Ini karena selera pasar tampaknya akan kembali ke produk 'vintage' (nuansa lama) namun tetap elegan dan fashionable.

"Bila warna emas pada jam tangan sempat menjadi tren, kini untuk tren 2013 warna-warni berani justru akan lebih mendominasi," ujar Muliadi.

Warna seperti ungu, biru, fuschia, shocking pink, hijau, kuning, dan oranye, akan menjadi warna yang digemari dan banyak diproduksi produsen jam tangan, imbuh Muliadi. 


http://www.antaranews.com/berita/348214/jam-analog-akan-jadi-tren-2013

Wanita Facebook dan Hal Aneh yang Dilakukan

Wanita Facebook dan Hal Aneh yang Dilakukan


LEBIH dari sekadar jejaring sosial, Facebook ternyata sangat berpengaruh dalam hubungan percintaan seseorang. Berikut ini beberapa hal yang ternyata kerap dilakukan wanita melalui jejaring sosial tersebut.

Hampir semua orang telah memiliki Facebook. Perannya pun dalam kehidupan cukup beragam. Dari sekadar penyambung pertemanan, Facebook seakan menjadi ekspresi diri seseorang dalam dunia maya. Tak hanya pria, wanita juga ternyata begitu keranjingan dengan media sosial ini.

Berikut ini beberapa hal aneh yang dilakukan wanita di akun Facebooknya, seperti dikutip Askmen.

Membuat profil baru untuk memata-matai mantannya

Mungkin terdengar ekstrem, namun pasti Anda sudah mendengar tentang hal ini. Saat Anda tak lagi menjadi temannya di Facebook, dia akan membuat akun baru hanya untuk melihat perkembangan Anda. Cara ini dipilih karena paling mudah sekaligus tak membuat gengsinya terlukai. Selain itu, biasanya pria juga tak akan menyadari hal ini.
Memanipulasi Anda lewat foto
Terkadang wanita juga suka menunjukkan foto yang justru berkebalikan dari kenyataannya. Dalam foto, mungkin saja dia terlihat seksi, berpetualang, dan menyenangkan daripada kehidupan aslinya.

Curhat di status updates

Kolom status updates merupakan tempat untuk berbagi berita kepada teman-teman. Namun seringkali hal ini digunakan sebagai ajang curhat. Tak hanya untuk menuangkan perasaan wanita, namun juga menunjukkan betapa menyebalkan pasangannya.


http://lifestyle.okezone.com/read/2012/12/09/197/729636/hal-hal-aneh-dilakukan-wanita-di-facebook

Menjaga Sepatu dan Tas Tetap Tampil Berkelas

Menjaga Sepatu dan Tas Tetap Tampil Berkelas


Usaha jasa perbaikan sepatu dan tas di pusat perbelanjaan semakin dilirik oleh pelaku usaha. Sebab, di tempat seperti itu konsumen akan mudah mengaksesnya. Sistem jemput bola inilah yang mendongkrak pendapatan pelaku usaha.

Hobi mengoleksi tas bermerek yang harganya selangit memang menjadi wajar di kalangan masyarakat kota besar. Bagi para perempuan kelas atas seperti artis, pengusaha, dan ibu-ibu pejabat, menenteng tas mewah beragam merek seperti Prada, Luis Vuitton, Gucci, Fendi, hingga Cristian Dior sekaligus menunjukkan prestise.

Namun, untuk memelihara tas impor yang harganya selangit tersebut ternyata tidak mudah. Jika tas terkena noda dan Anda salah membersihkan, bukan tidak mungkin tas kesayangan Anda malah rusak dan kehilangan kecantikannya. Karena itu, bila ada kerusakan, para pemilik tas premium tersebut rela merogoh kocek lebih untuk merawat koleksi kesayangannya.

Maklum, harga satu unit tas bisa mencapai puluhan juta rupiah. Nah untuk memperbaiki atau merawat tas-tas mahal itu, sang empunya tidak mau sembarangan menyerahkan perbaikan tasnya pada sembarang tukang reparasi. Sebab mereka tidak mau koleksi tasnya itu bisa semakin rusak. Alhasil, mereka pun akan mencari gerai reparasi tas yang memang memiliki keahlian di bidang perbaikan tas mahal.

