Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan

Istiqomah Berdakwah

Istiqomah Berdakwah


Kami mengenalnya sebagai seorang juru dakwah. Sering dia diminta untuk memberi wejangan agama.

Namun, beberapa tahun terakhir ia meninggalkan gelanggang dakwah dan bergabung dengan partai politik lalu masuk di parlemen.

Kesehariannya kini lebih sering menenteng gadget, seperti iPad dan HP di tas mininya. Mungkin sebagai pengganti tasbih yang dulu biasa diputar sambil berzikir.

Biasanya, sebelum azan, wajahnya selalu tampak basah oleh air wudhu dan sudah bersiap di belakang mihrab. Kini, walau azan sudah berkumandang, beliau terlihat masih sibuk menyalami relasi dan kolega politik. Majelis-majelis ilmu dan mimbar-mimbar dakwah yang dulu membesarkan namanya, kini terlihat hanya seperti hiasan.

Kita pasti mengelus dada. Sangat disayangkan jika akhirnya beliau benar-benar meninggalkan harakah dakwah. Semoga saja, sahabat kita ini kembali berjuang menegakkan kebenaran dan Islam.

Tulisan ini tentu bukan ajakan untuk meninggalkan gedung parlemen atau melepas kursi kementerian. Tidak sama sekali. Ini hanya sekadar seruan moral untuk istiqamah dalam dakwah.

Masih terekam dalam ingatan kami, ketika beliau berpamitan. “Semoga posisi ini memudahkan langkah dakwah kita, narju bidu'aikum (mohon doa) ya ustaz,” ucapnya.

Sejujurnya ingatan ini hanya menambah gerusan hati saja karena kenyataan justru lebih tampak bukan sebagai batu loncatan dakwah yang memudahkan tapi menjatuhkan.

Peran juru dakwah yang “berubah” ini pastinya bukan hanya pada diri beliau, tapi telah membiak di negeri ini. Dulu kita mengenalnya sebagai ustaz, guru agama, penceramah, dai, punya pondok pesantren, dan sebagainya. Akan tapi, setelah masuk wilayah kekuasaan, peran itu berubah.

Kita sudah sering mendengar banyaknya pejabat yang masuk 'hotel prodeo'. Tak hanya politisi, tapi juga sosok yang selama ini dikenal alim. Sering juga kita dengar, ada banyak sekali pesantren tutup, karena para santrinya tidak lagi terurus. Karena pengasuhnya jarang pulang dan tak sempat mengajar. Majelis-majelis taklim berhenti, karena ustaz atau ustazahnya sedang ke luar kota.

Atas keadaan inilah, rasanya penting melihat lagi risalah istiqamah dalam dakwah. Tidak mengapa berganti “baju”. Dengan lebih “bergaya”, seharusnya daya jelajah dakwah lebih kuat dan menghunjam.

Rasanya menjadi luar biasa jika manusia-manusia Muslim parlemen atau para petinggi kekuasaan, sesaat sebelum terdengar suara azan, pimpinan sidang meminta penghentian sidang untuk bersama melaksanakan shalat berjamaah. Indahnya pemandangan itu.

Jika sudah demikian, benarlah keadaan mereka. Silakan rebut dunia, raih kedudukan, tapi jangan tinggalkan umat dan akhirat. Jadikan kursi dan meja sidang sebagai mushala. Jadikan persidangan dan lobi-lobi sebagai mimbar dakwah.

Saudaraku, tetaplah bersahaja, apa adanya. Amalan kebaikan yang sebelumnya hidup, hidupkan kembali. Sungguh, buah istiqamah itu akan menanti kita. Orang yang istiqamah dalam dakwah sebenarnya sedang meniti jalan surga.

