Tampilkan postingan dengan label Lingkungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lingkungan. Tampilkan semua postingan

Gunung Dengan Sunrise Terindah di Indonesia

Gunung Dengan Sunrise Terindah di Indonesia


Jika Anda adalah pecinta alam sejati, maka pasti mengakui bahwa pemandangan sunrise atau matahari terbit dari puncak gunung adalah sebuah pengalaman yang sangat berkesan dan membuat ketagihan.

Indonesia sendiri punya beberapa buah gunung yang kerap dijadikan tujuan bagi para pecinta alam tersebut. Semua tentu menyimpan keindahan masing-masing. Namun jika Anda ingin menyaksikan sunrise terindah, silahkan kunjungi 3 buah gunung berikut ini:

1. Gunung Bromo

Gunung Bromo telah dikenal hingga ke mancanegara sebagai gunung dengan pemandangan alam yang sangat cantik. Tak hanya lautan pasir yang terbentang di sekitar gunung tersebut serta kabut yang kerap menyelimutinya, Gunung Bromo pun tenar sebagai lokasi menyaksikan sunrise terindah di Indonesia.

Terdapat di Jawa Timur, bertetangga dengan Gunung Semeru, Anda bisa mengunjunginya tanpa perlu terlalu lelah mendaki. Ada anak tangga yang tersedia untuk mencapai puncaknya.

2. Gunung Semeru

Lokasi Gunung Semeru ada di Jawa Timur, tepatnya pada perbatasan Malang dan Lumajang. Gunung yang paling jangkung di tanah Jawa ini banyak dikunjungi oleh pendaki sebab memiliki pemandangan yang luar biasa indah. Ranu Kumbolo, nama sebuah danau yang terdapat di atas Semeru menyimpan kecantikan yang makin bersinar saat sunrise tiba.

Apalagi bila Anda menapaki Mahameru, puncak dari Semeru, saat sinar surya pertama kali terbit di timur. Pasti akan menjadi pengalaman tak terlupakan seumur hidup.

3. Gunung Kelimutu

Pada puncak Gunung Kelimutu, terdapat 3 buah danau yang unik sebab warna air satu sama lainnya berbeda-beda. Tak hanya itu, sebab sunrise dari puncak gunung yang terdapat di Ende, NTT ini juga sangat indah. Terbukti dari banyaknya fotografer dalam dan luar negri yang berlomba mengabadikannya.


http://sidomi.com/161075/ingin-lihat-sunrise-terindah-kunjungi-3-gunung-ini/

Tips Badan Tak Mudah Sakit Saat Cuaca Buruk

Tips Badan Tak Mudah Sakit Saat Cuaca Buruk


Cuaca ekstrim, mendadak hujan deras, mendadak panas lagi, rentan membuat orang jatuh sakit. entah itu flu, demam, meriang dan bahkan kena tipus dan demam berdarah.

Bagaimana agar tak mudah sakit?

Status gizi yang baik merupakan penentu kuatnya sistem pertahanan tubuh. Untuk itu Asosiasi Dietisien Indonesia DR. Sunita Almatsier, MSc menyatakan bahwa tubuh harus mendapat zat-zat gizi yang seimbang satu sama lain.

Setiap hari kita tidak bisa hanya mengonsumsi makanan berprotein saja. Kebutuhan tubuh tidak hanya sekedar protein, melainkan zat-zat gizi lain seperti lemak, karbohidrat, mineral, dan vitamin.

Menurut Pedoman Umum Gizi Seimbang (PUGS) seyogyanya tubuh mendapat sekitar 60-75 persen energi yang diperoleh dari karbohidrat terutama karbohidrat komplek. Sementara protein sekitar 10-15 persen dan lemak sekitar 10-25 persen.

Karbohidrat sebagai sumber energi bisa diperoleh dari padi-padian atau serealia seperti beras, jagung, dan gandum. Sagu, umbi-umbian dan hasil olahannya bisa juga digunakan.

Sumber protein didapat dari protein hewani seperti daging, ayam, telur, susu dan keju. Protein nabati seperti kacang-kacangan dan hasil olahannya juga layak dimanfaatkan.

Sementara zat pengatur yang kebanyakan berupa vitamin dan mineral bisa diperoleh dari beragam sayuran dan buah. Sayuran diutamakan yang berwarna hijau dan kuning jingga seperti bayam, daun singkong, daun katuk, kangkung, wortel, dan lainnya.

Buah-buahan diutamakan yang berwarna kuning jingga, kaya dan yang berasa asam seperti pepaya, mangga, nenas, jambu biji, apel, dan lainnya.

Penempatan kelompok makanan ini kalau disusun akan membentuk kerucut. "Kelompok makanan sumber energi ditempatkan di dasar kerucut karena paling banyak dimakan. Kelompok makanan sumber zat pengatur di tengah kerucut dan kelompok sumber protein bagian atas kerucut karena relatif paling sedikit dimakan setiap hari," jelas Sunita.

Namun, selain bahan makanan tersebut, dalam menu harian kita, ada beberapa bahan yang masuk seperti sumber lemak murni dari minyak goereng, margarin, mentega. Juga sumber karbohidrat murni dari gula pasir, gula merah, madu, dan sirop.


http://www.tribunnews.com/2013/02/07/cuaca-sedang-ekstrim-ini-tips-badan-tahan-banting-dan-tak-mudah-sakit

Malaysia Jadi Contoh Negara Berhasil Lestarikan Hutan Tropis

Malaysia Jadi Contoh Negara Berhasil Lestarikan Hutan Tropis


Sejak merdeka tahun1957, Malaysia menjadi contoh salah satu negara Asia yang sukses. Meskipun pertumbuhan ekonomi dan urbanisasi yang cepat, negara itu tetap melindungi hutan tropis yang luas. Namun, serangan para pemburu satwa liar dari Thailand dan Vietnam merupakan masalah yang berkembang hingga kini.

Di Negara bagian Perak, Malaysia, para aktivis pelestari menerapkan dan mengadaptasi teknologi baru guna menyelamatkan spesies langka di negara itu.

Petugas margasatwa berpatroli malam hari di hutan Belum Tenegor - hanya ada 12 petugas pria yang melindungi gajah langka, harimau dan beruang yang mendiami hutan seluas  4.000 kilometer persegi di bagian utara Malaysia.

“Proporsi gajah di sini lebih banyak betina daripada jantannya karena perburuan. Mereka membunuh gajah jantan karena gadingnya. Jadi mungkin hanya 10-15 persen adalah jantan. Kami mengusahakan yang terbaik untuk mengatasi masalah ini,” kata Kadir Hashim, direktur bidang satwa liar di negara bagian tersebut.

Beberapa solusi untuk melestarikan gajah Malaysia sedang dikembangkan di kampus Universitas Nottingham di Kuala Lumpur.

Peneliti dari instansi pemerintah dan sekolah di Inggris, Manjemen Ekologi Gajah Malaysia - atau proyek MEME - sedang menyempurnakan teknologi untuk mendukung pelestarian gajah dan memberantas perburuan. Dengan bantuan dari inisiatif conservationdrones.org, mereka bahkan mengadaptasi teknologi militer, termasuk pesawat tanpa awak yang dikendalikan dari jarak jauh.

“Untuk model khusus ini, kami bertujuan mengembangkan jangka waktu terbang kira-kira 60 menit, dan, jarak terbang sekitar 50 km, yang semestinya cukup jarak bagi kami untuk mengawasi habitat gajah. Kamera inframerah akan memungkinkan kita menembus pandangan melalui puncak-puncak pohon - kanopi,” ungkap Wee-Siong Lim, salah seorang peneliti.

Menurut ketua komunitas, Rahium Banun, semakin sukses para aktivis pelestarian satwa, semakin banyak persaingan yang memperebutkan lahan dan sumber daya antara satwa liar dan perkembangan populasi manusia di Malaysia.

Profesor Ahimsa Campos-Arceiz menjelaskan bagaimana penelitian melacak gajah dapat membantu keamanan desa. “Yang kita amati adalah animasi data yang dikumpulkan melalui kerah pemancar satelit GPS pada gajah-gajah untuk mengawasi pergerekan dan lokasi mereka,” paparnya.

Teknologi itu secara keseluruhan memungkinkan kita untuk melakukan hal-hal yang 15 tahun lalu tidak mungkin dilakukan. 


http://www.voaindonesia.com/content/malaysia-jadi-negara-yang-berhasil-lestarikan-hutan-tropis/1563881.html

Pertumbuhan Konsumsi Energi Indonesia Tertinggi di Dunia

Pertumbuhan Konsumsi Energi Indonesia Tertinggi di Dunia


Ini soal energi. Pertumbuhan konsumsi kita  ternyata paling tinggi di dunia. Dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan konsumsi energi itu mencapai 7 persen per tahun. Padahal, pertumbuhan konsumsi energi dunia hanya rata-rata 2,6 persen per tahun. Jadi selisihnya sangat jauh.

Tingginya jumlah konsumsi energi itu, disampaikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral di Jakarta, Jumat 23 November 2012. Sekretaris Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi, Djajang Sukarna, menjelaskan bahwa konsumsi energi yang tinggi itu bisa menimbulkan masalah dikemudian hari. Bisa menimbulkan ketimpangan.

Timpang karena terjadi pengurasan sumber daya fosil seperti minyak dan gas bumi serta batu bara yang lebih cepat, dibandingkan penemuan cadangan baru. "Sedangkan saat ini, penggunaan energi baru terbarukan masih 5-6 persen dari penggunaan energi secara keseluruhan," kata Djajang kepada VIVAnews.

Menurut Djajang, masih kecilnya peran energi baru terbarukan dan konservasi energi itu memaksa pemerintah menggenjot fungsi energi baru terbarukan itu. Hal itu diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional. Pada 2020, peranan energi baru terbarukan diharapkan meningkat minimal 17 persen.

Dalam peraturan pemerintah tersebut diatur bahwa penggunaan energi baru terbarukan pada 2020, antara lain biofuel minimal lima persen, panas bumi lima persen, energi baru terbarukan seperti biomasa, air, tenaga surya, tenaga angin, dan nuklir lima persen serta coal bed metane sebesar dua persen.