Merespons hal itu, beberapa tahun terakhir muncul beberapa pelaku usaha yang menawarkan jasa perawatan dan perbaikan untuk tas-tas bermerek. Layanan usaha ini biasanya juga sekaligus melayani perbaikan sepatu. “Seiring dengan perkembangan fashion khususnya tas, usaha jasa perbaikan tas untuk kalangan menengah atas ini memang terlihat potensial,” kata Riamanda, pemilik gerai perbaikan tas dan sepatu bernama JustAlvin. Riamanda membuka usahanya pada Maret 2012 di Mal Lippo Cikarang.

Sebelumnya Riamanda bekerja di perusahaan serupa. Berbekal dengan pengalamannya itu, dia memberanikan diri untuk membuka usaha sendiri karena melihat potensi usaha ini cukup besar. “Karena masih terbilang pemain baru, yang datang ke sini untuk reparasi baru sekitar 100 konsumen per bulan,” kata Riamanda.

Pasar potensi usaha ini ternyata tidak hanya di Jakarta. Buktinya, pada November nanti, Colorwash akan membuka satu gerai di Surabaya, Jawa Timur. Colorwash merupakan usaha yang bergerak di bidang jasa perbaikan dan perawatan tas dengan mengambil waralaba dari Singapura. Di Jakarta, Colorwash punya gerai di Basement Plaza Indonesia, Jakarta.

Ticco Chandra, pemilik Colorwash, bilang, celah bisnis perawatan tas ternyata tidak kalah cantik dengan bisnis jual beli tas mahal. Pertumbuhan pengguna tas mahal yang cukup signifikan menjadi alasannya untuk mengembangkan usaha ini di Indonesia. Rujukannya bisa dilihat dari banyaknya gerai tas mewah yang dibuka di sejumlah pusat perbelanjaan.


Kesepakatan tarif

Sejak berdiri pada Januari 2010, Colorwash sudah menangani ribuan tas dengan beragam kasus. Colorwash menerima order pembersihan untuk tas dengan beragam jenis bahan seperti kulit, kain, suede, dan kanvas. Sedangkan untuk pewarnaan, Ticco bilang, Colorwash hanya menerima tas dengan bahan kulit.

Selain pembersihan dan pewarnaan, Colorwash juga menerima perbaikan untuk kerusakan ringan. Pewarnaan sendiri kerap menjadi solusi pada tas yang mengalami kerusakan ringan seperti tergores, lecet, atau terkena noda yang susah dihilangkan. Meski prioritas Colorwash adalah produk tas dan sepatu, Ticco juga melayani jasa perawatan produk lain seperti dompet atau jaket kulit.

Tarif yang dipatok untuk memperoleh jasa Colorwash beragam. Untuk pembersihan, tarif yang dipatok berkisar antara Rp 90.000–Rp 390.000. Sedangkan untuk pewarnaan, pelanggan harus merogoh kocek lebih dalam, yakni Rp 490.000 hingga jutaan rupiah. Ticco menambahkan, harga juga bisa berubah, tergantung dari kasus dan jenis barang yang ingin mendapat perawatan.

Riamanda mengatakan, setelah melihat tingkat kerusakan barang, ia biasanya menyampaikan ke konsumen soal asumsi biaya yang harus ditanggung sang empunya barang. “Jangan sampai konsumen komplain karena ongkos jasa kita dinilai kemahalan,” jelasnya. Riamanda mematok tarif terendah Rp 10.000 hingga ratusan ribu untuk biaya jasanya.

Top N Way, jasa reparasi tas dan sepatu di Giant Ciputat, memasang tarif yang sama. “Kalau rusaknya minim, tarifnya cuma puluhan ribu. Kalau berbahan kulit, biasanya tarifnya bisa sampai ratusan ribu,” kata Muhjid Ridwan, salah seorang karyawan Top N Way.

Tarif jasa yang ditetapkan JustAlvin dan Top N Way lebih rendah lantaran jenis tas yang mereka perbaiki tidak semua berharga jutaan rupiah. Selain itu biaya sewa lokasi usaha mereka yang tidak terlalu mahal juga mempengaruhi terhadap biaya jasa yang diberlakukan ke konsumen.


• Lokasi usaha

Lantaran segmen usaha ini adalah kalangan menengah atas, untuk membangun kepercayaan, sebaiknya pilihlah lokasi yang merepresentasikan kualitas layanan Anda. Pusat perbelanjaan menjadi salah satu pilihan utama.

Ticco memilih membuka usaha di Plaza Indonesia lantaran mengincar segmen kalangan atas. Selain itu, di lokasi tersebut, banyak butik-butik tas mahal sehingga akan memudahkan konsumen untuk mengakses Colorwash.