Mereka akan selalu dikawal dan dihibur para malaikat. Dan Allah beserta para makhluk-Nya, akan turut membantu setiap urusan mereka, baik dunia maupun akhirat. (QS Fushilat [41]: 30). Wallahu a'lam.


http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/12/11/15/mdj9sc-istiqamah-berdakwah

Hargai Pendidikan, Belajarlah dari Malala

Hargai Pendidikan, Belajarlah dari Malala

 
Malala Yousufzai
 
Kenalkah anda dengan nama di atas? Saya tidak akan heran jika anda belum mengenal nama tersebut. Saya pun mungkin tidak akan tahu siapa Malala dan bagaimana kisahnya jika tidak membaca twit dari seseorang yang saya follow di twitter beberapa waktu lalu. Saya lalu mencari tahu lebih banyak tentang Malala melalui mesin pencari di internet, dan menemukan banyak sekali informasi mengenai gadis ini.

Militan Pakistan Tembak Aktivis Remaja Putri Pakistan. Pada tanggal 9 Oktober kemarin, Malala ditembak oleh seseorang bertopeng pada saat pulang sekolah dengan menggunakan bus. Si penyerang menanyakan siapakah diantara para siswa yang bernama Malala dan mengancam akan menembak semua siswa jika tidak ada yang mengaku. Akhirnya Malala mendapat tembakan di kepala dan di leher, sementara dua siswa lain ikut terluka akibat penembakan tersebut. Mengapa Malala ditembak?

Ternyata Malala bukan gadis biasa. Sejak tahun 2009 ia telah memulai pergerakan untuk menuntut haknya yang paling dasar: pendidikan. Pada saat itu, milisi Taliban mengeluarkan peraturan yang melarang televisi, musik, pendidikan bagi anak perempuan, dan berbelanja bagi wanita. Akibat perintah tersebut, banyak sekolah khusus perempuan yang ditutup. Beberapa sekolah yang ditutup bahkan kemudian dihancurkan. Malala mempertanyakan hal ini. Dengan bantuan reporter BBC untuk Pakistan, Malala mulai menulis tentang hidup dibawah tekanan Taliban dengan menggunakan nama samaran "Gul Makai". Tulisan Malala inilah yang pertama kali membuatnya banyak dikenal.

Ia tidak berhenti hanya pada tulisan. Ia kemudian mulai muncul di televisi untuk memperjuangkan pendidikan bagi perempuan. Selain itu, ia juga aktif berpartisipasi pada kegiatan-kegiatan yang mendukung pendidikan di negaranya. Pada puncaknya, ia dinominasikan sebagai penerima International Children's Peace Prize pada Oktober 2011.

Taliban secara terbuka mengklaim serangan tersebut merupakan perbuatan mereka. Malala dicap sebagai pro-Barat, yang maka dari itu harus dibunuh.

Aktivis Remaja Putri Pakistan yang Terluka Dikirim ke Inggris. Saat ini Malala sedang memperoleh perawatan di Inggris, dan dikabarkan kondisinya semakin membaik. Sedangkan di Pakistan sendiri, dukungan bagi remaja pakistan terus mengalir, namun Taliban masih ditakuti. Masyarakat turun ke jalan memprotes penembakan Malala, tapi para politikus tidak berani mengambil langkah lebih jauh karena takut menjadi sasaran Taliban yang berikutnya.

Terlepas dari kondisi politik dan kebijakan nasional Pakistan yang menjadi negara tempat Malala tumbuh, kisah Malala seharusnya dapat mengingatkan kita pada satu hal: Pendidikan itu harganya "mahal".

Bagi sebagian kita yang dapat mengakses pendidikan dengan mudahnya tidak pernah menyadari bahwa pendidikan itu mahal. Dan "mahal" bukanlah semata-mata tentang angka. Mahal dapat berarti sulitnya mencapai sekolah jauh dari rumah. Mahal dapat berarti jembatan yang hampir putus yang harus diseberangi saat ke sekolah. Mahal dapat berarti seragam yang tidak dapat dibeli oleh orang tua. Mahal dapat berarti tidak ada guru datang ke sekolah. Mahal dapat berarti tidak ada pendidikan sama sekali untuk perempuan. Mahal dapat berarti hak mu untuk mendapatkan pendidikan tidak bisa kau miliki. Pendidikan itu mahal.