Bahkan, Kementerian ESDM memasang target lebih tinggi dari peraturan pemerintah, yaitu 25 persen. Berbagai target ini, kata Djajang, merupakan tantangan bagi Ditjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM.

Berbagai kebijakan pun telah diterbitkan Kementerian ESDM, seperti perbaikan tarif listrik panas bumi, listrik dari sampah, hingga harga listrik dari biomasa. Ditjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi juga akan menerbitkan tarif baru untuk listrik dari tenaga surya.

Selain itu, kebijakan lintas sektoral antara Kementerian ESDM dan Kementerian Keuangan juga telah dikeluarkan, yaitu dengan memberikan berbagai insentif fiskal seperti pengurangan pajak barang ekspor, hingga pengurangan pajak pertambangan nilai (PPN) untuk keperluan pembangunan pembangkit listrik panas bumi.

"Berbagai kebijakan telah kami buat agar investor mau masuk. Dari perbaikan tarif listrik yang bersumber dari energi baru terbarukan dan kewajiban PLN untuk membeli listrik dari swasta," katanya. Pemerintah pun telah melakukan berbagai cara untuk meningkatkan bauran energi baru terbarukan untuk menekan penggunaan energi fosil yang semakin cepat habis.

Porsi masih kecil
Saat ini, penggunaan energi baru terbarukan belum dirasakan oleh masyarakat, karena porsinya masih kecil, antara 5-6 persen. Namun, jika masyarakat sadar, sebenarnya energi baru terbarukan telah masuk dalam setiap rumah-rumah melalui energi panas bumi. "Listrik di Pulau Jawa sudah disuplai dari panas bumi dan sudah masuk jaringan PLN, sehingga sudah tersebar ke rumah-rumah, cuma masyarakat belum sadar," katanya.

Selain itu, energi baru terbarukan berada di sekitar masyarakat. Ia mencontohkan, di kampung-kampung banyak keluarga yang memiliki tiga ekor sapi. Kotoran tiga ekor sapi tersebut dapat diolah menjadi biogas dan cukup untuk kebutuhan energi satu keluarga setiap harinya.

Berbagai program pelatihan pun telah dilakukan oleh Kementerian ESDM, namun hasilnya tidak optimal. Karena, masyarakat lebih memilih untuk kembali menggunakan energi fosil yang lebih mudah, murah, dan tidak repot.

Ia mengatakan, selama energi fosil masih disubsidi oleh pemerintah, pada saat yang bersamaan energi baru terbarukan tidak akan berkembang. Kementerian ESDM saat ini tengah meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya penggunaan energi baru terbarukan.

"Masyarakat kita dalam tanda petik menjadi manja, karena BBM disubsidi. Akhirnya melupakan energi terbarukan. Padahal, di belakang rumahnya ada tanaman jarak yang bisa menghasilkan biofuel," katanya.

Untuk itu, perlu ada perubahan mental di masyarakat untuk sadar menggunakan energi terbarukan dan menghemat energi fosil. Jika tidak, pada 2030, Indonesia dapat menjadi nett importer energy. Kondisi yang semestinya dapat dihindari.

Ia menjelaskan, potensi energi baru terbarukan di Indonesia bisa mencukupi kebutuhan energi Indonesia hingga 100 tahun mendatang, karena memiliki potensi setara dengan 160 gigawatt (GW).

Bahkan, Wakil Presiden Boediono, menyatakan, pemerintah berkomitmen 100 persen untuk mengembangkan energi baru terbarukan itu. Sebab, Indonesia memiliki banyak ragam dan volume energi baru terbarukan. "Itu semua juga terdapat dalam kebijakan energi nasional," ujar Wapres, beberapa waktu lalu.

Kebijakan energi nasional itu, dia melanjutkan, harus memenuhi tiga unsur, yaitu keamanan energi, menjamin keberlangsungan pertumbuhan ekonomi, dan memperhatikan lingkungan hidup. "Kalau salah merumuskan strategi energi, yang menanggung kita sendiri. Kualitas hidup bisa terganggu," katanya.

Boediono mengaku, saat ini, energi nasional masih belum aman, boros, dan kotor. Namun, dengan teknologi pengembangan energi baru terbarukan yang maju pesat, semakin terjangkau, dan ekonomis, ketiga kendala tersebut diharapkan dapat diatasi.

Menurut Wapres, salah satu alternatif yang bisa mempercepat peningkatan peran energi baru terbarukan adalah tenaga listrik. Sebab, Indonesia kaya akan sumber panas bumi.

Berdasarkan data pada Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2013, alokasi anggaran subsidi energi masih cukup besar. Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat menyepakati anggaran subsidi energi tahun depan hingga Rp193,8 triliun untuk bahan bakar minyak (BBM), elpiji 3 kilogram, dan LGV atau Liquefied Gas for Vehicle.

Alokasi LGV ini merupakan yang pertama masuk dalam anggaran pemerintah.

Untuk subsidi listrik, alokasi anggaran yang disiapkan mencapai Rp80,9 triliun. Anggaran itu termasuk di dalamnya pembayaran kekurangan subsidi pada 2011 yang merupakan hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) senilai Rp2 triliun.

Sementara itu, pemerintah berharap dapat memperoleh pendapatan negara dari sektor minyak dan gas bumi serta pertambangan umum pada 2012 sebesar Rp388 triliun. Jumlah ini setara 28 persen dari total pendapatan negara.

Gandeng swasta
Upaya untuk memanfaatkan energi baru terbarukan itu bukan tanpa kendala. Bahkan, pemerintah dinilai belum serius mengembangkan energi baru terbarukan itu di Indonesia.

Wakil Direktur Reform Miner Institute, Komaidi Notonegoro, menilai, walaupun telah dibentuk Direktorat Jenderal khusus yang menangani energi baru terbarukan, upaya pengembangan energi itu belum optimal.

"Kami memang perlu mengapresiasi bahwa sudah ada direktorat khusus energi baru terbarukan, itu langkah positif," kata Komaidi saat dihubungi VIVAnews.  "Namun, kerjanya relatif belum optimal, karena bauran energi baru terbarukan porsinya belum signifikan dan dalam beberapa tahun terakhir meleset dari target".

Ia menjelaskan, sebenarnya energi baru terbarukan sangat potensial di Indonesia. Jika pemerintah serius menggarap energi baru terbarukan itu, dapat mengonversi impor BBM Indonesia yang saat ini masih sangat besar, antara 700-800 ribu barel per hari.

"Kalau dapat mengonversi 50 persen impor BBM menjadi energi baru terbarukan, pemerintah akan mendapatkan pasokan energi yang lebih terjamin, karena tidak tergantung dengan impor BBM," ujarnya. Untuk itu, ia mengusulkan agar pemerintah mengajak pengusaha dengan meyakinkan mereka berinvestasi di energi baru terbarukan.

Sayangnya, ia sering mendengar keluhan dari pengusaha swasta bahwa setiap kebijakan yang dikeluarkan oleh Kementerian ESDM tidak pernah melalui diskusi dengan pengusaha. Akibatnya, keputusan yang dikeluarkan sepihak dan tidak mengakomodasi kepentingan pengusaha.

"Akhirnya, antara yang dibutuhkan oleh pengusaha dan kebijakan yang dikeluarkan pemerintah tidak nyambung," katanya. Ia mengatakan, pemerintah harus mengubah mindset, dari budaya kerja administratif menjadi lebih taktis dalam menyelesaikan masalah.

Pemerintah dapat menggunakan pendekatan korporat untuk merangkul pengusaha, karena sebenarnya Indonesia memiliki potensi besar di energi baru terbarukan. "Namun masalah utamanya adalah apakah ada kemauan dari pemerintah," tuturnya.


http://fokus.news.viva.co.id/news/read/369685-konsumsi-energi-ri-tumbuh-tertinggi-di-dunia--apa-sebabnya-

Orang Utan Mengalami Krisis Paruh Baya

Orang Utan Mengalami Krisis Paruh Baya


Sebuah studi menunjukkan bahwa tidak hanya manusia, primata yang lain seperti simpanse dan orangutan juga mengalami krisis separuh baya, ditandai dengan situasi emosi yang labil.

“Kami terkejut ketika data pada hewan-hewan tersebut menunjukkan kurva kebahagiaan yang berbentuk huruf U,” ujar ekonom Andrew Oswald dari Universitas Warwick di Inggris, yang juga salah satu penulis makalah ilmiah yang diterbitkan Senin (19/11) oleh Akademi Sains Nasional AS.

Kurva kebahagiaan berbentuk U dan aspek-aspek kesejahteraan lainnya terdokumentasikan secara lengkap dengan alasan-alasan yang dianggap kontroversial. Sejak 2002, penelitian-penelitian di sekitar 50 negara telah menemukan bahwa tingkat kebahagiaan tinggi pada masa muda, turun di periode paruh baya, dan naik kembali pada usia tua.

Euforia masa muda datang dari harapan-harapan tak terbatas dan kesehatan yang baik, sementara ketenangan dan kepasrahan orang tua mencerminkan “kebijaksanaan yang terakumulasi dan kesaksian terhadap kematian teman dan kerabat, yang membuat Anda lebih menghargai apa yang Anda miliki,” ujar Oswald.

Alasan-alasan turunnya kebahagiaan pada usia paruh baya, di mana tingkat bunuh diri dan penggunaan obat anti depresi memuncak, tidak begitu jelas. Pada tahun-tahun terakhir, para peneliti telah menekankan pada faktor-faktor sosiologi dan ekonomi, mulai dari kesadaran seorang akuntan bahwa mimpinya sebagai penyanyi Broadway tidak akan terwujud sampai ketakutan akan dipecat, belum lagi kegagalan perkawinan dan kesulitan keuangan.

Oswald, 58, menyebut periode itu “ledakan kemarahan.” Karena belum ada studi mengenai itu sebelumnya, ia dan para koleganya memutuskan untuk melihat apakah makhluk-makhluk yang tidak memiliki penyesalan dalam karir atau cicilan rumah bisa menderita krisis paruh baya.