Ticco juga menjalin kerjasama dengan beberapa butik tas branded seperti Bottega Veneta, Burberry, Chanel, Gucci, Dior, dan Fendi untuk memudahkan menggaet konsumen.

Sementara itu, JustAlvin dan Top N Way memilih lokasi pusat perbelanjaan seperti Lippo Cikarang dan Giant karena mereka ingin mengincar segmen menengah. “Meskipun pasarnya lebih luas, tetapi tarif juga menyesuaikan,” jelas Ridwan. Lokasi ini dipilih karena target mereka adalah wanita. Selain di Giant Ciputat, Top N Way juga membuka gerai di Hero, Gatot Subroto Jakarta.

Ridwan mengatakan, biaya sewa lokasi Top N Way sekitar Rp 4 juta per bulan. “Kalau di mal besar biasanya bayarnya pakai dollar AS. Jadi kalau mau membuka usaha ini, ya, sebaiknya dipertimbangkan dengan modal yang dimiliki,” ujarnya. Dalam sehari, Top N Way bisa mendapatkan 15 pelanggan hingga 20 pelanggan. Omzet yang diperoleh sekitar Rp 1 juta hingga Rp 1,3 juta per hari atau sekitar Rp 30 juta hingga Rp 39 juta per bulan.

Sedangkan Colorwash, dalam sehari bisa menerima jasa pembersihan dan perawatan tiga unit tas dan tiga pasang sepatu. Dalam sebulan, transaksinya bisa mencapai 60 unit–90 unit dengan asumsi omzet mencapai Rp 1,6 juta per hari atau Rp 48 juta per bulan. Sayangnya, Ticco enggan menjelaskan berapa persen keuntungan bersih yang diperolehnya.


• Modal usaha

Meski pendapatan yang diperoleh cukup lumayan, Ticco bilang, waktu yang diperlukan untuk balik modal cukup lama yakni dua tahun hingga tiga tahun. Pasalnya, untuk memulai bisnisnya ini memang butuh modal cukup besar. Investasi terbesar dikucurkan untuk merenovasi lokasi usaha, membeli peralatan seperti mesin cuci khusus tas dan sepatu, mesin pengering, dan mesin pewarnaan. Semua peralatan yang dimiliki Colorwash diimpor langsung dari Korea. “Harga keseluruhan alat mencapai ratusan juta rupiah,” tutur Ticco.

Sementara itu Ridwan mengatakan, untuk memulai usaha ini, bisa saja hanya mengucurkan modal kurang dari Rp 100 juta. “Semua tergantung di mana kita akan membuka lokasi dan besarnya investasi perlengkapannya,” jelasnya.

Menurut Ridwan, untuk memulai usaha ini, cukup memiliki mesin jahit untuk tas, mesin sepatu, dan mesin duplikasi kunci masing-masing satu unit. Ridwan bilang, harga paling mahal memang mesin sepatu, yakni untuk kualitas standar yang harganya bisa mencapai Rp 50 juta per unit. Sementara harga mesin jahit sekitar Rp 5 juta.

Sementara itu, pembelanjaan peralatan lainnya seperti aneka gunting, lap, jarum, benang, sikat sepatu ataupun sikat tas tidaklah besar. Perkiraannya hanya menghabiskan dana sekitar Rp 3 juta. Pembelian perlengkapan gerai seperti rak, meja, dan kursi membutuhkan dana sekitar Rp 15 juta. Renovasi gerai dan pembuatan papan nama usaha paling tidak menghabiskan dana Rp 10 juta.

Terkait dengan pengeluaran rutin bulanan, biaya yang digelontorkan antara lain untuk membayar gaji karyawan, sewa tempat, belanja peralatan, dan pulsa. Gaji yang diberikan tidak besar, dengan kisaran Rp 2 juta per bulan. Sementara untuk sewa tempat di area supermarket, alokasi dananya Rp 4 juta per bulan. “Biasanya sudah termasuk biaya listrik,” kata Ridwan. Sedangkan biaya operasional seperti untuk pulsa dan transportasi sekitar Rp 500.000.

Untuk belanja peralatan dan perlengkapan seperti lem, benang, pelumas, sol sepatu, ritsleting, dan kemasan biasanya hanya menghabiskan dana sekitar Rp 3 juta. Menurut Ridwan, pembelanjaan ini tidak rutin karena produk-produk tersebut tidak baik juga disimpan terlalu lama sebab kualitas akan menurun. Misalnya pembelanjaan ritsleting atau sol sepatu tergantung dari kebutuhan, tidak harus belanja rutin.