Maka bersyukurlah saat perjalananmu ke sekolah mudah dan tanpa hambatan. Bersyukurlah jika satu-satunya yang harus kau khawatirkan saat ke sekolah adalah mungkin kau akan akan terlambat. Bersyukurlah saat gurumu masih mau berbagi ilmunya walaupun ia galak. Bersyukurlah kau bisa ke sekolah tidak peduli gender mu apa. Karena di belahan bumi yang lain, ada yang benar-benar memperjuangkan hak mereka untuk memperoleh pendidikan. Malala Yousufzai memperjuangkan hak untuk memperoleh pendidikan dan ia ditembak karena perjuangannya tersebut.

Pendidikan adalah salah satu hak dasar yang wajib dijamin terpenuhinya oleh pemerintah. Rights to a Free Education adalah salah satu hak dasar yang merupakan turunan dari HAM generasi kedua yang diperkuat dengan International Covenant on Economic, Social, and Cultural Rights. Sudah sepantasnya lah negara menjamin hak untuk memperoleh pendidikan diperoleh oleh warganya.

Jika dibandingkan dengan Indonesia, sudah sewajarnya jika kita bersyukur bahwa negara membuka pintu bagi masyarakat untuk memperoleh pendidikan. Tapi bukan berarti kita tidak memiliki pekerjaan rumah di bidang pendidikan. Hal yang menjadi perhatian besar pada pendidikan Indonesia saat ini adalah tawuran antar pelajar. Sungguh memalukan jika pelajar kita masih melakukan tawuran yang pada akhirnya memakan korban.

 Bukankah ini sebuah ironi? Di saat seorang Malala hampir saja terbunuh karena berani menyuarakan tuntutannya untuk memperoleh pendidikan, pelajar Indonesia malah menyerang sesamanya hanya karena berbeda sekolah. Mungkin sebaiknya kisah tentang Malala ini disebarluaskan di kalangan pelajar, agar menjadi pelajaran bahwa bagi sebagian orang, pendidikan itu tidak murah. Maka berhentilah memerangi sesama dan bersyukurlah kita tidak memperoleh dua butir peluru hanya karena ingin sekolah. 


http://kyosotoy.blogspot.com/2012/10/mensyukuri-pendidikan-belajarlah-dari.html

Taat pada Pemimpin

Taat pada Pemimpin


Allah SWT menciptakan makhluk dan memberinya kecenderungan sosial dan fitrah dasar agar saling memiliki keterikatan di antara mereka.

Atas dasar kecenderungan dan fitrah tersebut, manusia tidak dapat "hidup" kecuali dengan berkelompok agar kebutuhan dan kepentingan mereka saling terlindungi, terselamatkan, saling bantu dalam kebaikan dan bekerjasama dalam menciptakan kepentingan bersama/umum.

Atas dasar itu pula, Allah SWT memerintahkan manusia untuk taat kepada pemimpin yang telah dipilih di antara mereka.

Hal tersebut karena jika manusia tidak memiliki ikatan atau aturan (rabithah) kepemimpinan dalam suatu kelompok sebagai pedoman dan kesepakatan bersama, maka kepentingan umum tidak akan terealisasi dengan baik dan tidaklah ada bedanya sifat manusia dengan binatang.

Allah SWT menciptakan manusia, menangguhkan balasan dosa besar umat Muhammad SAW, dan memuliakannya di atas makhluk-makhluk lainnya. Pemuliaan tersebut nyata dengan penganugerahan akal yang berfungsi sebagai pembeda antara kebaikan dan keburukan, kebenaran dan kesalahan serta manfaat dan bahaya.

Allah SWT bahkan menambah anugerah akal itu dengan luapan kasih sayang-Nya yang tak terbatas melalui pengutusan para rasul dan Alquran. Allah memerintahkan kepada manusia: “Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), serta Ulil Amri (pemimpin/pemegang kekuasaan) di antara kamu.” (QS. An-Nisa': 59).