Mereka pun meneliti kebahagiaan 155 simpanse di kebun binatang Jepang, 181 di AS dan Australia dan 172 orangutan di AS, Kanada, Australia dan Singapura. Hasilnya, ketiga kelompok primata ini mengalami ketidaknyamanan paruh baya: Kurva ketenangan U dengan titik nadir pada, masing-masing, usia 28, 27 dan 35, dibandingkan dengan manusia yang mengalaminya pada usia 45 sampai 50.

Mengapa hewan-hewan tersebut mengalami krisis paruh baya? Mungkin karena tatanan masyarakat mereka mirip dengan manusia, yang dipengaruhi faktor sosial, tak hanya biologi, ujar Oswald. Barangkali kera mengalami masalah eksistensial juga, saat mereka menyadari mereka tidak akan pernah menjadi pria atau perempuan alfa.
Ia menambahkan bahwa krisis paruh baya sepertinya diturunkan lewat evolusi, bukannya dampak kehidupan modern.

“Barangkali alam tidak ingin kita nyaman pada usia paruh baya, hanya duduk-duduk tenang di atas pohon,” ujar Oswald.

“Mungkin ketidaknyamanan membakar gairah di dalam diri, mendorong kita ingin membuat pencapaian lebih untuk diri kita atau keluarga.”


http://www.voaindonesia.com/content/studi-orangutan-alami-krisis-paruh-baya/1549370.html

5 Anak Tewas di Tong Sampah

5 Anak Tewas di Tong Sampah


Lima anak jalanan ditemukan tewas di tong sampah di kota Bijie, Provinsi Guizhou, di Cina barat daya.

Laporan media di Cina, hari Minggu (18/11), menyebutkan bahwa kelima mayat anak tersebut ditemukan oleh seorang pemulung hari Jumat sekitar pukul 10.00 pagi.

Menurut para pejabat Cina, anak-anak yang berusia 10 tahunan ini mungkin masuk ke tong sampah untuk menghindari cuaca yang dingin.

Namun mereka kemudian kehabisan oksigen.

Warga di sekitar lokasi kejadian mengatakan mereka sempat melihat anak-anak ini bermain dengan bola usang yang ditemukan di tempat sampah.

Suhu udara pada malam hari di kota Bijie, yang terletak di daerah pegunungan, mencapai 6 derajat Celcius.

Pemerintah setempat, seperti dikutip media di Beijing, mengatakan kelima anak ini telah dibawa ke kamar mayat dan penyeldikan untuk mengetahui kasus ini telah dimulai.

Polisi juga berusaha mencari tahu keluarga kelima anak tersebut.


http://www.bbc.co.uk/indonesia/majalah/2012/11/121118_anak_cina.shtml

Mengolah Kebun di Rumah Dengan Modal Murah

Mengolah Kebun di Rumah Dengan Modal Murah


Gaya hidup berkebun di perkotaan merebak seiring berkembangnya teknik menanam di lahan sempit. Contoh beberapa teknik yang populer adalah sky farm, hidroponik, hingga akuaponik.

Donor Rahayu, pemilik FAM Organic, menjelaskan, tren berkebun di masyarakat urban sangat dipengaruhi oleh pola hidup organik. Orang memanfaatkan lahan terbatas yang masih tersisa dengan menggunakan aneka peralatan sederhana dan ramah lingkungan.

Donor mencermati, kini, hobi memelihara tanaman hias mulai beralih ke buah-buahan atau sayuran. Apalagi, hasil panennya dapat langsung dikonsumsi.

Yang menarik, kegiatan berkebun tidak memerlukan biaya besar. Anda bisa memanfaatkan berbagai peralatan yang ada di rumah atau lingkungan sekitar. Ini termasuk barang bekas yang biasanya berakhir di tempat sampah, seperti kaleng, kemasan plastik, serta kayu.

Teknik sky farm atau sky garden, misalnya, cocok bagi rumah yang tak memiliki pekarangan tapi punya ruang untuk menggantung tanaman. “Kanopi jendela rumah atau kanopi garasi cocok untuk sky farming,” ujar Donor.

Peralatan yang mesti disiapkan pun terbilang sederhana. Misalnya, pot, sekop, gunting tanaman, selang air, termasuk instalasi air, serta benih berikut alat semai. Peralatan seperti sekop, pot, selang, serta gunting tanaman bisa dibeli di toko tanaman, gerai penjualan perkakas, dan hipermarket.

Agar lebih hemat, kata Donor, pot bisa diganti dengan kaleng, pipa paralon atau kemasan plastik bekas. Anda tinggal membersihkan, melubangi, dan memasang tali atau kawat penggantung pada alat itu. Sementara, nampan beras atau boks bekas kemasan makanan dapat digunakan sebagai alat penyemaian benih.

Artinya, hanya dibutuhkan sedikit inovasi dan modifikasi untuk menyukseskan kegiatan berkebun di rumah. Apalagi, media siap tanam pengganti tanah, kini, mudah didapat. Banyak penjual yang menawarkan media siap tanam berbahan arang sekam hingga batu kerikil. Materi yang berbahan arang sekam ini cocok untuk kegiatan berkebun organik.

FAM Organic menjual arang sekam Rp 25.000 untuk kemasan 25 kilogram. Menurut Donor, arang sekam ini dapat mengisi sekitar 10 pot ukuran standar yang biasa menghiasi pekarangan. “Media siap tanam ini juga tidak perlu diganti-ganti secara berkala,” imbuhnya.

Kebutuhan lain adalah pupuk. Pupuk organik dijual seharga Rp 9.000 untuk kemasan 3 kilogram. Penggunaan pupuk sebenarnya hanya sebagai nutrisi tambahan bagi tanaman. Sebab, pada media tanam siap pakai biasanya sudah terkandung kompos yang merupakan sumber nutrisi.

Paket sesuai tekniknya

Selain sky farming, Anda dapat mencoba dua teknik berkebun yang tengah naik daun, yakni hidroponik dan akuaponik. Dua teknik ini mencoba mengganti fungsi tanah sebagai media tanam.

Hidroponik dan akuaponik merekayasa fungsi tanah yang mampu menyediakan air, oksigen, serta nutrisi yang sangat diperlukan tanaman. “Makanya tren hidroponik dan akuaponik ini semakin menjamur di perkotaan yang lahannya terbatas,” papar Muhamad Yusuf Randi, pemilik Randi Farm.

Selama dua tahun terakhir ini, Randi Farm mengembangkan model peralatan hidroponik dan akuaponik yang membantu orang menyalurkan hobi bertanam. Tentu, Randi menciptakan peralatan ini dengan mempertimbangkan rendahnya pengetahuan orang tentang bercocok tanam dan keterbatasan luas lahan.

Bentuk peralatannya menyerupai bangunan semipermanen dengan atap plastik bening yang tak menghalangi sinar matahari. Rangkanya dari pipa. Sementara, media tanam yang digunakan adalah styrofoam dengan 70 lubang tanam untuk hidroponik dan 60 lubang tanam untuk akuaponik.

Randi Farm menawarkan paket peralatan hidroponik dan akuaponik mini yang hemat tempat dan ramah lingkungan ini seharga Rp 1,5 juta. Dengan memanfaatkan alat tersebut, Anda tak perlu membangun kolam ikan untuk menjalankan teknik akuaponik.

Yang menarik, jika membeli paket akuaponik mini dari Randi Farm, Anda akan memperoleh pelatihan budidaya ikan lele sekaligus bercocok tanam ala akuaponik. “Kalau beli paket akuaponik ada tambahan tempat penampungan ikan. Kalau tidak dipakai, ya berarti jadi hidroponik,” ujar Randi.

Tempat ini mampu menampung 100 hingga 150 ikan lele. Ikan yang dibiakkan tak sebatas ikan lele. Anda dapat menggunakan ikan air tawar, seperti nila, gurami, hingga mujair.

Aliran air berperan penting dalam teknik hidroponik maupun akuaponik. Karena itu, Randi menyediakan pompa air untuk menjamin sirkulasi air tetap lancar. Alhasil, akar tanaman dapat menyerap nutrisi yang terbawa dalam aliran air.

Uniknya, Randi mencoba berinovasi dengan mengakali talang air dalam rangkaian hidroponik dan akuaponiknya. Talang air ditinggikan sekitar lima milimeter untuk menahan air tak mengalir ke penampungan yang terletak di bawah rangka. “Jadi kalau listrik mati, airnya tetap mengairi akar,” katanya.

Yang cocok ditanam menggunakan alat hidroponik dan akuaponik dari Randi Farm ini adalah tanaman berakar pendek, seperti kangkung dan selada. Kangkung, misalnya, dapat ditempatkan tiga hingga empat benih di dalam satu lubang tanam. Sedangkan satu benih selada hanya dapat ditempatkan di satu lubang tanam.

Jangka waktu tanam hingga panen tidak lama. Kangkung sekitar sebulan sudah bisa dipanen. “Tapi, nanti dipotong pada batang saja. Karena akan tumbuh lagi, bisa sampai empat hingga lima kali potong baru diganti benih baru,” ujar Randi.

Jika ingin serius berkebun, dia menyarankan Anda membeli peralatan TDS meter seharga Rp 100.000 hingga Rp 110.000 per unit. Sejatinya, alat ini untuk mengukur kadar kebersihan air minum dari kandungan partikel padat yang tak kasat mata.

Dalam berkebun, alat ini dapat membantu pekebun mengukur kandungan partikel padat dalam air yang merupakan nutrisi bagi tanaman. Ketika diukur nanti akan keluar angka-angka. “Air yang bagus itu memiliki skor antara 750 hingga 1.250,” tandas Randi. 


http://lifestyle.kontan.co.id/news/mengolah-kebun-di-rumah-dengan-modal-murah/2012/10/22

Indonesia Tempa Sekolah Hadapi Risiko Bencana

Indonesia Tempa Sekolah Hadapi Risiko Bencana


Beberapa dari bencana alam terburuk di dunia pada dekade terakhir terjadi di Asia, seperti gempa bumi di Indonesia dan Tiongkok, serta banjir di Thailand dan Kamboja. Sebuah konferensi regional mengenai pengurangan risiko bencana yang diselenggarakan minggu ini fokus pada sekolah dan bagaimana membuatnya lebih aman dan lebih tangguh.