Untuk promosi, mereka tidak menyediakan  anggaran khusus. “Yang penting memberikan layanan terbaik agar konsumen menjadi agen promosi kita,” kata Riamanda.     


http://peluangusaha.kontan.co.id/news/menjaga-sepatu-dan-tas-tetap-tampil-berkelas/2012/11/01

Tentang “Miapah” dan Hal-hal “Ciyus” Lainnya

Tentang “Miapah” dan Hal-hal “Ciyus” Lainnya


Artikel ini adalah bagian dari peringatan Bulan Bahasa. Sebuah upaya untuk menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia, seperti sumpah para pemuda tahun 1928.

Sekalipun tidak ada maksud serius dan sungguh-sungguh di balik kata “ciyus”, “cungguh”, dan teman-temannya yang sedang populer saat ini, tak ada salahnya kita mencoba membahasnya dengan serius.

Bagi yang tidak mengetahui tren bahasa gaul terkini, saya akan meringkas dahulu. Belakangan ini, terutama di media sosial, sedang marak penggunaan bahasa tidak baku yang berusaha membuat setiap katanya terdengar imut dan lucu—setidaknya, maksudnya begitu.

Agak sulit untuk merumuskan aturan dari gejala bahasa ini, yang kerap dikategorikan ke dalam bahasa alay edisi terbaru. Tidak ada prinsip yang mutlak, sekalipun ada pola-pola yang terlacak, seperti: substitusi “s” menjadi “c” (“sungguh” menjadi “cungguh”); substitusi “r” menjadi “l” atau “y” (“rahasia” menjadi “lahacia”); dan reduksi huruf-huruf ( “terima kasih” menjadi “maacih”). Tetapi, kapan substitusi dan reduksi tersebut berlaku, sepenuhnya masalah insting pengguna.

Gejala bahasa ini sebetulnya agak berbeda dengan bahasa alay edisi sebelumnya yang cenderung merepotkan pembacanya, bahkan penggunanya sendiri.

Pola bahasa alay terdahulu, antara lain: permainan huruf besar-kecil pada satu kata (“cinta” menjadi “cInTa”); substitusi huruf menjadi angka (“sayang” menjadi “Ch4y4Nk”); dan penggunaan huruf-huruf yang jarang digunakan seperti “x”, “q”, “w”, dan “z” (“kamu mau apa” menjadi “Qm mW 4pH”), hanya memungkinkan untuk dilakukan pada tataran tulisan. Pada tataran lisan, ia kehilangan “pesona” dan praktiknya.

Ini berbeda dengan “ciyus” dan teman-temannya yang, walaupun banyak beredar di media jejaring sosial yang didominasi oleh tulisan, justru menjadi berarti ketika mereka diejawantahkan ke tataran lisan. Impresi imut dan lucu—ya, saya tahu, tidak semua menganggap ini lucu—bisa terwujud karena asosiasi kita terhadap anak kecil polos-tembam yang cadel dan belum fasih bicara.

Ada lagi satu perbedaan yang paling kentara dari kedua gejala bahasa tersebut. Jika yang terdahulu banyak digunakan untuk sungguh-sungguh mengatakan apa yang ia sampaikan, yang terbaru banyak digunakan untuk sungguh-sungguh bercanda.

Kata “ciyus”, misalnya, membuat kata “serius” kehilangan kredibilitasnya. Pada akhirnya, kata “ciyus” tidak akan dipakai untuk menggantikan kata “serius” dalam maksud sebenarnya.

Tentu saja setiap kata, seusil apapun asal-usulnya, mempunyai hak untuk hidup. Namun, perjuangan setiap kata untuk dapat hidup lama bukan perkara mudah. Seperti tuturan Samsudin Berlian, seorang pemerhati makna kata, dalam Rubik Bahasa Kompas (8/11/03), bahwa “dalam bahasa yang hidup, kata-kata lahir dan mati seiring dengan perkembangan dunia pemakaiannya.”

Jika betul begitu, barangkali kita tidak perlu melempar penemu kata “ciyus” dan teman-temannya dengan sendal jepit. Apabila kata-kata tersebut sudah membosankan dan telah kehilangan kelucuannya, toh mereka akan mati dengan sendirinya. Cungguh.

Catatan: Sebelum berkomentar menggunakan “miapah”, “ciyus”, “enelan”, “cungguh”, dan sejenisnya, pastikan Anda sudah benar-benar membaca tulisan ini.


http://id.berita.yahoo.com/blogs/newsroom-blog/tentang-miapah-dan-hal-hal-ciyus-lainnya.html