Mengapa Allah memerintahkan kita taat kepada pemimpin? Kalau taat kepada Allah dan Rasul-Nya sudah jelas, karena Rasullah yang menyampaikan pesan-pesan (risalah) Allah. Adapun pemimpin, apa gerangan alasan kita untuk taat?

Tidak lain karena ketaatan kita kepada pemimpin memiliki arti kemanusiaan dan sekaligus ketuhanan; kebahagiaan dan persatuan; keselamatan dan kebersamaan; kerjasama dan persaudaraan, serta keteraturan dan ketaatan.

Sementara menentang pemimpin berarti perpecahan, penyempalan, pembolehan larangan, pertumpahan darah, penghalalan yang haram, bagaikan binatang ternak tanpa penggembala atau berjalan tanpa petunjuk.

Tentu ketaatan kepada pemimpin bukan berarti taat tanpa reserve dan sikap kritis karena Allah SWT melarang manusia taat kepada pemimpin dalam melanggar perintah-Nya. Pemimpin tidak lain merupakan representasi wakil Allah dalam urusan duniawi agar visi memakmurkan bumi dan penduduknya dapat dilakukan melalui sistem yang teratur, tertib, berkeadilan dan ketaatan.

Maka pemimpin dengan segala nilai kekurangan dan kelebihannya harus didukung karena sejalan dengan sabda Rasulullah SAW, “Barang siapa taat kepadaku, maka sungguh ia telah taat kepada Allah. Dan barang siapa taat (kepada) pimpinan, maka berarti telah taat kepadaku.” (HR. Muslim).

Pengaitan ketaatan kepada pemimpin dengan ketaatan kepada Allah dan Rasulnya sebagaimana disebutkan di dalam hadis tersebut mengandung rahasia kepentingan dan kemaslahatan bersama. Lebih dari dari itu, Allah SWT memerintahkan manusia bersatu dan melarang bercerai berai.  (QS. Ali Imran: 103).

Bukankah srigala hanya akan memangsa kambing yang memisahkan diri? Demikianlah kiranya jika manusia tidak bersatu, maka akan mudah dihancurkan oleh lawan. Dan bukankah perselisihan di dalam sejarahnya telah banyak memakan korban dan mengakibatkan bencana yang menimpa umat manusia, disamping memperlambat laju kemajuan serta kemakmuran. Wallahu a'lam.

Dr Muhammad Hariyadi, MA


http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/12/10/06/mbgwnk-taat-kepada-pemimpin

Membatik untuk Pecahkan Rekor MURI dan Rekor Dunia

Membatik untuk Pecahkan Rekor MURI dan Rekor Dunia


Ratusan siswa, guru, dan staf SMP Stella Duce 1 (Stece) Yogyakarta bersorak di ruang aula sekolah tersebut, Selasa  (2/10/2012) pagi. Beberapa di antara mereka juga melakukan tos, saling berjabat tangan, bahkan ada pula yang matanya berkaca-kaca.

APA yang mereka lakukan  bukan tanpa alasan. Seluruh siswa, guru dan staf sekolah yang berlokasi di Jalan Dagen No 32,  Kota Yogyakarta, tersebut sangat gembira karena sekolah mereka resmi mencatatkan diri pada Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai Sekolah Pelopor Pengguna Batik Karya Sendiri, saat peringatan Hari Batik Nasional, Selasa (2/10).

Lebih dari itu, prestasi yang ditorehkan SMP Stece juga sekaligus tercatat sebagai rekor dunia. Hal itu lantaran apa yang dilakukan para siswa dan segenap warga sekolah itu terbilang unik, dan tak pernah ada kegiatan sejenis sebelumnya.

"Prestasi ini terbilang unik dan beda, di mana para siswa membatik dan karyanya dipakai sendiri menjadi seragam sekolah. Jadi memang layak dicatat sebagai rekor, dan kami di MURI menyampaikan bahwa ini tercatat sebagai rekor dunia," puji Manajer MURI, Sri Widayati.