Murid-murid Sekolah Dasar Negeri Jejeran di Yogyakarta sedang mengadakan simulasi latihan gempa bumi. Mereka berhamburan dari ruang kelas dengan memegang tas di atas kepala mereka. Beberapa murid mengambil tandu dan peralatan pertolongan pertama pada kecelakaan dan menolong teman sekelas yang ‘terluka’. Sesudah semua berkumpul di halaman depan, seorang pemimpin murid membaca laporan bencana: Empat meninggal, lima terluka, dan semua korban sudah dievakuasi.

Margiyanti, guru kelas empat di Jejeran, mengatakan bahwa gempa bumi 2006, yang mengakibatkan 2.900 gedung sekolah termasuk Jejeran rusak berat, mengajarkan masyarakat setempat mengenai pembangunan kembali dan pentingnya usaha pencegahan.

Indonesia sangat rentan bencana alam sehingga anak-anak harus bersiap, ujar Margiyanti. Jika mereka ada di sekolah atau di rumah, mereka harus tahu apa yang mesti dilakukan, ujarnya.

Pada 2010, Jejeran terlibat dalam kampanye global untuk membuat sekolah-sekolah lebih aman dari bencana alam. Dengan uang dari donor asing, program tersebut mencoba memperbaiki teknik konstruksi bangunan sekolah dan menciptakan kurikulum yang menyiapkan murid untuk bencana.

Sementara itu, pemerintah Indonesia juga telah meluncurkan program untuk merehabilitasi ribuan sekolah di seluruh negeri.


​​Musliar Kasim, Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, mengatakan hampir 200.000 sekolah memerlukan renovasi untuk dapat memenuhi standar keamanan global.

“Sekolah-sekolah yang ada sekarang sudah tua. Bangunannya tua karena didirikan lebih dari 30 tahun lalu,” ujar Kasim. “Jadi mereka memerlukan renovasi. Saat merehabilitasi gedung, kita harus menggunakan konsep sekolah aman.”

Para pejabat dan pekerja program bantuan mengatakan pemerintah-pemerintah di seluruh wilayah Asia telah membuat kemajuan dalam mengurangi risiko terkait bencana lingkungan. Kamboja, Laos, Filipina dan Burma telah meluncurkan proyek-proyek pilot yang fokus pada pembangunan sekolah yang lebih aman.

Namun masih banyak yang harus dilakukan.

Pada 2008, lebih dari 7.000 bangunan sekolah yang dibangun secara asal ambruk saat gempa berkekuatan 7,9 skala Richter di Provinsi Sichuan di Tiongkok, menewaskan ribuan murid.

Di Filipina, angin topan Durian menyebabkan kerusakan senilai US$20 juta di sekolah-sekolah di tiga provinsi pada 2006.

Meski konstruksi yang lebih baik adalah jantung dari inisiatif sekolah aman, banyak organisasi yang mendorong pendekatan yang lebih luas yang termasuk latihan dan pengetahuan situasi darurat yang mengintegrasikan pendidikan kebencanaan.

Di negara berkembang dengan populasi anak-anak yang tinggi, murid-murid seringkali terimbas ketika bencana alam menghancurkan sekolah, dan aktivitas belajar mengajar dihentikan selama beberapa bulan atau lebih lama lagi.

Antony Spalton, spesialis pengurangan risiko dari Dana PBB untuk Anak-Anak (UNICEF), mengatakan ada hubungan erat antara bahaya dan pembangunan, apakah itu pembangunan ekonomi atau pembangunan sosial.

“Anak-anak dipaksa keluar sekolah karena banjir dan gempa bumi,” ujarnya.

UNICEF sekarang bekerja sama dengan sejumlah organisasi internasional untuk menciptakan tempat dimana pemerintah bisa mendapatkan bantuan teknis mengenai keamanan sekolah dan berbagi pengetahuan.

Lebih dari selusin murid dari seluruh wilayah Asia menghadiri konferensi minggu ini untuk membagi pengalaman mereka. Di Jepang, sekelompok murid telah membentuk klub yang bertemu seminggu sekali untuk membahas cara-cara meningkatkan kesadaran mengenai bencana alam dan pembangunan kembali.

Di Kamboja, Sopaoeurn yang berusia 17 tahun juga membentuk komite manajemen bencana, memimpin inisiatif penanaman pohon dan mendorong sekolah untuk membuat lantai lebih tinggi untuk mencegah banjir bandang yang sering melanda provinsi tempat tinggalnya.

Bencana tidak hanya berdampak pada satu orang, namun banyak orang di seluruh dunia, ujar remaja putri tersebut. Lebih penting lagi, bencana berdampak pada murid-murid sekolah.

Para guru di SDN Jejeran mengatakan mereka siap jika bencana datang lagi. Sekolah tersebut mengadakan latihan secara rutin setiap beberapa bulan sekali untuk menyegarkan kemampuan siswa. Di ruang kelas sudah terpampang tanda-tanda jalur evakuasi.

Sekolah seperti ini masih jarang di negara berkembang, akibat kurangnya pendanaan dan koordinasi yang membuat replikasi program serupa sulit dilakukan. Namun kelompok donor mengatakan mereka membuat kemajuan dengan menyoroti kisah sukses.

Para pejabat lembaga manajemen bencana nasional Indonesia mengatakan membuat sekolah aman adalah prioritas mereka, karena bangunan yang kukuh dan tangguh sangat penting dalam mengajarkan murid, dan seluruh masyarakat, mengenai bagaimana bersiap dan berurusan dengan bencana di masa depan.


http://www.voaindonesia.com/content/indonesia-tempa-sekolah-hadapi-risiko-bencana/1532904.html

Problematika Konservasi Hutan Lindung di Indonesia

Problematika Konservasi Hutan Lindung di Indonesia


Seperti di banyak negara yang lain, proyek konservasi di Indonesia yang dikelola instansi pemerintah umumnya masih memakai pendekatan “pagar dan denda” (fences and fines). Dalam praksis konservasi ini masih sering didapati pelanggaran batas karena ekspansi pertanian tradisional, usaha perkebunan atau penebangan kayu. Akibatnya, para kepala taman nasional makin merasa tidak sanggup untuk mengelola kawasan lindung hanya dengan pendekatan melarang masyarakat masuk dan memisahkan daerah konservasi dari penduduk yang hidup di sekitarnya. Oleh sebab itu, kini perlu pendekatan khusus dengan skema partisipasi.

Pola partisipasi yang diterapkan dalam proyek konservasi yang dikelola LSM dan organisasi donor internasional tentu berbeda karena kebanyakan berkisar dari partisipasi fungsional sampai partisipasi interaktif. Pada konsep partisipasi fungsional, keputusan-keputasan utama sudah diambil sebelum orang setempat ikut di dalamnya. Peran penduduk lokal terbatas pada pembentukan kelompok yang diharapkan akan memenuhi tujuan-tujuan berhubungan dengan proyek yang sudah ditentukan sebelumnya. Partisipasi seperti itu umumnya tidak cukup. Akibatnya, batas taman nasional tetap dilanggar oleh masyarakat.

Alasan mendasarnya dari kesemuanya ini adalah masih ditemukan sikap dan pandangan negatif penduduk setempat terhadap kawasan lindung dan kapasitas Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam (PHPA). Tidak mengherankan, pendekatan pengelolaan partisipatif justru baru diterapkan setelah suatu kawasan lindung dijadikan taman nasional.

Sayangnya, masyarakat sudah dipengaruhi oleh pendekatan konservasi dari atas (top-down) dan pandangan masyarakat lokal sudah dibangun sedemikian rupa untuk berpandangan secara negatif pada taman nasional. Masyarakat di pinggir hutan merasa sudah dipisahkan dari hutan mereka. Karena itu, proyek konservasi yang memakai pendekatan partisipatif terpaksa harus diperjuangkaan sedemikian rupa untuk meraih kembali kepercayaan masyarakat lokal yang sudah sempat skeptis. Tetapi kalau masyarakat hanya diajak bermusyawarah secara formal tanpa ada kerjasama faktual, tentu tidak akan ada gunanya. Sebaliknya, penduduk desa hanya menjadi kesal. Kalau hubungan antara para petani dan pengelola proyek sudah retak, bisa jadi tujuan proyek dipertanyakan dan pengelola akan dicurigai memiliki kepentingan terselubung.

Semakin kurang partisipatif pendekatan konservasi, semakin tinggi kebutuhan untuk pelindungan batas oleh PHPA. Seandainya fisiografi taman nasional dan kapasitas institusional dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) tidak memungkinkan perbatasan dilindungi secara efektif, solusi yang praktis adalah untuk memberi lebih banyak tanggungjawab kepada masyarakat yang hidup di pinggir kawasan lindung.

Kalau warga setempat ikut menganalisa secara bersama dan setelahnya dihasilkan sebuah rencana aksi serta pembentukan kelompok baru ataupun penguatan kelompok yang sudah ada, prosesnya disebutkan partisipasi interaktif. Karena kelompok tersebut mengambil kontrol pada keputusan lokal, para peserta kelompok itu berkeinginan untuk mempertahankan strukturnya atau pola aksi kelompok itu. Hal ini terbukti di Taman Nasional Kayan Mentarang, Lore Lindu dan Arfak. Partisipasi interaktif di sana cukup baik. Akan tetapi, penting juga diperhatikan faktor-faktor sosial-budaya (pendatang vs penduduk asli), prasarana, struktur dan kepadatan permukiman di desa, serta faktor-faktor ekonomis seperti penggunaan lahan dan pasar yang ada di sekitarnya. Taman nasional di atas kebanyakan dihuni oleh penduduk asli dengan kepadatan penghunian yang rendah, letak jauh dari pasar-pasar dan tidak menjadi pusat kultivasi tanaman berharga tinggi.

Suatu komponen dari partisipasi interaktif penduduk desa di perbatasan taman nasional adalah diikutsertakannya pengetahuan tradisional tentang lingkungan dan konsep pentani tentang pengelolaan lahan (Traditional Ecological Knowledge and Management Systems, TEKMS). Sebaiknya, pihak manajemen proyek memahami dulu sistem pengetahuan tersebut dan memakai istilah-istilah terkait dalam komunikasi dengan penduduk desa. Kalau demikian, sudah menjadi lebih gampang untuk saling mengerti pandangan masing-masing tentang berbagai aspek lingkungan, misalkan tentang klasifikasi tanah tradisional.

Terkait klasifikasi tanah tradisional, biasanya ada tipe-tipe yang berbeda, seperti tanah hitam, tanah merah, tanah kuning atau tanah liat. Masing-masing tipe tanah dianggap cocok untuk tanaman berbeda. Penting juga untuk keputusan pemilihan lahan adalah posisi lereng. Aspek lain adalah tanaman indikator yang mencerminkan kesuburan lahan. Tidak mungkin lulusan universitas yang menjadi staf pemerintah mengharapkan agar konsep ilmiah tentang faktor-faktor lingkungan ingin dipahami oleh penduduk desa. Sebaiknya, si doktorandus atau para akademisi ini harus menerjemahkan istiah-istilah lokal dalam bahasa ilmiahnya, misalnya lewat analisa tanah dan inventaris botanis. Dengan cara demikian, partisipasi penduduk daerah perbatasan dalam konservasi dipermudah. Lebih dari itu, kekahawatiran yang mereka utarakan akan bisa dipahami dengan mudah karena sudah sempat mengkontribusikan pengetahuannya.

Pada intinya, pola partisipasi tidak dapat memecahkan masalah yang diciptakan lewat pembentukan kawasan konservasi per se, yaitu keputusan yang diambil oleh orang luar untuk melarang penggunaan daerah tertentu yang masih ditumbuhi dengan hutan primer, atau paling minimal dibatasi penggunaannya secara drastis.

Contoh bagus untuk semuanya ini adalah Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), dimana dilaksanakan Integrated Conservation and Development Project (ICDP) dari tahun 1997 sampai tahun 2001. Proyek tersebut memiliki periode persiapan selama tiga tahun. Di perbatasan TNKS itu, penduduk desa menanggap pembentukan taman nasional sebagai sesuatu yang berguna, seandainya tujuan kawasan konservasi untuk melindungi hutan sebagai lahan cadangan untuk masa depan.

Karena hutan berfungsi sebagai sumber untuk kayu dan produk-produk non-kayu (fungsi hutan yang terpenting untuk masyarakat lokal), tentu saja kepentingan penduduk dan kepentingan para pelestari alam harus bentrok dalam topik tersebut. Solusi yang perlu dikedepankan adalah kompromi, dimana masyarakat lokal setuju untuk membatasi penggunaan kawasan konservasi sebagai imbalan atas hak guna legal tertentu, misalnya pengambilan produk non kayu dan/atau hak kepemilikan lahan diluar kawasan konservasi. Pada praksisnya, hal seperti itu disepakati antara masyarakat lokal dan pengelola taman nasional. Meski sudah ada banyak kasus dimana terdapat kompromi lewat partisipasi interaktif, lebih sering justru ditemukan bahwa pihak taman nasional melakukan pendekatan otoriter sehingga yang terjadi adalah konflik. Akibatnya, ketegangan antara pengelola taman nasional dan masyarakat lokal semakin meninggi.

Satu hal yang perlu diutamakan dalam konsep konservasi adalah pandangan bahwa penduduk lokal bukan faktor pengganggu satu-satunya di daerah perbatasan kawasan konservasi. Di TNKS, misalnya, pelanggaran batas justu dilakukan PT Perkebunan dan Pertambangan. Pembangunan jalan dan penebangan liar justru didalangi oleh oknum TNI atau birokrasi. Aksi mereka mengakibatkan kerusakan yang lebih berat pada kawasan lindung itu. Maka, adalah penting untuk diikutsertakan semua pemangku kepentingan pada perencanaan dan pengeloalan taman nasional. Tugas ini adalah tugas yang paling sulit dalam usaha konservasi.

Ketika masyarakat lokal melihat pelanggar batas yang bertindak dalam skala besar, dapat dimaklumi bahwa mereka lantas menjadi merasa bingung. Mereka protes kenapa mereka sebagai penduduk asli tidak juga diperbolehkan untuk membuka lahan pertanian baru atau mengambil beberapa gelondong kayu saja. Penyelesaian masalah-masalah mendasar ini menjadi syarat muntlak untuk tiap usaha konservasi yang sukses.

Pentingnya faktor-faktor konservasi ini ada dalam disertasi penulis. Semula, penelitian seharusnya difokuskan hanya pada sistem perladangan lokal dan pengetahuan tradisionalnya tentang lingkungan dan konsepnya petani tentang pengelolaan lahan (TEKMS) serta pengaruh penggunaan lahan itu pada taman nasional.

Pengalaman di desa-desa perbatasan TNKS menunjukkan dengan jelas bahwa masyarakat lokal bukan penghambat konservasi yang utama. Sebaliknya, mereka sering dikambinghitamkan oleh pemerintah karena mereka menjadi sasaran yang gampang dan tidak akan mampu melakukan perlawanan yang berarti. Pemangku kepentingan lain yang melanggar perbatasan TNKS jauh lebih berkuasa. Kalau perbuatan dikritik di tempat umum bisa membawa akibat yang tidak enak dan berangkali juga memiliki impikasi politis atau ekonomis pada kantor yang mengutamakan fakta-fakta tersebut.

Pendekatan untuk mengikutsertakan masyarakat lokal yanga hanya sebatas "sambilan dan setelah pembentukan TNKS" jelas tidak akan memperkuat keinginan mereka untuk ikut dalam konservasi. Oleh sebab itu, siapapun hingga di tingkat lapangan seperti para penjaga hutan atau staf BKSDA harus mengedepankan partisipasi masyarakat lokal. Masyarakat lokal harus sampai pada tingkat dimana mereka merasa bahwa TNKS itu sebagai miliknya (sense of ownership). Juga, di desa-desa yang mengembangkan sistem ladang berpindah-pindah, dimana sistem itu dilarang oleh instansi pemerintah tanpa diberi alternatif lain untuk mencari nafkah harus diselesaikan dengan bijaksana. Jika demikian, pertemuan dengan pejabat pemerintah tidak akan dihindari oleh masyarakat lokal yang mengunjungi desanya.

Karena pengalaman di atas itu, penelitian penulis diperluas mencakup analisis pemangku kepentingan (stakeholder analysis), agar peran masyarakat lokal dapat dilihat dalam ukuran yang sebenarnya. Hasil studi tersebut adalah bahwa sampai saat itu belum ada wahana atau cara agar pengetahuan tradisional tentang lingkungan dan konsep petani tentang pengelolaan lahan (TEKMS) dapat diperhatikan oleh manajer taman nasional dan pegawai negri. Dalam studi oleh Bank Dunia mengenai kelompok-kelompok pedesaan (local level institutions) di Indonesia yang diikuti oleh penulis, menjadi jelas bahwa banyak pegawai negeri di daerah tidak mengetahui organisasi-organisasi di tingkat pedesaan. Karena itu, kapasitas dan peran mereka dalam pembangunan juga tidak diperhatikan.

Kesimpulannya adalah bahwa integrasi masyarakat lokal dalam proyek pengelolaan kawasan lindung membutuhkan instrumen untuk memfasilitasikan komunikasi masalah lingkungan antara penduduk desa dan tenaga ahli dari luar yang masuk ke desa. Konsep pemakaian pengetahuan tradisional tentang lingkungan dan konsep petani tentang pengelolaan lahan (TEKMS) sebagai wahana tersebut diperkenalkan dalam tulisan ini. Masalah-masalah yang harus diselesaikan sebelum konsep tersebut dapat berfungsi adalah pemberdayaan kantor PHPA serta adanya kemauan untuk konservasi alam.

Dr. Silvia Werner, Alumni Free University of Berlin dan kini menetap di Hanover, Jerman.


http://jaringnews.com/politik-peristiwa/opini/23716/silvia-werner-problematika-konservasi-hutan-lindung-di-indonesia

10 Desa Deklarasikan Stop Buang Air Besar Sembarangan

10 Desa Deklarasikan ‘Stop Buang Air Besar Sembarangan’


Kesehatan merupakan aspek amat penting. Walau kesehatan bukan segala-galanya, tanpa kesehatan segala-galanya menjadi tidak berarti.

“Untuk kesehatan, aspek pencegahan merupakan hal yang amat penting. Sanitasi merupakan salah satu bentuk pencegahan masalah kesehatan, antara lain dalam bentuk Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM),” ujar Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan RI Prof dr Tjandra Yoga Aditama SpP(K), MARS, DTM&H, DTCE saat menghadiri acara Deklarasi Stop Buang Air Besar Sembarangan (Stop BABS) di Desa Bumi Rahayu, Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan Kalimantan Timur, RAbu (17/10).

Prof. Tjandra yang didampingi Bupati Bulungan menyebutkan, Stop BABS merupakan salah satu pilar penting STBM.

“Saya sampaikan penghargaan karena Kab Bulungan merupakan kabupaten pertama yang mendeklarasikan Stop BABS di Provinsi Kalimantan Timur yang di deklarasikan di 10 desa,” ujar Tjandra.

Tjandra mengharapkan agar di tahun 2014 atau 2015 seluruh 81 desa di Kab Bulungan sudah bisa mendeklarasikan Stop BABS.

Tjandra juga mengajak masyarakat Kab Bulungan untuk membiasakan Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) pada berbagai saat-saat kritis seperti sebelum makan, sesudah BAB, sebelum memasak dan menyiapkan makanan, dan kesempatan lain.

Usai acara deklarasi, Prof. Tjandra dan Bupati Bulungan mengunjungi pameran sanitasi yang antara lain menampilkan – prestasi penghargaan sanitasi setempat, hasil pengolahan sampah menjadi barang kerajinan seperti tas, pembuatan air minum kemasan melalui koperasi syariah setempat, pembuatan toilet oleh warga, dan pembuatan kompos / pupuk oleh murid SMP


http://www.sehatnews.com/2012/10/19/10-desa-deklarasikan-stop-buang-air-besar-sembarangan/

Topan Terdahsyat di Bumi

Topan Terdahsyat di Bumi


Bumi pernah diguncang topan dahsyat pada 12 Oktober 1979. Kala itu, menurut catatan National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), sebuah topan yang berembus dengan kecepatan 306 kilometer per jam muncul saat cuaca ektrem bergejolak di atas Pasifik barat.