Tradisi membatik di sekolah itu dimulai sejak 1985, dan kini menjadi bagian pendidikan di sekolah tersebut.  Kepala Sekolah SMP Stella Duce 1, Listyawati Sri Nugrahaningsih, menjelaskan, pelestarian tradisi membatik merupakan bagian dari pendidikan karakter para murid, yang dilatih agar menghargai sebuah proses serta menghargai budaya Indonesia.

Para murid pun menjalani setiap proses dalam membatik. Biasanya mereka menyelesaikan setiap helai kain batik berukuran 1,5 hingga dua meter dalam waktu sekitar dua bulan. Kain yang mereka hasilkan pun dijahit menjadi seragam, yang kemudian mereka pakai setiap hari Jumat.

Widayati secara pribadi menyampaikan kekagumannya dengan kegiatan yang dilakukan siswa-siswi SMP Stece. Menurutnya, kreativitas yang ditorehkan para siswa itu memang layak mendapat apresiasi yang tinggi.

"Yang lebih luar biasa, kegiatan membatik ini dilakukan oleh anak-anak yang memang sebagai calon penerus bangsa. Jadi, mereka bisa sekaligus melestarikan warisan budaya asli Indonesia ini," tambah Widayati.

Pujian serupa dilontarkan Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Provinsi DIY, Baskara Aji, yang hadir di sekolah tersebut. Bahkan, ia pun berencana untuk menyosialisasikan kegiatan itu ke seluruh sekolah yang ada di wilayah DIY.

Menurut Aji, prestasi SMP Stece bisa menjadi inspirasi sekolah-sekolah lain. Sebagai salah satu sentra batik di Indonesia, sudah selayaknya semua kalangan di Yogyakarta, khususnya pendidikan, peduli dalam upaya pelestarian batik "Saya akan sampaikan dan meminta seluruh sekolah di DIY untuk melaksanakan kegiatan serupa, karena (batik) ini adalah budaya asli kita yang harus dilestarikan," tegasnya.

Baskara Aji pun mewacanakan agar seluruh siswa di DIY mampu dan memiliki kemampuan membatik. Kalau perlu, lanjut dia, sekolah diminta mengeluarkan sertifikat kemampuan membatik bagi semua lulusannya.

"Ini bisa menjadi inspirasi bagi seluruh kalangan pendidik untuk menyebarkan semangat membatik pada para siswa," sambungnya.   

Sedangkan Ketua Komite SMP Stece Yogyakarta, GBPH Prabukusumo, menuturkan, gagasan membatik para siswa dan menjadikan batik karya mereka ebagai seragam sekolah merupakan satu cara untuk melestarikan budaya. Dengan kegiatan tersebut, menurutnya, siswa akan memiliki kecintaan lebih karena karya mereka dihargai.

"Inilah yang terus kami kembangkan, agar anak-anak kita bisa lebih menghargai dan melestarikan batik yang memang budaya asli bangsa ini," kata Prabukusumo, yang juga adik Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengkubuwono X.

Adapun MURI memberikan tiga penghargaan sekaligus.  Pertama, kepada GBPH Prabukusumo sebagai pemrakarsa kegiatan membatik; kedua, untuk Yayasan Tarakanita sebagai pendukung kegiatan; dan ketiga, bagi  SMP Stella Duce 1 sebagai pelaksana kegiatan. 


http://jogja.tribunnews.com/2012/10/03/smp-stella-duce-1-membatik-untuk-pecahkan-rekor-muri-dan-rekor-dunia

Bersyukur Meski Masih Single

Bersyukur Meski Masih Single


SELURUH pengalaman kencan berujung pada kegagalan. Anda tak perlu risau meskipun belum menemukan pendamping hidup alias single.