Topan yang dijuluki Super Tip tersebut berkekuatan sangat besar ketimbang topan-topan lainnya yang pernah didokumentasikan NOAA. Tekanan pusat topan super itu sebesar 25,69 inci Hg, setara tekanan permukaan laut terendah yang pernah diamati di Bumi. Semakin rendah tekanan udaranya, semakin dashyat kekuatan topan.

"Selain memiliki intensitas tak tertandingi, topan Super Tip juga diingat karena ukurannya yang sangat besar," lansir NOAA, Senin 15 Oktober 2012, seperti dikutip Livescience.

Diameter topan Super Tip membentang sekitar 2.220 kilometer. Angka ini, persis sama dengan jarak dari Kota New York ke Dallas, menetapkan Super Tip sebagai topan terbesar dan terdahsyat di Bumi.

Kekuatan topan Super Tip di Pasifik nyaris disaingi sejumlah "rivalnya" yang pernah mampir di Atlantik. Topan Wilma yang terjadi 2005, misalnya, tercatat memiliki tekanan 26,04 inci Hg; topan Gilbert (1988) dengan tekanan 26,22 inci Hg; dan topan terdahsyat Katrina (2005) dengan tekanan 26,64 inci Hg.

Menurut George Dunnavan dan Dierks John, dua analis topan Amerika, sebanyak 40 pesawat Angkatan Udara Amerika Serikat kala itu bergegas terbang mendekati topan Super Tip untuk melakukan misi pengamatan. "Jarak terdekat pemantauan siklon tropis yang pernah dicatat," ujar mereka.

Jepang adalah negara yang paling hancur akibat serangan Super Tip. Topan memang perlahan melemah sebelum akhirnya lenyap di laut selatan Jepang pada hari itu juga. Namun, Super Tip telah memporakporandakan pulau utama di Jepang, Honshu, hingga membekas satu dekade sesudahnya. "Tip menewaskan 86 orang dan melukai ratusan lainnya," NOAA menyatakan.

Angin super kencang yang dipancarkan Super Tip merubuhkan tangki penyimpanan bensin, menyebabkan ledakan dan kebakaran yang menyebar dengan cepat di markas Korps Marinir Amerika di Gunung Fuji. Peristiwa itu mengakibatkan satu orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka.

Topan juga memicu banjir besar yang menghancurkan lebih dari 20 ribu rumah di Jepang. Ratusan tanah longsor menyertai banjir tersebut. "Bangunan bertingkat tinggi di Tokyo tampak berayun saat terkena hembusan topan," ujar NOAA.


http://www.tempo.co/read/news/2012/10/16/095435895/Ini-Topan-Terdahsyat-di-Bumi

Pemanasan Global Memperkecil Ukuran Ikan

Pemanasan Global Memperkecil Ukuran Ikan


Kegagalan untuk mengontrol emisi gas rumah kaca berpotensi menimbulkan dampak pada ekosistem laut yang lebih buruk dari perkiraan. Para peneliti menyatakan, pemanasan global akibat emisi gas rumah kaca berpeluang memperkecil ukuran ikan.

Pernyataan tersebut didasarkan pada hasil penelitian yang dilakukan dengan melakukan pemodelan reaksi ikan terhadap rendahnya level oksigen di laut. Meningkatnya suhu air laut menyebabkan oksigen terlarut menurun. Para peneliti menggunakan data Panel Ahli Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) untuk pemodelan.

Berdasarkan pemodelan dampak meningkatnya temperatur air laut pada 600 spesies ikan antara tahun 2001 hingga 2050, diketahui bahwa dengan peningkatan suhu, ukuran ikan laut bisa berkurang antara 14 - 24 persen dari ukuran semula.

Dr William Cheung dari University of British Columbia yang melakukan penelitian mengatakan, "Kenaikan temperatur akan meningkatkan kecepatan metabolisme ikan. Ini memicu peningkatan permintaan oksigen untuk aktivitas normal. Dengan demikian, ikan akan kehilangan oksigen untuk tumbuh saat ukuran kecil."

Penelitian juga menyimpulkan pergerakan ikan akibat pemanasan global. Menurut hasil riset itu, ikan akan bergerak menuju ke kutub dengan kecepatan 36 kilometer per dekade sebagai dampak dari meningkatnya suhu air laut.

Dr Alan Baudron dari University of Aberdeen di inggris yang tak terlibat penelitian mengatakan bahwa pengecilan ukuran ikan bisa berdampak negatif di dunia perikanan maupun kelangsungan hidup masing-masing spesies ikan itu sendiri.

"Individu yang lebih kecil memproduksi telur yang lebih sedikit dan lebih kecil. Ini akan berdampak pada potensi reproduksi ikan dan dapat mengurangi ketahanannya pada faktor lain seperti tekanan perikanan dan polusi," kata Baudron seperti dikutip BBC, Minggu (30/9/2012).

Ke depan, perlu diselidiki respon biologis tubuh terhadap peningkatan suhu. hasil penelitian ini dipublikasikan di jurnal Nature Climate Change. 



http://sains.kompas.com/read/2012/10/01/18415673/Pemanasan.Global.Memperkecil.Ukuran.Ikan

Mayoritas Perkebunan Langgar Aturan Lingkungan Hidup

Mayoritas Perkebunan Langgar Aturan Lingkungan Hidup


Pejabat Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu, menyebutkan mayoritas perusahaan perkebunan termasuk usaha pertambangan batu dan pasir di daerah itu melanggar aturan lingkungan hidup.

"Hampir mayoritas perusahaan perkebunan dan galian C 'nakal'. Mereka tidak mau mentaati aturan lingkungan hidup," kata Kepala Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Mukomuko, Risber A Razak, di Mukomuko, Jumat.

Aturan lingkungan hidup yang dilanggar oleh perusahaan perkebunan dan galian C itu, sebutnya, seperti aktivitas penanaman sawit di sempadan sungai besar, sungai kecil, termasuk daerah aliran sungai (DAS).

Sehingga aktivitas perusahaan perkebunan di sempan sungai tersebut, lanjutnya, justru telah membawa dampak buruk seperti longsor serta rusak dan berkurangnya air sungai di daerah itu.

"Sudah banyak terjadi kasus longsor di sempadan sungai, belum lagi kondisi abrasi yang terus menerus mengikis bibir sungai akibat tidak ada lagi kayu atau hutan sebagai penyangga," ujarnya.

Padahal dalam izin upaya pengelolaan lingkungan dan upaya pemantauan lingkungan (UKL dan UPL), termasuk analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal) perusahaan, kata dia, telah diatur aturan main perusahaan tidak boleh melanggar aturan lingkungan hidup.

"Ada wilayah-wilayah seperti DAS dan sempadan sungai yang seharusnya tidak diganggu sesuai izin UKL dan UPL termasuk Amdal, tetapi kenyataanya tetap saja dirusak oleh perusahaan perkebunan," ujarnya lagi.

Ia menilai, perusahaan tidak mau taat terhadap aturan lingkungan hidup, karena secara bisnis tidak menguntungkan mereka, tidak ada pemasukan dari sana, justru sebaliknya mereka harus mengeluarkan uang untuk melakukan penghijauan.

"Kemungkinan dengan alasan tidak menguntungkan tersebut sehingga perusahaan tidak begitu taat terhadap aturan lingkungan hidup," ujarnya lagi.

Meskipun begitu, kata dia, pihaknya akan terus melakukan pemantauan terhadap kondisi terkini DAS termasuk sempadan sungai yang masuk lokasi atau lahan perizinan perusahaan perkebunan.

"Dari hasil pemantauan dan kondisi DAS dan sempadan sungai nantinya akan menjadi laporan kami kepada bupati setempat," ujarnya lagi.

Lebih lanjut, terangnya, dari sekian banyak perusahaan ada itikad baik PT Agro Muko untuk merelokasi kembali DAS dan sempadan sungai yang masuk dalam hak guna usaha mereka yang telah rusak.

"Itu baru rencana, sedangkan realisasinya hingga kini kami belum tahu, sehingga perlu dicek kembali," ujarnya menjelaskan.



http://www.antaranews.com/berita/335760/mayoritas-perusahaan-perkebunan-langgar-aturan-lingkungan-hidup

Cara Banyuwangi Rebut Turis yang Datang ke Bali

Cara Banyuwangi Rebut Turis yang Datang ke Bali


Setelah menyabet penghargaan Travel Club Tourism Award (TCTA) 2012, iklim pariwisata Kabupaten Banyuwangi terus menggeliat. Setidaknya, ada tiga strategi yang dilakukan oleh kabupaten berjuluk "Sun Rise of Java" ini.

Bupati Bayuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, saat ini Kabupaten banyuwangi sedang melakukan tiga konsolidasi untuk memperkuat pembangunan kepariwisataan. Pertama, pembangunan infrastruktur untuk akses menuju destinasi wisata unggulan, seperti akses ke Kawah Ijen dan Pantai Plengkung. Khusus untuk Pantai Plengkung, ada perbaikan infrastruktur sehingga wisatawan yang datang ke tempat ini tidak lagi dari Bali.

"Tahun ini, untuk perbaikan infrastruktur ke Pantai Plengkung ditargetkan tuntas. Mereka (wisatawan-red) tidak harus melalui Bali, melainkan bisa melalui Surabaya," kata Anas di Surabaya, Rabu (26/9/2012).

Yang kedua, lanjut Anas, adalah konsolidasi kekayaan budaya lokal mengingat khasanah kebudayaan Banyuwangi sangat beragam. Jika dikemas semenarik mungkin, diharapkan mampu memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan.

"Perpaduan modernitas dan lokalitas akan menjadi kekayaan budaya yang diminati wisatawan," tandasnya.

Terakhir adalah melakukan konsolidasi dengan masyarakat pariwisata agar masyarakat ramah kepada wisatawan. Semua lini di Banyuwangi harus kompak agar sektor ini terus tumbuh.

"Dengan begitu, mampu memberikan multiplier effect yang luas bagi kesejahteraan masyarakat," kata Anas.