Kencan gagal membuat Anda berpikir banyak menghabiskan waktu dalam hidup. Ada baiknya Anda membuang jauh-jauh pikiran tersebut. Akan lebih baik bila Anda mensyukuri kondisi itu dengan cara:

Tetap berpikir positif
Memang lebih sulit dipraktekkan, terutama ketika dihadapkan dengan penolakan dan kekecewaan. Namun ingatlah untuk berpikiran positif. Sangat penting bertindak percaya diri dan bahagia. Cara ini termudah untuk menarik orang.

Meletakkan sesuatu dalam perspektif
Sesuatu yang tak sesuai rencana bukanlah akhir dari segalanya. Tetaplah untuk mengadopsi sikap positif bahwa suatu hari Anda akan menemukan orang yang tepat dan bertanggung jawab.

Penting mencintai diri sendiri
Merasa baik tentang diri sendiri bukan hanya tentang mengenakan pakaian tepat dan memakai makeup. Kualitas diri akan meningkat bila Anda merasa senang, aman, dan percaya diri.


http://www.metrotvnews.com/read/news/2012/09/27/107679/Tetap-Bersyukur-Meski-Masih-Single/11

Mari Menyebarkan Salam

Mari Menyebarkan Salam


Setiap hari kita mengucapkan kalimat basmalah dan salam. Tidak terhitung jumlahnya. Pertanyaannya, apakah betul salam tadi keluar dari hati dan pikiran yang penuh dengan salam dan damai. Ibarat hati itu bagaikan cawan atau mangkok, tidak akan mengalirkan vibrasi damai jika isinya tidak dipenuhi dengan rasa dan energi damai. Jika ini yang terjadi, sekalipun setiap hari kita mengucapkan basmalah dan mengucapkan salam, yang menerima juga tak akan merasakan getaran damai yang keluar dari lisan kita karena hati kita memang kosong dari energi damai.

Ketika seorang mukmin berdzikir pada Allah dan melaksanakan ibadah puasa, sesungguhnya tengah berupaya untuk menghubungkan hati dan pikiran agar tersambung dengan Allah yang maha kasih dan sayang, sehingga dia menjadi agen atau transmitter energy kasih ilahi untuk diteruskan pada sesama manusia dan lingkungannya. Dengan demikian, ucapan dzikir tidak menjamin seseorang berdzikir jika hati dan pikirannya tidak menjadi subyek yang aktif yang berdzikir. Orang yang dengan kencang mengucapkan salam dengan alat bantu pengeras suara tidak akan mendatangkan salam jika dilakukan dengan salah dan tidak keluar dari hati terdalam.

Islam yang mengajarkan salam dan kasih sayang tidak berarti lemah, karena pada saat-saat tertentu Islam juga mengajarkan sikap tegas. Ibarat seorang dokter yang melakukan amputasi atau operasi terhadap pasien tidak berarti dia bertindak kejam, melainkan bersikap tegas karena didorong kasih sayang terhadap pasiennya agar penyakitnya tidak menular. Demikianlah, pada dasarnya Islam mengajarkan persaudaraan, kasih sayang dan perdamaian terhadap sesama saudara sebagai-sama hamba Allah, namun mesti bersikap tegas pada siapapun yang merusak ketenteraman sosial dan martabat manusia. Itulah sebabnya Islam sangat sejalan dan mendukung penegakan hukum secara adil dan tegas terhadap koruptor karena apa yang dilakukan merusak kesehatan tubuh masyarakat.

Kalaupun dalam sejarahnya Rasulullah terlibat sekian banyak peperangan, itu sama sekali salah jika diartikan Nabi Muhammad mencintai peperangan. Itu terpaksa dilakukan sebagai upaya pembelaan diri dan menjaga benih ajaran Islam yang masih sangat baru dan dihadang berbagai musuh yang hendak menghancurkannnya. Dengan terpaksa musuh-musuh itu mesti dihadapi dengan perang dan pertumpahan darah. Namun Islam sendiri sangat tidak mengannjurkan kekerasan, melainkan justeru menyuruh menegakkan persaudaraan dan perdamaian.