Dia menambahkan, pihaknya juga mengincar wisatawan yang selama ini hanya berkunjung ke Bali. Hingga semester pertama tahun ini, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali mencapai sekira 1,4 juta, naik 7,73 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

"Jika kita bisa gaet 20 persen saja untuk membawa mereka ke Banyuwangi, tentu dampaknya cukup signifikan. Belum lagi wisatawan mancanegara lainnya dan wisatawan domestik yang tak kalah potensinya," tukasnya.


http://travel.okezone.com/read/2012/09/26/407/695334/3-cara-banyuwangi-rebut-turis-yang-datang-ke-bali

Cek Batas Hutan Indonesia Lewat Android

Cek Batas Hutan Indonesia Lewat Android


Langkah maju dalam sistem pengelolaan dan pengawasan hutan di Indonesia. Batas kawasan hutan kini bisa diakses melalui ponsel android. Direktorat Jendral Planologi Kehutanan mengembangkan global positioning system (GPS) untuk mengidentifikasi batas kawasan hutan dengan memanfaatkan citra satelit, sistem informasi geografis (SIG).

Masyarakat cukup melihat titik pada peta yang tergambar pada layar GPS. Saat menggoyang GPS, ponsel otomatis akan bersuara 'anda berada di dalam kawasan' atau 'anda berada di luar kawasan'.

GPS kawasan hutan diserahkan oleh Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan kepada tiga camat Pacet, Cipanas, Cugenang yang berbatasan dengan kawasan taman Nasional Gunung Pangrango, Selasa (25/9). Zulkifli berharap semakin banyak camat yang bisa mengakses fasilitas ini untuk mengetahui batas hutan.

Menurut dia, fasilitas ini semakin mempermudah karena batas hutan tak lagi hanya bisa ditentukan melalui pal batas aatau tugu. "Fasilitas ini penting karena camat merupakan sumber informasi bagi masyarakat yang menanyakan informasi batasa kawasan hutan di lapangan," ujar Zulkifli.

Pada 2011, telah dilakukan uji coba 62 unit GPS pada batas beberapa kawasan taman nasional di Pulau Jawa. Pengadaan GPS dilanjutkan pada 2012 sebanyak 430 unit yang akan dibagikan pada camat di luar pulau Jawa. Pengadaan GPS ni dilakukan bertahap sejalan dnegan ketersediaan peta citra satelit resolusi tinggi.


http://www.republika.co.id/berita/trendtek/internet/12/09/25/maw39j-keren-batas-hutan-indonesia-kini-bisa-dicek-lewat-android

Penyebab Penuaan Dini dari Lingkungan

Penyebab Penuaan Dini dari Lingkungan


Menjadi tua adalah hal alami dan semua orang pasti akan melewatinya. Namun jika penuaan itu datang terlalu dini, alias sebelum waktunya, maka pasti akan menjadi masalah. Tidak lucu kan jika usia Anda 30 tahun namun penampilan seperti 40 tahun?

Berikut ini adalah beberapa penyebab penuaan dini di sekitar lingkungan Anda, yang dapat Anda hindari;

1. Televisi. Sinar yang keluar dari televisi dapat membuat kulit mengalami penuaan dini. Pencegahannya, jangan tonton televisi dengan jarak dekat serta kurangi waktu menonton Anda.

2. Polusi. Polusi dari kendaraan bermotor dan pabrik biasanya mengandung bahan kimia yang merusak elastisitas kulit. Ini lama kelamaan dapat menyebabkan penuaan dini.
 
3. Bersihkan wajah dengan sabun. Sabun yang digunakan untuk membersihkan wajah terlalu sering bisa membuat kulit wajah kehilangan kelembaban alaminya. Dan penuaan dini sering sekali terjadi karena kelembaban alami kulit hilang. Cukup 1-2 kali sehari saja Anda bersihkan wajah Anda.

4. Minum dengan sedotan. Minum dengan sedotan dapat membuat sudut bibir mengerut. Jika dilakukan terlalu sering, maka kerut-kerut halus akan mucul di daerah sekitar bibir, dan menjadi penyebab penuaan dini.

5. Makanan manis. Gula yang dikandung makanan, jika berlebihan dapat merusak jaringan kolagen pada kulit. Dan ini menyebabkan kulit jadi kendur serta mudah berkerut.

6. AC. Pendingin ruangan seperti AC dapat menyebabkan kulit kehilangan cairan dan menjadi kering. Akibatnya terjadi penuaan dini dan kulit rawan keriput. Efek yang sama juga dapat terjadi jika Anda mengalami stress.


http://sidomi.com/129517/penyebab-penuaan-dini-yang-berasal-dari-lingkungan/

Program Lingkungan PBB Imbau Pengelolaan Bahan Kimia Lebih Baik

Program Lingkungan PBB Imbau Pengelolaan Bahan Kimia Lebih Baik 


Program Lingkungan PBB mengimbau segera diambilnya tindakan untuk mengurangi risiko akibat bahan-bahan kimia. Badan itu menyebutkan dalam laporan baru, pengelolaan yang lebih baik bahan-bahan kimia bisa menyelamatkan jutaan nyawa dan menghemat miliaran dolar.

Laporan Global Chemicals Outlook itu akan dibahas dibahas minggu ini di Nairobi dalam Konferensi Internasional mengenai Pengelolaan Bahan-bahan Kimia. Diperkirakan terdapat 143.000 bahan kimia yang diproduksi saat ini. Namun, laporan itu menyebutkan hanya sejumlah kecil bahan kimia yang diteliti pengaruhnya terhadap kesehatan manusia dan lingkungan. Laporan itu juga menyebutkan tingkat kematian dan cacat yang tinggi akibat penggunaan yang tidak aman produk-produk kimia.

Sylvie Lemmet, Direktur Divisi Teknologi, Industri, dan Ekonomi pada badan itu, mengatakan, pengelolaan bahan-bahan kimia yang buruk  mengakibatkan kerugian ekonomi. Contohnya, katanya, kerugiannya lebih tinggi daripada jumlah bantuan pembangunan luar negeri atau ODA, untuk layanan kesehatan di sub-Sahara Afrika.

“Jika kita mengkaji perkiraan kerugian keracunan akibat pestisida di sub-Sahara Afika, kerugian dari orang yang terluka dan hilangnya jam kerja saja diperkirakan berjumlah 6,3 miliar dolar tahun 2009. Jumlah ini lebih tinggi daripada keseluruhan ODA yang diperuntukkan bagi sektor kesehatan dalam bidang yang sama,” paparnya.

Program Lingkungan PBB memperkirakan penjualan bahan-bahan kimia di seluruh dunia akan meningkat sekitar tiga persen setahun sampai tahun 2050. Produksi bahan-bahan kimia cepat berpindah dari negara maju ke negara berkembang. Menjelang tahun 2020, produksi bahan kimia diperkirakan naik 40 persen di Afrika dan Timur Tengah, dan 33 persen di Amerika Latin.

Badan itu menyebutkan salah satu kekhawatiran terbesar adalah polusi sungai dan danau oleh pestisida dan pupuk kimia. Kekhawatiran besar lainnya adalah polusi logam berat dari produksi semen dan tekstil, serta polusi dioksin dari pertambangan.

Laporan badan PBB itu mendesak industri bahan kimia dan pemerintah bekerja sama untuk mengembangkan kebijakan keamanan. Laporan itu menyebutkan, mencegah bahaya lebih baik daripada mengatasinya. 


http://www.voaindonesia.com/content/program-lingkungan-pbb-imbau-pengelolaan-bahan-kimia-yang-lebih-baik/1512917.html

Menyulap Kota Sungai Jadi Metropolis

Menyulap Kota Sungai Jadi Metropolis


"Sangat elok" demikian kata Abdul Malik seorang pelancong asal Bagan Serai Malaysia setelah mengamati banyak sungai yang banyak membelah-belah wilayah Kota Banjarmasin, ibukota Provinsi Kalimantan Selatan.

"Kota ini akan menjadi sangat indah dan menarik jika pemerintah setempat mampu mengubah keberadaan sungai menjadi lebih baik, lebih hidup, dan berfungsi sebagaimana mestinya," kata Abdul Malik yang datang ke "Tanah Banjar," yang menurut pengakuannya merupakan tanah leluluhurnya tersebut.

Menurut Abdul Malik banyak kota-kota di dunia menjadi terkenal setelah mengeksploitasi sungai menjadi sebuah kawasan menarik bagi kepariwisataan dan keindahan kota.

Ia mencontohkan Singapura, Bangkok, Venesia, Nederland, Sindey, dan banyak lagi kota metropolis lainnya.

Seharusnya Banjarmasin tak susah menuju sebuah kota metropilis serupa jika piawai memberdayakan sungai sungai ini.

Senada dengan Abdul Malik, Direktur Pengembangan Air Minum, Ditjen Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum, Danni Sutjiono saat datang ke Banjarmasin awal Juli 2012 lalu menilai Banjarmasin sebuah kota unik yang tak dimiliki daerah lain.

"Kota ini seharusnya bersyukur banyaknya sungai yang melingkari berbagai wilayah dan kalau itu dimanfaatkan akan memberikan kontribusi besar terhadap kemajuan kota ini,"kata Danni Sutjiono.

Sutjiono berada di Banjarmasin dalam kaitan pertemuan dengan direksi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Bandarmasih, Kota Banjarmasin.

Menurutnya, sungai di Banjarmasin dipelihara agar bisa menjadi sumber air baku PDAM sehingga ketersediaan air bersih mencukupi untuk kebutuhan masyarakat.

Bila sebuah kota dengan ketersediaan air bersih mencukupi dipastikan kota tersebut akan menjadi hunian dan perkembangan perkotaan yang nyaman,lantaran air bersih sarana vital kehidupan termasuk menarik investasi.

"Lihat Kota Singapura yang tidak memiliki sumberdaya alam tetapi mampu menyediakan air bersih dengan cukup dan fasilitas lainnya akhirnya kota tersebut menjadi kota metropolis," katanya.

Lihat juga kota Bangkok, dimana sungai ditata sedemikian rupa hingga menjadi sebuah objek wisata yang menarik telah berhasil menciptakan kota tersebut sebagai kota tujuan wisata dunia.

Melihat kenyataan tersebut sebenarnya Kota Banjarmasin bisa mengejar kemajuan kedua kota ternama di dunia tersebut, tentu dengan memanfaatkan sungai dengan sebaik-baiknya.

Apalagi Banjarmasin memiliki jumlah sungai yang melebihi dari kota-kota yang disebut di atas, sebenarnya memiliki kelebihan tersendiri, tinggal bagaimana pemerintah kota ini menciptakannya lebih menarik lagi. "Kelebihan kota ini adalah keberadaan pasar terapung yang alami yang tidak ditemui daerah lain," katanya.

Selain Pasar Terapung, Banjarmasin juga memiliki kampung terapung, industri berbasis sungai, pemukiman di bantaran sungai, dan aneka budaya berkaitan dengan sungai yang semuanya menjadi daya pikat bagi semua orang.

"Sementara Kota Bangkok memang terdapat pasar terapung tetapi hasil ciptaan untuk wisataan bukan tumbuh dan berkembang alamiah seperti di Banjarmasin," tuturnya.

Berdasarkan catatan, Banjarmasin memiliki sedikitnya 104 sungai besar dan kecil dan 74 sungai diantaranya masih berfungsi sebagaimana mestinya, sementara sisanya sudah mati lantaran mendangkal,menyempit, dan akibat limbah rumah tangga dan industri disamping diserang gulma.

Ketua Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Banjarmasin,  Ir Fajar Desira ketika diminta komentarnya tentang pemanfaatkan sungai tersebut mengakui arah pembangunan kota ini adalah memanfaatkan sungai untuk meningkatkan ekonominya.

Wilayah Banjarmasin seluas 72 kilometer persegi minim sumber daya alam karena hampir tidak ditemukan potensi tambang maupun hutan dan hanya sedikit lahan pertanian.

Sementara wilayahnya hampir semua dialiri sungai besar dan kecil, Sungai Besar tercatat seperti Sungai Barito dan Sungai Martapura.

Kalau membangun kota mengandalkan potensi lain yang minim jelas tidak mungkin,  karena itu potensi yang ada saja digunakan untuk meraih kemajuan tersebut.

"Tak ada pilihan lain bagaimana sungai-sungai tersebut menjadi daya tarik bagi kepariwisataan ke depan," katanya.

Senada dengan itu, Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Drainase Muryanta menyebutkan jauh-jauh hari Banjarmasin sudah memikirkan bagaimana kota ini menjadi metropolis dengan mengandalkan sungai tersebut.

Karena itu bertahap membenahi sungai,mulai dengan pembebasan beberapa lokasi bantaran sungai yang kumuh menjadi sebuah kawasan pertamanan yang indah.

"Lihat saja tepian Sungai Martapura, baik yang di Jalan Sudirman, Jalan Pire Tendean, setelah dibebaskan dari pemukiman kumuh, sekarang sudah menjadi kawasan wisata  yang menarik dan menjadi ikon kota,"tuturnya.

Kemudian Pemkot Banjarmasin juga bertahap pembebasan tepian  Sungai Kerokan, Sungai Teluk Dalam, Sungai Kuripan, Sungai Jalan Veteran dan beberapa lokasi lain yang sudah menghabiskan dana tak sedikit.

Belum lagi pembangunan fasilitas berkaitan dengan kepariwisataan sungai tersebut, seperti penataan bantaran sungai dalam upaya menciptakan keindahan itu.

Pembenahan sungai tersebut karena arah pembangunan berkelanjutan kota ini yang dicanagkan sejak tahun 2009 lalu adalah berbasis sungai.

Menurut Muryanta karena arah pembangunan berkelanjutan berbasis sungai maka tak ada pilihan bagaimana agar sungai-sungai yang banyak membelah kota ini bisa menjadi daya tarik ekonomi untuk kesejahteraan masyarakat ke depannya.

Untuk penataan bantaran sungai tahun anggaran 2011 lalu telah menghabiskan sedikitnya Rp17 miliar, seperti pekerjaan seperti penguatan tebing sungai di Ujung Murung, Jalan Sudirman dekat Pasar Lama.

Pekerjaan penataran bantaran sungai ini terus dilanjutkan tahun 2012 bahkan pada tahun-tahun kedepannya, agar kota ini benar-benar indah lantaran sungai.

Kemudian Pemkot juga membangun sejumlah dermaga pada titik strategis menghidupkan kepariwisataan sungai tersebut.Dermaga dimaksud juga mengembalikan kejayaan angkutan sungai,  seperti lokasi siring sungai Jalan Tendean dan Ujung Murung.

"Kalau di Banjarmasin ini terdapat 15 jembatan berarti yang kita bangun dermaga nantinya sebanyak 15 buah," tutur Muryanta.

Maksudnya dengan adanya dermaga dekat jembatan itu maka akan memudahkan masyarakat bepergian kemana-mana, baik melalui angkutan sungai maupun angkutan darat.

Mereka yang melalui angkutan sungai bisa singgah di dermaga dekat jembatan kemudian bepergian lagi lewat angkutan darat kemana mereka mau, dengan demikian maka menghidupkan angkutan sungai maupun angkutan darat, tambahnya.

Keberadaan dermaga itu akan memperkuat keberadaan pariwisata air sebab orang akan mudah bepergian kemana-mana melalui air, harapannya Banjarmasin bisa menjadi kota mertropolis menarik seperti layaknya Bangkok di Thailand, Hongkong, atau Vinesia Italia, demikian Muryanta.


http://oase.kompas.com/read/2012/07/12/2100482/Menyulap.Kota.Sungai.Jadi.Metropolis

Jateng Park Akan Jadi Taman Satwa Terbesar se-Asia

Jateng Park Akan Jadi Taman Satwa Terbesar se-Asia


Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah akhirnya menyerahkan proyek pembangunan Taman Satwa Jateng Park di Hutan Penggaron, Kabupaten Semarang kepada Kementrian Kehutanan. Hal ini karena dana yang dibutuhkan sangat besar, yakni mencapai Rp 2 triliun

Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo menyatakan, sekarang proyek itu telah resmi diambil alih oleh Kemenhut. Jateng Park yang akan dibangun pada lahan seluasa 500 hektar itu akan menjadi taman satwa terbesar di Asia. "Sudah diambil alih menhut, yang mencari investor juga beliau, yang mengorganisir dana juga beliau, kami hanya kanggonan saja dengan lahan milik Perhutani. Saya tidak mampu untuk mencari dana segitu besar, targetnya 1-2 triliun," katanya, Jumat (1/6).

Bibit menjelaskan, Jateng Park membutuhkan dana sangat besar, yakni antara Rp 1 triliun dan Rp 2 triliun. Oleh karena itu investor yang ditunjuk nanti tidak sembarangan. Investor itu harus mampu menjamin bisa menggarap proyek yang akan menjadi kebanggaan rakyat Jateng bahkan Indonesia. "Saya bangga dan senang mudah-mudahan segera terelaisir. Semoga sebelum 2014 sebelum bubarnya Kabinet Indonesia Bersatu II barangnya (Jateng Park-red) sudah selesai," tandasnya.

Sementara mengenai kesempatan PT Botan Rahardjo Properindo untuk menjadi investor pembangunan Jateng Park menurut Bibit  sudah ditolak oleh Menteri Kehutanan. Menhut telah memberikan klarifikasi bahwa dengan modal sebesar Rp 90 miliar yang dimiliki oleh PT Botan tak akan cukup untuk membangun proyek besar tersebut.


http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2012/06/01/120075/Jateng-Park-Taman-Satwa-Terbesar-se-Asia

Melambungkan Devisa Melalui Ekowisata

Melambungkan Devisa Melalui Ekowisata


Ekowisata telah berkembang sebagai salah satu industri pariwisata yang potensial untuk meningkatkan penerimaan devisa negara, terutama pada dasawarsa terakhir ini. Hampir 10% jumlah pekerja di dunia, bekerja di sektor pariwisata dan tidak kurang dari 11% Groos Domestic Product (GDP) seluruh dunia berasal dari sektor ini.
 
Di Indonesia, ekowisata telah menyumbangkan devisa sebesar Rp. 80 triliun pada tahun 2008 dengan jumlah wisatawan mancanegara sebanyak 6,5 juta orang. Penerimaan tersebut meningkat 33% dari tahun 2007 (Rp.60 triliun), dimana jumlah wisatawan mancanegara yang datang ke indonesia sebesar 5 juta orang.
 
Indonesia memiliki potensi keindahan dan ke?kayaan alam yang bernilai tinggi da?lam pasar industri wisata alam, khususnya ekowisata. Sebagai bentuk wisata yang sedang trend, ekowisata mempunyai kekhususan tersendiri yaitu mengedepankan konservasi lingkungan, pendidikan lingkungan, kesejahteraan penduduk lokal dan menghargai budaya lokal.
 
Taman nasional sebagai kawasan pelestarian alam yang memiliki potensi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya yang melimpah menjadi salah satu bagian pengembangan ekowisata. Taman nasional yang menawarkan wisata ekologis banyak diminati wisatawan, hal ini karena adanya pergeseran paradigma kepariwisataan internasional dari bentuk pariwisata masal (mass tourism) ke wisata minat khusus yaitu ekowisata.
 
Pertumbuhan ekowisata yang diduga lebih pesat dari wisata lainnya, terutama selama beberapa tahun terakhir ini membuat promosi ekowisata menjadi penting,  karena negara yang tidak mempromosikan atraksi alamnya kemungkinan besar akan kehilangan kesempatan dalam pasar ekowisata yang terus tumbuh.
 
Indonesia mempunyai 530 unit Kawasan Konservasi yang terdiri dari 245 unit Cagar Alam, 77 unit Suaka Margasatwa, 50 unit Taman Nasional, 123 unit Taman Wisata Alam, 21 unit Taman Hutan Raya dan 14 unit Taman Buru.
 
Berdasarkan laporan World Travel Tourism Council (WTTC) tahun 2000, pertumbuhan  rata-rata ekowisata sebesar 10% per tahun. Angka tersebut lebih tinggi dibanding pertumbuhan rata-rata per tahun untuk pariwisata pada umumnya yaitu sebesar 4,6% per tahun.


http://apindonesia.com/new/index.php?option=com_content&task=view&id=3131&Itemid=65