Fenomena ini sesungguhnya mirip dengan sejarah perjuangan berdirinya Republik Indonesia. Dulu pihak penjajah menghalangi jangan sampai bangsa ini merdeka. Maka tampilah para pejuang dengan melakukan perlawanan bersenjata. Terjadi konflik bersenjata di mana-mana. Namun satu hal yang pasti, republik ini didirikan bukan sebagai institusi mesin perang. Perang terpaksa dilakukan untuk menjaga diri ketika terdapat agressi dari luar. Bahkan sebisa mungkin berbagai konflik yang mungkin terjadi bisa diselesaikan dengan jalan diplomasi damai.

Begitupun halnya dengan semangat ajaran Islam. Hanya saja ketika identitas dan agenda umat Islam terkait dengan perjuangan etnis atau kelompok kepentingan yang kebetulan beragama Islam, tak bisa dielakkan konflik dan perang bernuansa agama akan muncul. Jadi, kalau saja konflik itu terjadi di India, maka yang akan muncul tentu nuansa agama Hindu. Kalau di Eropa, nuansa agama Kristen juga akan terbawa. Demikianlah seterusnya, faktor demografis akan selalu menyertai dinamika keagamaan.        

Komaruddin Hidayat, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta.


http://www.metrotvnews.com/read/analisdetail/2012/09/27/288/Mari-Menyebarkan-Salam

Resep Jadi Inovator Andal

Resep Jadi Inovator Andal


Membuat sebuah inovasi saja, itu hal yang tergolong mudah. Namun, membuat sebuah inovasi yang menjawab permasalahan banyak orang, sekaligus meraup keuntungan dari penjualan produk inovasi, tak banyak yang bisa melakukannya.

Joshua Simanjuntak, salah satu juri Black Innovation Awards 2012 (BIA 2012) berbagi resep bagaimana menjadi inovator andal. Ia mengungkapkan, inovasi yang baik hanya bisa dihasilkan bila inovator memahami produk sehingga mengetahui dengan pasti permasalahannya.

"Jadi, berusahalah mengenal produk yang akan didesain. Kita bisa saja hanya berkarya dan berfantasi, tetapi apakah kita mengenal produk tersebut," katanya saat ditemui Kompas.com sebelum BIA 2012 Awarding Night, Sabtu (29/9/2012).

Joshua mengungkapkan, salah satu yang harus dikenali sebelum mendesain adalah material. Menurutnya, banyak inovator belum menguasai pemilihan material sehingga produk yang dibuat tidak berfungsi seperti desainnya.

Terkait inovasi peserta BIA 2012, Joshua mengungkapkan bahwa desain dan pemilihan material sudah lebih baik. Banyak inovasi juga berpeluang mendapatkan paten ataupun paten sederhana. Namun, ia masih melihat beberapa kekurangan.

"Banyak dari peserta yang melihat permasalahan dari satu sisi yang sangat spesifik. Saya sebagai juri sebenarnya mengharapkan produk-produk yang bisa semua orang pakai," kata Joshua yang pernah menjadi desainer di Tom Dixon, Inggris.

Joshua menuturkan, dalam berinovasi, inovator perlu melihat masalah yang lebih luas sehingga produk yang dihasilkan benar-benar bisa dipakai banyak orang. "Seharusnya inovasi lebih general, berkaitan dengan masalah banyak orang," paparnya.

Lebih lanjut, untuk mewujudkan inovasi menjadi uang, Joshua mengungkapkan perlunya inovator memiliki mental pengusaha. Setelah inovasi jadi, inovator perlu mematenkan dan berani memproduksi sendiri atau bekerja sama dengan wirausahawan.

"Inovator melihat masalah orang banyak dan berupaya memikirkan solusinya. Tapi kalau solusinya hanya ada di gudang, apa gunanya inovasi?" katanya. 


http://sains.kompas.com/read/2012/10/01/1738546/Ini.Resep.Jadi.Inovator.Andal